"Tri..?!" panggil Syarif pada Tri di depan ruangan wanita tersebut.
Tri sedang mengetik sesuatu di layar komputer, wanita ini langsung mendongak mendengar si bos memanggil.
"Iya pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tri sopan sambil bangkit dari kursi.
"Hmm.. apa kamu mau turun sebentar ke lobby. Ada adik tiriku pulang dari acara pemotretan dan ingin memberikan titipan untuk ibuku. Tolong ya Tri. Aku lagi mau meeting sekarang di ruangan accounting." pinta Syarif dengan mata bersinar terang.
"Adik tiri? Bos punya adik?" tanya Tri agak penasaran.
"Iya.. punya adik.. sudah sana.. ayo.. nanti dia marah lagi.. " ucap Syarif dan mau pergi saja.
"Ehh.. bos.. bos.. nama adik bos itu siapa?" suara Tri terdengar keki karena bosnya ini mau main tinggal saja tanpa memberi informasi jelas.
"Ohh.. iya.. Amran Rahmat Fadil." teriak Syarif sambil masuk ke dalam lift.
Tri termenung di ruangan kantornya.
"Dasar si bos mah.. masa kerja saya mengambil barang titipan sih. Apa sih Amran ini tidak bisa naik sendiri atau apa?" rutuk Tri keki karena harus turun walaupun ada lift. Ia memang agak tidak suka lama-lama di lobby. Ada anak bagian pemasaran di bawah sana suka sekali menggoda dirinya dalam artian berkata agak melenceng seperti 'Hi Tri, pagi ini rambut kamu basah, semalam gerah ya?'. Tri ingin sekali memukul wajah lelaki itu, tapi lelaki ini sangatlah pandai dalam berkata, itulah sebabnya ia di bagian marketing.
Dan, ia harus turun mengambil titipan dari si adik tiri untuk ibunya Syarif. Ia sih sangat suka dengan keluarga bosnya ini.
"Tidak apalah. Kalau Joni menggodaku kali ini, akan aku laporkan pada pak Arif nanti."
Tri bergumam sambil merapikan letak jas kerjanya dan meluruskan celana panjang dari setelannya ini.
***
Amran Surano berdiri sambil memandangi orang yang keluar masuk dari perusahaan kakak tirinya ini. Yah.. ia mempunyai kakak tiri karena hubungan kedua orang tua mereka. Ayahnya seorang dokter keluarga dari kakeknya Syarif. Ibunya Syarif sudah tidak mempunyai suami lagi, sedangkan ayahnya tidak mempunyai istri juga setelah ibunya Amran meninggal dunia.
Kedua orang tua mereka ini menikah untuk saling berbagi kasih di usia senja nanti. Ibunya Syarif menerima pinangan dari ayahnya. Mereka melaksanakan pernikahan sederhana dan secara kekeluargaan saja.
Dan, disinilah ia sekarang berdiri, menunggu kakaknya itu turun untuk mengambil titipan darinya untuk ibu tirinya. Ia habis melaksanakan tugas pemotretan di Singapura. Ada klien yang menggunakan jasanya dalam rangka pemotretan untuk acara pernikahan. So, ia ambil job tersebut.
Ada seorang wanita langsing dan berperawakan sedang melangkah cepat menuju dirinya.
Ketika wanita ini sudah berada tepat di depan tubuhnya, Amran tersentak karena mata wanita ini sangat indah.
"Maaf.. Saya di perintahkan oleh pak Syarif untuk mengambil titipan untuk bu Marta. Pak Syarif sedang ada meeting mendadak di ruang accounting." ucap Tri dengan cepat dan terkesan jutek.
Amran jadi tersentak karena kesan jutek wanita ini. Padahal, setiap wanita selalu terpesona melihat tampangnya yang macho juga misterius.
Tapi, wanita ini cuek saja seolah tidak perduli.
Tri mengamati lelaki tinggi keren dan agak berambut tidak terurus ini. Lelaki ini melototi dirinya seolah ia makhluk luar angkasa.
"Halooo.. apakah saya harus seharian menunggu di sini. Maafkan saya ya.. kalau agak jutek. Pekerjaan saya menunggu, pak Syarif bisa marah jika nanti proposal belum selesai." sentak Tri pada Amran.
Amran jadi tersadar karena memelototi Tri.
"Ehh.. iya.. ini titipan untuk ibu. Saya permisi dulu. Tapi, sebelum permisi, saya mau mengatakan satu hal." ujar Amran sambil menunggu Tri mengambil bungkusan sedang dari tangannya.
"Iya.. katakanlah.. " balas Tri lebih lembut.
"Kamu sangat jutek dan bawel. Aku heran kenapa kakakku itu tahan mempunyai staff seperti kamu. Hmm.. aku rasa kalian berdua memang ada kemiripan dalam hal bawel." ucap Amran sambil melepaskan pegangan di bingkisannya itu.
Lelaki ini pergi dengan langkah panjang, meninggalkan Tri yang melonggo tanpa bisa membalas perkataan lelaki tersebut.
Tri baru tersadar ketika suara Joni berteriak ke arahnya.
"Haloo.. apakah itu kekasih kamu Tri.. wah... pantasan saja kamu tidak pernah menoleh-noleh ke arah semua lelaki di gedung ini. Ternyata, kamu sudah mempunyai kekasih hot."
Wajah Tri merah padam mendengar ucapan Joni yang lumayan besar itu karena lelaki tersebut berteriak seperti tarzan.
"Tutup mulut kamu itu akang Jon.. jika tidak aku kuncir pakai pita.." balas Tri sebal dan jutek abis.
Joni malah tertawa dan para teman-teman di marketing hanya geleng-geleng kepala saja mendengar ucapan pedas Tri pada Joni.
"Ehh kang, jangan menggoda Tri terus. Wanita itu sangat dekat dengan bos. Bisa berabe kalau wanita ini melaporkan pada pak Syarif." ujar si Rian, temannya Joni.
Joni jadi terdiam karena ucapan Rian ada benarnya juga.
"Iya ya.. bisa berabe aku nanti." balas Joni kesal. Dasar wanita judes dan sombong, mentang-mentang jadi PA pak Syarif saja tidak mau memberikan aku kesempatan untuk mengobrol lama dengan pak Arif yang macho itu batin Joni sebal.
"Awas saja nanti kamu Tri.. " gumam Joni pelan sambil duduk dan mengerjakan urusannya.
Well, ternyata lelaki ini mempunyai orientasi sex ke arah pria bukan ke arah wanita. Joni menggoda Tri hanya untuk memancing wanita itu supaya bisa berteman dengannya. Dan ia bisa mendekati pak Arif supaya lebih banyak mengobrol tentang perluasan pemasaran. Namun, Tri malah terlihat jijik padanya.
"Halooo.. aku tidak butuh orang yang melecehkan diriku ini. Wanita ini akan menjadi salah satu penghalangku dalam maju berkarir di perusahaan ini." lanjut Joni bergumam sambil mengetik laporan. Terbesit dalam pikiran lelaki itu cara mengeser Tri dari hadapan big bos mereka.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}
RomanceTri Anggraini, wanita karir yang bekerja sebagai staff Accounting. Dia merasa bosan dengan keadaannya hidupnya. Ia ingin mempunyai anak karena ibunya seorang dokter spesialis kandungan. Ia merasa sedikit iri dengan kehidupan orang lain. Tony Ishak S...
