37

947 47 0
                                        

Aleen merasakan terpaan cahaya matahari pagi mengenai wajah cantiknya. Ia membuka kelopak matanya dan mata birunya itu melihat sebuah interior ruangan. Setelah mengucek matanya berkali-kali baru ia menyadari kalau ia sudah tidak berada di dalam pesawat. Ia ingin bangkit namun ada sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya.

Aluna tersenyum kecil dan kembali berbaring sambil menatap wajah yang sudah mengisi harinya selama 3 tahun ini. Ia juga mengusap wajah itu dengan pelan agar si empunya wajah tidak terbangun. Hingga akhirnya jari lentiknya mendarat pada sudut bibir orang itu.

“Kau menggodaku dipagi hari, Sayang” bisik orang itu dengan suara serak. Aleen tersenyum dan menjauhkan jarinya dari bibir seksi itu.

“Pagi, my husband” sapa Aleen pelan. Mata orang itu terbuka dan mata hazel itu menatap Aleen penuh cinta.

“Pagi juga, my wife” Sean merapatkan tubuh Aleen pada tubuhnya hingga tubuh mereka saling bersentuhan.

“Pukul berapa kita sampai, Sean?” tanya Aleen. Sean tidak menjawabnya langsung karena ia tengah menghirup aroma khas Aleen yang menyeruak dan memasuki indra penciumannya.

“Sean…” pinta Aleen yang tengah menahan geli karena Sean mengecup lehernya.

“Pukul 1 pagi, Sayang. Aku tak tega membangunkanmu jadi aku menggendongmu dari bandara sampai kemari” bisik Sean yang masih asyik mengecup leher Aleen. Aleen yang baru mendapat perlakuan itu pertama kalinya hanya mampu menggelinjang geli. Ia merasakan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Aleen bahkan secara tak sadar telah mengeluarkan suara lenguhan pelan dan membuat Sean menyeringai senang. Sean hanya mampu menahan gejolak hasratnya dari tadi malam karena ia tak tega membangunkan Aleen yang terlihat sangat kelelahan.

Dan pagi ini ia akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan tadi malam.

Setelah mendengar lenguhan Aleen, Sean pun mengambil posisi di atas tubuh Aleen dan menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Aleen yang mungil. Aleen yang merasa posisi mereka berdua cukup intim hanya mampu menahan malunya. Sean mengusap wajah Aleen dengan pelan dan berhenti tepat pada bibirnya. Sean tersenyum sebentar sebelum mencium bibir Aleen dengan pelan. Namun ciuman itu lambat laun berubah menjadi ciuman panas yang mampu membangkitkan hasrat mereka yang selama ini tertahan.

Aleen hanya bisa pasrah karena memang ini adalah hak Sean sebagai suaminya. Jiwa dan raga Aleen memang hanya untuk Sean Gabriel Maddison seorang. Sean melepas pagutan mereka dan menatap mata Aleen yang sudah terselubungi hasrat yang membara.

“May I, Mrs. Maddison?” tanya Sean dengan suara serak. Ia tetap menanyakan kesiapan Aleen walaupun sebenarnya ia sangat menginginkan Aleen.

“I’m all yours, Mr. Maddison” jawab Aleen dengan tatapan sayu. Setelah mendapat izin dari Aleen Sean langsung melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan tadi malam.

Dan untuk pertama kalinya Sean dan Aleen merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa.

*****

Sean terbangun dari tidurnya setelah melakukan percintaan panas dengan Aleen. Ia memperhatikan wajah Aleen yang terlihat damai ketika tidur. Ia sangat sangat senang karena akhirnya ia bisa memiliki Aleen sepenuhnya. Ia mengelus rambut Aleen yang berantakan akibat kegiatan mereka tadi pagi dan merapikan anak rambut Aleen yang berada diwajah sang istri.

“Aku sungguh bahagia bisa memilikimu, Aleen” gumamnya dan mengecup kedua mata Aleen. Aleen hanya mengeliat sebentar dan kembali melanjutkan tidurnya. Sean pun bangkit dan meraih boxernya yang terletak tak jauh dari ranjang mereka. Ia memandang Aleen yang masih terlelap sebelum kakinya membawanya menuju kamar mandi.

What's wrong with me?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang