“Terkadang, kau harus membuang akalmu untuk menerima kenyataan pahit yang tak masuk akal di dunia ini.”
Annonymus
****
Pagi itu suasana sedikit tak bersahabat bagi El. Rintikan gerimis masih saja setia menemani bumi pertiwi pagi ini. Banyak orang yang sudah melakukan aktivitas seperti biasa walaupun suhu udara sedikit mencekik. Banyak juga yang masih bergelut dengan selimut dan bantal mereka.
El kini sedang duduk di teras depan. Ia sedang menunggu Yukki bersiap dengan seragamnya. Selalu saja begini, El harus menunggu Yukki yang sibuk menata tampilannya. Padahal menurut El, Yukki hanya memakai foundation dan bedak tipis. Memang wanita sulit dimengerti.
El terpaku dalam lamunannya. Wajahnya masih sedikit pucat karena semalam ia begadang. Bukan apa-apa, ada sesuatu yang bisa membuatnya tak tidur semalaman. Ia masih saja memikirkan tentang….
“Kuy El gue udah siap nih!” suara Yukki memecah lamunan El. “Gimana penampilan gue pagi ini? Ada suatu peningkatan gak?”
“Sama aja. Cantik.”
“Aaaah…. El emang ganteng deh!” ucap Yukki sambil menggandeng tangan El. Bersikap manja layaknya dua insan yang sedang kasmaran. Padahal kenyataannya? Mereka seperti Tom dan Jerry yang selalu meributkan masalah kecil.
****
El mengambil kuda besi tuanya. Ia menjulurkan tangannya. Memastikan apakah rintik hujan pagi ini bertambah deras atau sudah mereda.
Sayang, kali ini sepertinya hujan masih setia menemani bumi. Hujan turun semakin deras. El langsung memasukan kembali kuda besi tuannya ke garasi. Kemudian ia mengambil kemudi untuk mobil ayahnya. Ini yang kedua kali El menggunakan mobil ayahnya.
Sekelebat peristiwa terngiang dalam pikiran El. Peristiwa tadi malam, yang membuatnya tak bisa terlelap dalam mimpi indahnya. Jelas ia melihat potongan mayat itu dengan kedua bola matanya sendiri. Bahkan ia masih mengingat betul bagaimana mata mayat itu menatap matanya.
"El? El? WOY DIEM-DIEM BAE DAH NI BOCAH!"
"Etdah bisa sellow ga sih tuh mulut toa?! Bisa-bisa kuping gue budeg denger suara lo yang lebih keras berkali - kali lipat dari toa!" El mendengus kesal.
"Hehehe peace El," cengir Yukki sambil mengacungkan dua jarinya.
«««****»»»
El memarkirkan mobilnya setelah Pak John menunjukan tempat yang masih bisa disinggahi.
"Udah yuk cabut ke kelas!" Ucap El sambil menggandeng Yukki yang sedang memperhatikan sesuatu.
"Bentar deh El... Kok ada mobil polisi di sekolah kita? Jangan-jangan dia mau nangkep lo lagi?"
"Lah gue punya salah apa?" tanya El sambil menggaruk tengkuk kepalanya.
"Lo kan suka ngambil daleman gue!" ucap Yukki dengan nada yang sedikit tinggi. Sontak murid lain yang berada di sekitar Yukki langsung melihat El. Tatapan mengintimidasi sungguh tak bisa dielakkan dari El.
El langsung menutup mulut pembunuh milik Yukki. Ia tak akan membiarkan Yukki mengatakan hal-hal yang lebih parah yang bisa membuat masa depannya berantakan.

KAMU SEDANG MEMBACA
BUKAN MANTAN BIASA [END] PROSES REVISI
Teen Fiction"Semakin kuat usahaku untuk melupakanmu,semakin sulit hatiku untuk melepasmu" Inilah kisah El yang diputuskan pacarnya di hari anniversary mereka.Sakit hati,benci,dan tak terima adalah ungkapan El untuk hatinya ini.Tapi apalah daya,rasa cinta El leb...