Anna keluar dari mobil sedannya dan berjalan menuju pintu utama dirumahnya.
Sepi
Itulah yang ia rasakan hampir 3 tahun ini. Tak ada lagi yang menyambutnya ketika ia pulang sekolah, mendengar celotehannya tentang kegiatannya di sekolah, semuanya lenyap. Terakhir ia mendapatkan perhatian seperti itu 3 tahun lalu. Mamanya sedang pergi ke luar kota bersama papanya, Bryan sang kakak juga sedang kuliah. Baru selangkah ia melangkah, terdengar suara laki-laki.
"Sudah pulang, Anna?" Anna menoleh dan mendapati salah satu sepupunya, Nicholas Agler.
"Sudah, memangnya aku tak boleh pulang?" Tanya Anna sinis.
"Boleh. Ini rumahmu, kan? Jadi aku tak ada hak untuk melatangmu pulang ke sini" jawab Nicholas ramah.
"Kau tak usah memakai topengmu lagi, Nick. Aku sudah tahu semuanya" ujar Anna dan meninggalkan Nicholas yang awalnya bingung, kemudian membatu.
*****
Malam pun tiba. Anna keluar dari kamarnya menuju meja makan. Sebenarnya Anna sangat malas berada di meja makan, tapi mau bagaimana lagi? Ia juga malas keluar malam hanya untuk mencari makanan. Sesampainya ditempat tujuam, ia sudah melihat keluarganya duduk dengan tenang dan mulai menyantap makanan tanpa menunggu dirinya. Anna hanya menghela nafasnya dan duduk dikursi yang kosong, disamping kakaknya, Bryan.
"Kau ingin apa, Anna?" Tanya Bryan dengan senyum hangatnya.
"Seperti biasa, kak" jawab Anna datar. Bryan pun mengambil makanan untuk adiknya. Yang lain tak memerdulikan mereka dan melanjutkan makan. Bryan meringis dan menggengam erat tangan kiri adiknya. Anna membalas pegangan tangan kakaknya dan mulai memakan makanan yang diambil kakaknya dengan diam. Sungguh, ia ingin menangis. Namun airmatanya tak ingin keluar, seolah mengatakan untuk apa kau menangisi mereka yang tak peduli denganmu? Acara makan malam itu hanya diisi dentangan sendok tanpa adanya suara.
Hening
Tapi duniaku lebih hening dibandingkan ini. Batin Anna. Sekitar 15 menit, Anna sudah selesai makan dan kembali ke kamarnya tanpa suara. Yang lain -selain kakaknya- tak menoleh sedikitpun, seolah Anna memang tak ada disana. Bryan yang merasa iba pada adiknya mengakhiri kegiatannya.
"Kakek, aku duluan. Ada yang harus aku kerjakan" pamit Bryan pada seorang pria paruh baya diujung meja.
"Bukan ingin mengejar dia?" Tanya kakek tanpa menoleh pada Bryan. Bryan mengepalkan tangannya dan berusaha menahan amarahnya melihat kakeknya seakan tak sudi memanggil nama adiknya. Namun ia tak bisa melawan.
"Aku memang ingin mengerjakan tugas, Kek. Permisi" pamit Bryan sedikit tersenyum dan berlalu begitu saja.
*****
Sesampainya di kamar, Anna langsung menuju balkon dan menghirup udara dingin. Gila? Anna terkekeh pelan.
Dunianya lebih gila dibandingkan hanya menghirup udara dingin. Batinnya. Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka dan muncul Bryan. Bryan berjalan dan berdiri disamping adiknya.
"Apa ada masalah, sist?" Tanyanya. Anna kembali terkekeh, namun siapapun tahu dibalik itu terdapat sebuah kesedihan yang mendalam.
"Bukankah hidupku penuh dengan masalah, Kak?" Bryan tertohok mendengar pertanyaan yang dilontarkan adiknya. Memang, memang benar yang dikatakan Anna. Ia tak memiliki masalah diluar, tapi masalahnya terletak didalam keluarganya.
"Aku sudah mengetahui sifat busuk Nick" ujar Anna. Kernyitan di dahi Bryan langsung tercetak.
"Nick? Bukankah dia baik padamu?" Kembali kekehan dari Anna terdengar. Tatapannya pun menengadah menatap bintang dilangit.
"Aku sudah tahu semuanya. Ia sama seperti yang lainnya, busuk"
"Kakak tidak mengerti. Apa mak-"
"Sudahlah, Kak. Kakak keluar saja, aku mau belajar" pinta Anna memotong ucapan kakaknya.
"Nope. Kakak ingin disini"
"Keluarlah, Kak Bryan. Aku tak akan bunuh diri sebelum melakukan sesuatu pada mereka" pinta Anna sekali lagi. Bryan menggeleng dan memeluk adiknya. Ia tak mengerti jalan pikiran keluarganya mengapa mereka tega mengasingkan salah satu darah daging mereka.
"Katakan apa yang ada dipikiranmu, adikku" bisik Bryan.
"Apakah salah jika aku yang berasal dari jurusan IPA mengambil jurusan hukum ketika aku kuliah kelak?" Tanya Anna melenceng dari apa yang diharapkan Bryan. Bryan mengernyit dan menguraikan pelukannya.
"Salah? Tentu tidak. Siapapun berhak memasuki jurusan hukum. Memangnya kenapa?" Anna tersenyum misterius dan mendorong tubuh tegap kakaknya keluar dari kamarnya.
"Kelak kau akan tahu, brother" jawab Anna dan menutup pintu, tak lupa mengunci pintu kamarnya. Ia menghela nafasnya dan mengambil ponsel diatas meja nakasnya. Ia pun mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada seseorang.
Aku sudah tau kebusukanmu. Kau bermuka dua padaku, bukan? Jika kau ingin tahu darimana aku mengetahuinya, datangi aku saat aku ikut lomba di sekolah yang kalian banggakan. Dan oh, aku punya berita lain yang akan menggemparkan keluarga Adrian.
Anna tersenyum dingin dan meletakkan ponselnya kembali tanpa mengharapkan balasan dari orang itu. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
Voment please!
KAMU SEDANG MEMBACA
What's wrong with me?
Fiksi UmumCerita #1 Broken home -Anggiana Georgiana Adrian a.k.a Aleen Cheveryl Azryl- "Perbedaanku membuat semua keluargaku menjauhiku. Hanya Mama dan kak Bryan yang berada di sisiku ketika mereka mengabaikanku. Mereka menjauhiku hanya karena aku berbeda. Sa...
