WAITING
Yeri X Guanlin
Gadis remaja itu masih duduk di sana. Dia atas bangku panjang taman padahal hari sudah mulai larut malam. Memandangi dedaunan kering yang gugur dari pohonnya. Setiap hari seperti ini, tak pernah terlewat. Ia selalu menyempatkan diri meskipun hanya sebentar. Menunggu kedatangan orang yang sudah lama ia harapkan. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Dari kecil mereka tumbuh bersama lalu dipisahkan begitu saja. Yerim masih ingat dengan jelas bagaimana ia meraung ketika sosok itu mengucap kata perpisahan yang begitu menyayat hati Yerim.
Yerim memandangi ujung sepatunya sembari merapatkan sweater yang membalut tubuhnya. Hawa dingin mulai terasa, tapi kali ini Yerim masih bertahan. Feelingnya mengatakan untuk menunggu sedikit lebih lama lagi. Sedikit lebih lama lagi dan kemudian air mata itu lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Yerim hanya mengingat kenangan-kenangannya bersama lelaki itu. Teman kecilnya yang berhasil membuat Yerim jatuh hati. Temannya yang dulu ketika masih kecil selalu membawakannya permen kapas ketika ia menangis, teman kecil yang selalu mau menemaninya bermain ketika ia tak memiliki satu teman perempuan pun, teman yang selalu ada untuknya ketika ia sedang merasa sedih dan sendiri. Bagaimana Yerim tidak jatuh hati jika seperti itu. Dan hari itu. Seakan menjadi hari gelap bagi Yerim, ketika ia meminta Yerim untuk menemuinya di taman ini dan berkata jika ia harus pindah keluar negeri untuk mengikuti sang orang tua. Meskipun waktu itu Yerim sudah cukup besar untuk mengerti tapi tetap saja waktu itu ia masih delapanbelas tahun yang baru pertama kali kenal dengan yang namanya cinta.
Yerim terisak, tubuhnya bergetar dan tangannya tak henti untuk menghapus kasar air matanya. Penantiannya tak kunjung berbuah, apa ia harus menyerah. Tidak ada kabar sama-sekali, itu cukup membuat Yerim untuk mundur secara teratur tapi semua itu seakan terlalu sulit untuk gadis itu lakukan.
Yerim berdiri dari duduknya ketika seseorang berdiri tepat di hadapannya. Menghentikan Yerim yang akan berjalan meninggalkan taman. Yerim lantas mengangkat kepalanya dan seketka membatu mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya. Orang itu, orang yang sudah lama ia nanti kedatangannya. Kini berdiri di hadapannya dengan senyum yang masih sama seperti dulu. senyum yang selalu berhasil membuat jantung Yerim ingin mendobrak rongga dadanya.
"Guanlin?"
Yerim semakin tak kuasa menahan tangisnya, takut jika ini semua hanya ilusi semata, takut jika ini hanya suatu hal yang tidak nyata.
"Ini benar aku, Yerim. aku kembali"
Detik itu juga Yerim langsung menerjang tubuh pria itu. Memeluknya erat sambil terisak di dada lelaki bernama Guanlin itu. Menumpahkan segara kerinduan yang terpendam. Pilihan Yerim untuk menunggu sedikit lebih lama tidak salah. Ia sudah kembali sekarang, menjumpai Yerim yang sudah sangat merindukannya.
Guanlin tak kalah erat memeluk Yerim. gadis impiannya. Gadis yang selama ini selalu ia impikan ketika ia sedang berada di Taiwan. Tak pernah seharipun terlewat untuk memikirkan Yerim. Yerim selalu berhasil masuk ke dalam otaknya entah dengan cara apapun.
"Aku sudah kembali dan aku akan menepati janjiku."
Tidak ada yang lebih indah selain senyum keduanya saat itu. Pipi Yerim yang memerah karena tangis tambah memerah ketika Guanlin dengan lembut menempelkan bibirnya di atas milik Yerim. mengecup dalam bibir mungil Yerim. memberikan seluruh perasaanya lewat ciuman sederhana itu. Yerim tidak ragu untuk mengalungkan tangannya di leher Guanlin. Menikmati setiap sentuhan yang selalu ia dambakan sejak lama.
Guanlin memisahkan diri terlebih dahulu. Lelaki itu menatap Yerim yang sedang mengambil napas. Guanlin menyatukan dahi mereka, menatap lamat Yerim di depannya. Sudut bibir Yerim terangkat. Menyadari dirinya yang sudah hanyut dalam tatapan Guanlin yang begitu memikat. Kekehan kecil keluar dari bibir Yerim.
"So, I'm your girlfriend now?"
Hari itu mereka yang pernah terpisah kembali bersama. Merajut jalinan baru. Membuka lembaran baru yang akan di isi oleh warna-warna yang menyenangkan. Menghapus kesediahn yang sebelumnya menjadi awan mendung bagi mereka.
Yerim terus saja terisak ketika Guanlin mengatakan jika besok, lelaki itu akan berangkat ke Taiwan untuk mengikuti orang tuanya. Sudah sejak kecil mereka bersama, dan sekarang Guanlin mengatakan jika mereka akan berpisah lama. Yerim tak kuasa untuk menahan tangisnya. Taman ini menjadi saksi bisu bagaimana Yerim menangis dengan sangat pilu.
Guanlin juga tidak ingin meninggalkan Yerim. Yerim adalah bulannya yang selalu menyinarinya ketika malam. Sosok yang berhasil mengambil sebagian hatinya. Tapi tentu Guanlin juga tidak bisa menentang permintaan kedua orang tuanya.
Lelaki jangkung itu menangkup wajah Yerim. memaksa Yerim untuk memandang wajahnya, menarik pandangan mata Yerim untuk balas menatap matanya. Kecupan mendarat di atas kening Yerim. cukup lama kecupan itu berlangsung.
"Tunggulah aku di sini. Dan jika aku kembali itu artinya kau menjadi mililkku."
-fin
Iya, aku tahu ini ancur banget, maaf. Saya hanya menuliskan apa yg tiba-tiba terintas di otak saya, hehe. Tapi semoga memuaskan. Mau siapa cowonya untuk next story??
KAMU SEDANG MEMBACA
Stories
FanfictionA collection of one-shot stories with Kim Yeri as the female lead. Hope you like it (≧▽≦)
