33

908 53 0
                                        

Semenjak Aleen tahu kalau Angga dan Adrian berencana mengawasi keluarga Maddison dan Azryl ia mengatakan hal itu kepada Jonathan dan Arthur. Keduanya menyetujui usulan Aleen yang meningkatkan keamanan mansion dan tentunya Aleen sendiri. Anna juga ikut andil dalam memantau sekitar mansionnya. Sean juga tidak membiarkan Aleen pergi kemana-mana sendirian. Dimana pun Aleen berada pasti disana juga ada Sean. Kini keduanya tengah berada di salah satu restorang di dekat mansion Azryl.

“Apa ada yang mencurigakan di mansionmu, Sayang?” tanya Aleen. Ia merasa bersalah karena telah membawa 2 keluarga itu ikut ke dalam masalahnya. Sean menggeleng dan menggenggam tangan Aleen lembut.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mereka tidak akan bisa mengungkap jati diri Aleen Cheveryl Azryl dengan mudah karena banyak sekali yang melindungimu. Kau telah melindungi dirimu dengan caramu sendiri, keluarga Azryl dengan cara mereka dan kami mengandalkan Tian. Kau tidak membawa kami ke dalam masalahmu tapi kami yang ingin ikut campur urusanmu. Karena bagaimana pun kau adalah bagian dari 2 keluarga yang sangat menyayangimu. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu lagi” ujar Sean tegas karena belakangan ini Aleen sering melamun. Aleen mengangguk lemah dan menyeruput coklat panasnya.

*****

Tak terasa 6 bulan telah berlalu. Kini musim semi menyapa London. Keluarga Azryl dan Maddison mengadakan pesta akhir tahun di villa keluarga Azryl yang berada di Kanada. Aleen terbangun oleh kicauan burung yang bersenandung ria. Ia merenggangkan tubuhnya dan berjalan ke arah balkon. Ia menikmati pemandangan Kanada di pagi hari dan menghirup udara segar. Tak lama kemudian ia mendengar ketukan pintu.

“Masuk” setelah itu muncul Laura yang tengah tersenyum ke arahnya tanpa disadari Aleen karena ia memandang lurus ke depan. Laura berjalan ke arah Aleen sambil membawakan coklat panas kesukaan putrinya.

“Sayang, kenapa belum turun?” Aleen tersentak karena yang datang adalah sang mommy. Ia menduga kalau Seanlah yang mengetuk pintunya. Aleen tersenyum tipis dan mengambil secangkir coklat panas yang khusus dibawakan oleh Laura.

“Hanya menikmati suasana, Mommy. Aku tak menyangka kalau aku sudah bersama kalian selama hampir 4 tahun. Dan selama itu pula aku merasa… benar-benar hidup” jawabnya sambil meniup coklat panasnya yang masih panas. Laura terdiam sejenak karena ia tak menduga jawaban Aleen tersebut. Ia meraih tangan kiri Aleen dan mengusapnya penuh kasih.

“Mommy sudah pernah berjanji padamu, bukan? Kalau Mommy akan menganggapmu seperti anak kandung Mommy sendiri. Lagi pula Myscha adalah sahabat karib Mommy. Mommy hilang kontak dengannya karena Angga terlalu mengekangnya. Dari awal Mommy tidak menyukai Angga tapi mau bagaimana lagi? Mamamu dijodohkan dan dia tak bisa menolaknya” Aleen menganggukkan kepalanya mengerti dan mengecup pipi Laura.

“Aku menyayangi kalian, Mommy”

“Kami juga sangat menyayangimu, Aleen” mereka berdua menghabiskan pagi hari itu dengan berbincang-bincang. Tak jarang Aleen tertawa mendengar cerita Laura dan begitu pula sebaliknya. Ketika Aleen menghabiskan coklat panasnya ia mengatakan sesuatu yang membuat Laura kaget.

“Sekarang, Sayang? Umurmu baru 20 tahun. Apa kau yakin dengan perkataanmu tadi?” Aleen mengangguk mantap dan menatap langit biru sambil tersenyum.

“Aku sangat yakin, Mommy. Karena ia yang membuatku kembali menemukan tujuan hidupku. Ialah yang merubah semua kehidupanku. Karena ia aku bisa tertawa, menangis, sedih, dan lainnya. Ia yang mewarnai hidupku yang gelap. Ia yang menyelamatkanku dari jurang kegelapan. Intinya dia adalah matahariku. Jadi aku sangat yakin dengannya walaupun kami akan aku masih muda. Lagi pula aku takut kejadian seperti beberapa bulan kembali terjadi” Laura memeluk putrinya dengan erat. Aleen bisa merasakan airmata Mommy-nya membasahi bahunya.

“Apa perkataanku salah, Mommy?” Laura menggeleng dan menatap anaknya dengan bahagia.

“Jika kau sudah yakin maka Mommy menyetujuinya, Sayang. Ayo kita bahas tentang ini dengan yang lainnya” ajak Laura. Aleen mengangguk dan mengikuti langkah Laura yang tengah mengamitnya.

*****

Sesampainya diruang makan semuanya telah berkumpul. Laura duduk disamping Jonathan dan Aleen disamping Sean. Kevan bisa menangkap ada yang disembunyikan sang mama dan adiknya.

“Mengapa kau sangat bahagia, Mommy?” Laura semakin memperluas senyumannya dan mengedipkan matanya ke arah Kevan yang membuat Kevan bingung.

“Kita akan membahasnya nanti, ya. Sekarang lebih baik kita merayakannya dengan makan yang banyak. Ini adalah awal tahun yang sangat baik!” semuanya sedikit heran melihat Laura yang begitu bahagia, sedangkan Aleen sudah merona menahan malu. Ia tak menduga kalau Mommy-nya akan bereaksi seperti ini.

“Apa yang kalian berdua bicarakan tadi, Sayang?” tanya Sean penasaran. Aleen gelagapan dan menundukkan kepalanya.

“Hanya girl’s talk, Sean. Hanya saja Mommy sangat bahagia dengan apa yang kami bicarakan” Sean meragukan jawaban tunangannya dan membiarkan Aleen dengan wajah tomatnya.

*****

Setelah sarapan pagi mereka semua berkumpul di halaman belakang villa. Laura masih betah dengan wajah cerianya yang mengundang banyak pertanyaan dari yang lainnya.

“Sebenarnya apa yang kau dan Aleen bicarakan, Laura?” tanya Lily –Mom Sean-.

“Kalian sangat ingin tahu?” tanya Laura dengan raut wajah yang masih sama. Semuanya mengangguk.

“Aleen sudah memutuskan untuk menikah dengan Sean!” pekiknya girang. Sean yang saat itu tengah duduk sambil memperhatikan Aleen yang tengah menjahili si kembar pun langsung menoleh dan berdiri di samping Laura.

“Benarkah itu, Mommy? Aleen telah bersedia menikah denganku?!” tanyanya girang. Ia tak menyangka kalau Aleen akan mengatakan hal itu secepatnya. Laura mengangguk antusias. Sedangkan Aleen yang mendengar perkataan itu dari mulut Sean langsung berlari ke arah sang Mommy.

“Benar. Tadi ia mengatakannya. Ia mengatakan kalau kau adalah mataharinya dan –“ ucapan Laura terhenti karena Aleen membungkamnya dengan tangannya. Ia tersenyum kikuk ke arah Sean dengan wajah yang sudah pasti memerah. Sean tersenyum lebar dan membawa Aleen ke dalam pelukannya. Ia juga memutar-mutar tubuh keduanya dan refleks Aleen mengalungkan tangannya pada leher Sean. Setelah selesai berputar Sean menatap mata biru Aleen yang selalu berhasil memerangkapkannya.

“Kau serius ingin menikah denganku, Aleen Cheveryl Azryl?” tanyanya serius. Aleen tersenyum manis dan mengangguk.

“Aku sudah memantapkan hatiku untuk berlabuh padamu, Sean. Aku tak menginginkan yang lain. Aku hanya menginginkan dirimu. Kau yang berhasil menarikku dari jurang kegelapan menuju tempat yang penuh akan cahaya dan harapan. Jadi, ya! Aku mau menikah denganmu, Sean Gabriel Maddison” jawab Aleen dengan lantang pada kalimat terakhir. Sean sangat bahagia hari ini dan mencium Aleen dengan dalam. Aleen menyambut ciuman itu dan membalasnya penuh cinta. Terdengar sorakan dan tepukan dari keluarga mereka yang membuat ciuman itu berakhir.

“Akhirnya kita berbesan, Laura!” girang Lily dan memeluk Laura. Jonathan dan Arthur juga sangat bahagia mendengar berita itu. Sean kembali mengecup bibir tipis yang sudah menjadi nikotin bagi dirinya dan memeluk Aleen dengan erat.

“Terima kasih, terima kasih karena kau telah memilihku dan mempercayaiku. Aku akan membuatmu bahagia dan kita akan menua bersama dan ditemani anak cucu kita” Aleen semakin merona ketika Sean mengatakan hal itu.

“Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih karena kau telah membuatku kembali memiliki tujuan hidup setelah semua yang telah ku alami. Aku mencintaimu, Sean. For the rest of my life” Sean mengecup dahi Aleen lama dan kembali mendaratkan kecupan tepat di bibir Aleen.

“Aku lebih mencintai dirimu, Aleen. Dan akan selamanya begitu”

Vomentnya ya teman-teman

What's wrong with me?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang