"Apalagi yang harus aku katakan padamu? Aku menyayangimu hingga ujung usiaku meskipun kita tak akan pernah bersatu?"
Adhitama Elvan Fahreza
~••••••÷••••••~
Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Banyak diantara mereka yang menjadikan kesalahan sebagai pembelajaran untuk masa depan. Namun tak sedikit juga yang malah menumpahkan kesalahan ke orang lain dan menyalahkannya seolah ia yang melakukannya. Ada juga orang yang tak pernah mengakui kesalahannya, mereka memilih untuk mengabaikan hal yang harus mereka perbaiki.Tentu memaafkan suatu kesalahan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Meski mulut mereka berkata, "Ya, aku memaafkanmu," namun apakah hati mereka juga sependapat dengan ucapan yang dilontarkan mulut pendusta itu?
~•••••÷•••••~
Pagi itu semua pelayan di rumah Keluarga Vania sibuk mempersiapkan sarapan untuk hari ini. Beberapa pelayan menata alat makan dan yang lain sibuk dengan hidangan yang diminta Sang Majikan.
Ayah Vania telah duduk sedari tadi di kursi makan. Ia sibuk membaca koran sembari menunggu putrinya turun. Sesekali Pak Brhams melirik arlojinya. Memastikan bahwa waktunya tak akan habis untuk menunggu putrinya.
"Vania, bergegaslah turun! Apakah kau akan membiarkan ayahmu ini kelaparan karena menunggu putri kesayangannya?" ucap Brhams dengan nada bassnya yang menggelegar.
"Aku turun Ayah!" teriak seorang anak dari atas tangga. Kemudian ia menuruni satu per satu anak tangga dengan lincah.
Vania menyapa ayahnya dengan senyuman termanisnya. Tak mau kalah, ayahnya membalas senyuman yang membuat matanya semakin sipit. Vania duduk di samping ayahnya. Ruang makan Keluarga Vania memang megah. Meja besar dan kursi yang banyak tersusun rapi dipadupadankan dengan hidangan yang tersaji disana. Namun kursi-kursi yang banyak itu selalu terisi oleh dua orang saja. Vania dan Ayahnya. Hal ini sudah biasa bagi Vania. Karena ia hanya memiliki sosok Ayah semenjak ia kecil sampai sekarang.
"Wah... Ini sandwich terlezat yang pernah aku makan!" seru Vania sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
"Kau selalu mengucapkan itu setiap pagi. Begitu lezatkah sandwich buatan bibi sampai membuatmu girang seperti ini?" ucap Brhams sambil mengelus kepala Vania. "Oh iya, ayah ingin menanyakan satu hal sama Vania."
Vania yang fokus dengan makanannya langsung menoleh ke ayahnya. "Tanya apa yah?"
"Bagaimana hubunganmu dengan El? Apakah kamu sudah menjauhi anak sialan itu?" tanya Brhams yang membuat Vania langsung tersedak. Brhams langsung menuangkan air putih ke gelas dan memberikannya kepada putrinya. "Makannya pelan-pelan dong, ayah kan cuma nanya gitu. Masa iya kamu shock gitu?"
"Eh.. Ga shock ko yah, tapi kaget aja kenapa tiba-tiba nanyain itu." ucap Vania sambil tersenyum malu. "Hubungan Vania ya udah selesai sama El. Kita temenan dan yah kadang masih baper-baperan gitu... tapi tenang yah, ayah ga usah khawatir. Vania gak bakal balikan sama El kok!" ujar Vania meyakinkan ayahnya. "Tapi kalo kepepet ya gak tahu yah hehehe."

KAMU SEDANG MEMBACA
BUKAN MANTAN BIASA [END] PROSES REVISI
Teen Fiction"Semakin kuat usahaku untuk melupakanmu,semakin sulit hatiku untuk melepasmu" Inilah kisah El yang diputuskan pacarnya di hari anniversary mereka.Sakit hati,benci,dan tak terima adalah ungkapan El untuk hatinya ini.Tapi apalah daya,rasa cinta El leb...