Di sekap

1.1K 97 0
                                        

Tony menutup sambungan telepon karena Yogi harus menelepon seseorang dan ia juga harus menelepon Rendy.

"Semoga saja bro Syarif sudah mendapatkan info terlebih dahulu dari bro Haris. Ayo ibu.. kita pulang. Kita akan menunggu dulu di rumah." ajak Tony pada ibunya Tri.

Mereka memang berada di dalam mobil, mobilnya Tony di parkirkan dulu tadi di depan klinik bersalin. Dokter muda lelaki tadi ternyata dokter matanya Linda, Dokter Benny turut prihatin mendengarkan kalau Tri tidak ada di rumah.

Mobil Tony melaju dengan stabil mengarah ke rumahnya dokter Puspa.

"Nak.. menginap di rumah ibu saja jika Tri.. Tri.. hmm.. tidak pulang..?" ucap dokter Puspa dengan suara gemetaran. Ia tidak sanggup membayangkan anaknya tidak pulang. Ia sudah mengirimkan pesan pada adiknya di Bandung, tapi Tri tidak ada juga di sana. Tri tidak mempunyai teman lain di Bogor atau daerah lainnya. Anaknya itu tidak terlalu banyak bergaul di luar. Paling kalau libur jalan bersama dirinya atau istirahat saja di rumah. Jadi, ia tidak tahu anaknya tidak mungkin berkunjung ke rumah orang lain.

"Bu.. Trang pasti pulang, aku yang akan membawa anak ibu itu pulang. Akan aku pastikan orang yang sengaja berbuat tidak benar pada Tri mendapatkan ganjaran. Aku tahu ada yang tidak beres di sini." balas Tony geram karena ia menurut saja pada Tri sore tadi untuk tidak menjemput wanita tersebut.

"Iya nak.. ibu hanya punya Trang.. Dan Trang hanya punya ibu.. Ya.. walaupun sekarang kamu akan menjadi calon suaminya." ucap dokter Puspa lirih.

Tony menarik napas panjang, ia menyesal karena tidak menyuruh seorang pengawal saja untuk mengawasi Tri jika wanita ini tidak mau ia temani.

"Kita pasti bisa menemukan Trang." lanjut Tony optimis.

***

Tri terbangun dari tidurnya. Ternyata hari sudah pagi. Ia duduk terikat di kursi, mulutnya tidak di bungkam. Ia berdehem untuk meredakan rasa kering di tenggorokan.

"Halo..?" Tri berseru pelan.

Tidak ada jawaban. Ia ingin sekali minum. Kalau lapar sih masih bisa di tahan. Tapi, ia haus.

Tri berada di sebuah ruangan bersih. Seperti layaknya rumah. Hanya saja tidak ada perabot lain di ruangan ini selain kursi tinggi tempat ia duduki. Ada ruangan lain di sebelah kanan Tri, mungkin kamar kecil.

"Halo..?! Saya haus..?!" seru Tri sekali lagi.

Wanita ini memeriksa seluruh pakaiannya. Masih rapi dan berada di tempatnya. Ia mencoba merasakan apakah tubuhnya sudah di jamah orang lain. Tidak ada batin Tri lega. Ia mungkin tertidur karena kelelahan di tinggal sendirian di ruangan ini.

Malam tadi sih, ia di pindahkan dan langsung di ikat di kursi kayu bersandaram tinggi ini. Rombongan itu mendapatkan telepon bahwa ia tidak boleh di ganggu malam tadi.

Tri meratapi malam dengan berdoa kepada sang Pencipta agar di berikan kemudahan dan juga keselamatan. Jika memang ini sudah ajalnya, maka berilah ia kematian yang hormat. Alias tidak di jamah oleh lelaki lain. Ia malam tadi juga menangis semalam karena tidak bisa melawan. Bela diri yang ia pelajari ternyata tidak cukup untuk melindungi dirinya dari senjata api. Ia merasa belum mampu untuk melindungi dirinya sendiri.

"Ha..?! Tri baru mau berseru lagi ketika pintu ruangan ini terbuka.

Tampaknya sesosok lelaki yang biasa menggoda Tri di kantornya.

"Hai.. wanita genit..? Apa kabar kamu?" tanya lelaki yang tak lain tak bukan Joni itu menyeringai sinis dan matanya seolah menjadi gila.

"Joni..?!! Apa yang kamu lakukan di sini..? Bantu saya.. ayo.. ini.. lepaskan ikat tali di tangan juga kakiku?" ucap Tri dengan tergesa dan juga bingung.

BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang