Tri meletakkan bingkisan titipan dari adik tirinya Syarif di meja kerja bosnya. Lalu, wanita ini segera kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk.
Sambil bekerja Tri mendengarkan musik untuk meringankan suasana kerja yang ia alami hari ini.
** I woke up in tears
With you by my side
A breath of relief
And I realized
No, we're not promised tomorrow
** So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you
Like I'm saying goodbye
Wherever we're standing
I won't take you for granted
'cause we'll never know when
When we'll run out of time
So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
Tri mengetik laporan tanpa sadar sudah ada Syarif dan Tony berdiri di depan pintu saling berpandangan mendengarkan wanita muda tersebut mengetik sambil komat-kamit mengikuti lagu yang mengalun dari streo musik di komputernya.
"Ehemmm..?!" suara Syarif berdehem untuk mengkode Tri.
Tri tidak menoleh ke arah suara Syarif itu. Wanita ini fokus pada layar monitor komputer untuk mengetik. Jari-jari Tri seolah berterbangan di keyboard tersebut.
Syarif keki karena di cuekin staffnya itu. Ia berteriak memanggil Tri membuat wanita tersebut tersentak.
"TRANNNGGG....?!"
"Siap bossss...?!"
Tri berdiri seperti seorang prajurit wanita. Ia menoleh dan menatap mata hitam pekat dan tajam milik Tony.
Tri melotot pada lelaki macho dan sangat dingin itu. Lelaki tersebut berdiri tenang tanpa ekspresi di samping Syarif.
"Tri..? Halooo..? Apa kamu kesambet?"
Syarif terkekeh melihat personal asistennya ini yang biasanya judes luar biasa tiba-tiba terdiam dan melotot menatap lelaki dingin di sampingnya ini.
"Ehh.. hmm.. maaf pak.. Saya.. saya..?"
Tri tergagap mau menjawab juga bingung.
"Kenapa lelaki dingin ini di sini sih?" gumam Tri sendirian pada dirinya sendiri.
"Kamu ngomong apa Tri?" tanya Syarif pura-pura tidak mendengarkan ucapan Tri perihal Tony yang berada di sini.
Tony sih hanya mengangkat alisnya. Lelaki ini punya pendengaran yang sangat tajam karena sudah terlatih sebagai pengawal pribadi profesional sewaktu dirinya mengawal Amel istrinya Syarif.
"Tidak ada apa-apa kok pak.. hanya bergumam biasa.. ini pekerjaan saya masih harus di kerjakan.. " balas Tri cepat tanpa mau menatap wajah Tony.
Syarif paham maksud perkataan Tri itu. Wanita ini bermaksud mau mengusir Tony secara sopan dari sini.
"Baiklah, tapi bawakan dulu kami teh hangat ya Tri.. Aku dan Tony ada obrolan tentang bisnis. Biasalah, Tony ini pengusaha muda sekarang, lelaki ini akan berkerja sama kita dalam hal suplai pengawasan untuk pengantaran barang ke rekan kerja kita yang lain." jelas Syarif secara detail.
"Pengawasan..? Biasanya pak Syarif memakai jasa pengawalan dari perusahaan pak Rendy, suaminya teteh Kusuma kan? Kok ke perusahaan pak kutub sih?" ucap Tri kelepasan dengan mengatakan Tony sebagai pria kutub atau es dingin.
Tri menutup mulutnya dengan tangan kanan sambil melotot ngeri menatap wajah Tony yang berubah dari dingin dan tenang menjadi kesal. Mata lelaki ini berkilat tajam menatap Tri.
"Ma.. Maafkan saya pak To.. Tony.. maksud saya.. hmm.. itu.. anu..?"
Tri berusaha memperbaiki kesalahan dalam berkata, tapi Syarif langsung memotong perkataan wanita ini.
"Sudah-sudah.. tenanglah Tri.. Tony tidak akan marah kok, lelaki ini hanya seram di penampakan luar saja. Tapi, dalamnya pasti baik luar biasa." ucap Syarif menenangkan Tri yang ketakutan pada Tony.
Tony tidak menanggapi ucapan Syarif yang terkesan bercanda, lelaki ini menatap tajam pada Tri yang mau berlari itu alias tidak mau berdekatan dengan dirinya. Ada apa dengan wanita di depannya ini? Apakah dirinya menyebabkan Tri takut padanya? Tony membatin gelisah.
"Hmm.. baiklah.. saya permisi dulu.. "
Tri bergerak mendekati Tony yang berdiri tinggi juga seram di depan pintu, Syarif sih sudah bergeser sedikit supaya Tony bisa juga bergeser untuk Tri lewat. Tapi, lelaki ini tidak mau bergerak membuat Tri terdiam di samping lelaki ini.
Syarif sih mengamati saja dengan tenang. Ia tahu kalau Tony penasaran dengan Tri. Dan Tri ini sepertinya selalu salah tingkah ketika berdekatan dengan Tony, padahal kalau dengan lelaki muda atau single lainnya. Tri sangat dingin sekali, wanita ini bahkan terkenal dengan sebutan 'ratu es' di kalangan staff single di perusahaannya ini.
Ini sangat menarik batin Syarif senang dengan drama di depan matanya.
Tri mendonggakkan kepalanya demi melihat mata tajam Tony yang menatap wajahnya membuat wajahnya memanas dan memerah seperti tomat.
"Hmm.. pak kutub.. ehh.. pak Tony.. per.. per.. permisi..?" bisik Tri seolah mendesah membuat Tony tersentak dan Tri mengambil kesempatan tersebut untuk melesat ke ruangannya di sampingnya. Tri bergerak seperti di kejar hantu untuk membuat teh hangat pada Syarif dan rekan bosnya ini sambil mengerutu sendiri.
"Dasar kutub.. pria dingin, seram, angker, jutek, tapi sayang sekali sangat hot.. "
Tri membuat teh dengan cepat dan segera berjalan ke kantor bosnya untuk menyajikan minuman itu pada mereka dj ruang Syarif. Ia akan cepat-cepat meninggalkan ruangan bosnya. Ia tidak mau berlama-lama melihat Tony, lelaki yang suka membuat dirinya salah tingkah dan tergagap ataupun bahkan bertengkar.
Yah.. mereka pernah berdebat perihal lelaki itu yang datang ke rumahnya demi mencari informasi di klinik bersalin tempat ibunya bertugas untuk memasukkan seorang pengawal bagi teteh Linda yang waktu itu ingin di awasi oleh suaminya, Yogi. Tony datang meminta bantuan pada ibunya, yang awalnya sangat ia tentang karena tidak suka ibunya terlibat permasalahan orang lain. Tapi, ibunya mengingatkan bahwa Linda sudah di anggap seperti anaknya sendiri, membuat Tri mengalah dan menerima permintaan Tony pada ibunya untuk mengawasi Linda.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}
RomanceTri Anggraini, wanita karir yang bekerja sebagai staff Accounting. Dia merasa bosan dengan keadaannya hidupnya. Ia ingin mempunyai anak karena ibunya seorang dokter spesialis kandungan. Ia merasa sedikit iri dengan kehidupan orang lain. Tony Ishak S...
