Sepuluh hari bulan madu, Tri dan Tony sudah tiba di tanah air, tepatnya kota Bogor. Wajah keduanya bersinar-sinar bahagia. Dokter Puspa yang datang ke rumah anaknya jadi turut bahagia karena anaknya pasti sudah di buahi oleh sepasukan berudu milik Tony.
Keduanya di suruh istirahat karena perjalanan memakai pesawat membuat kepala agak jetlag. Tony dan Tri sih menurut, mereka tiba pagi dan langsung tertidur sampai jam 2 siang. Bangun-bangun keduanya lapar dan turun untuk makan siang.
"Kang.. lusa saya boleh kerja kan? sudah habis cuti nih.." ucap Tri setelah mereka selesai makan siang tinggal makan irisan buah saja.
Tony terdiam berpikir bagaimana ia harus bersikap dengan sang istri yang mandiri seperti ini.
"Trang... apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu.. kita kan program 'baby' untuk kamu. Kalau kamu bekerja terus dan kelelahan bagaimana bisa cepat proses 'baby' tadi." ujar Tony logis.
Tri menarik napas panjang.
"Kang.. semua wanita ada kok yang bekerja sambil mengandung. Lagian saya kan tidak terlalu berat dalam bekerja, pak Arif sudah membatasi kerja saya. Saya tidak di perbolehkan untuk turun naik tangga atau ke bawah."
"Saya di haruskan untuk bekerja di kantor saja, tidak juga boleh turun lapangan mengikuti si bos." papar Tri lebih logis.
Tony sekarang yang menarik napas, ia takut istrinya ini lelah bekerja, ia ingin Tri di rumah saja. Buka usaha sendiri. Ibunya ingin mengembangkan usaha katering di Bogor khusus untuk karyawan perusahaan. Tony mendapatkan ide tersebut untuk membuat Tri sibuk belajar masak di rumah.
"Trang.. ibuku kan sekarang mau buka cabang untuk usaha katering. Nah, kamu bisa tuh bantu masak, juga pemasaran. Atau kamu bisa jadi manager ibuku. Aku juga bisa membukakan kamu usaha lain jika mau, tapi lebih banyak di rumah. Online shop kek. Tuh, Janet kan designer juga punya usaha pakaian. Kamu bisa menjual hasil pakaian dari rumah mode Janet." kali ini Tony yang memaparkan pendapatnya.
Tri terdiam sejenak.
"Tapi kang. Pak Arif itu kasian kalau tidak ada PA. Nah, dia kan sendirian jika tidak ada PA." jawab Tri tegas.
"Trang..?! Syarif bisa mencari lagi PA yang baru, atau tidak punya PA. Lelaki ini toh tanpa PA bisa saja sewaktu kamu belum ada kamu." balas Tony jadi tegas terkesan ketus.
"Kang..?"
"Enough!" seru Tony kesal.
Tri terkesiap karena suara kesal suaminya.
Bu Puspa yang mendengar langsung mendekati kedua orang tersebut.
"Ada apa sih nak?" ucap bu Puspa lembut.
"Ibu... Trang ini kembali bekerja padahal proses kami untuk mendapatkan anak belum membuahkan hasil. Kalau bekerja terus dan kelelahan bagaimana bisa mengandung." ucap Tony tanpa basa-basi.
Tri mengerjapkan matanya menahan air mata ingin tumpah. Dokter Puspa menarik napas panjang melihat kedua pengantin baru ini. Baru pulang bulan madu sudah beda pendapat.
"Nak Ton.. Tri ini wanita mandiri, kami terbiasa bekerja. Tapi, ucapan kamu ada benarnya. Trang.. kamu bisa istirahat dulu selama 2 bulan demi menunggu apakah kamu sekarang sedang mengandung atau tidak. Bukankah nak Syarif juga sudah bilang, kalau kamu mau istirahat kerja ya tidak apa-apa." tutur bu Puspa sembari mengusap rambut panjang anaknya itu.
Wajah Tony bersinar senang karena ibu mertunya mendukung dirinya. Tri melotot pada Tony lalu menjulurkan lidahnya pada sang suami.
"Trang..?!" seru sang ibu pada Tri. Tri mengerutu tentang ibu yang pilih kasih pada anaknya. Tony terkekeh karena Tri, seorang wanita dewasa tapi terkadang keluar sifat anak-anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}
RomanceTri Anggraini, wanita karir yang bekerja sebagai staff Accounting. Dia merasa bosan dengan keadaannya hidupnya. Ia ingin mempunyai anak karena ibunya seorang dokter spesialis kandungan. Ia merasa sedikit iri dengan kehidupan orang lain. Tony Ishak S...
