Pembebasan

1.2K 103 0
                                        

Tri minum dengan rakus seolah ia berada di padang pasir. Air meleleh dari sudut mulutnya yang terasa sakit akibat tamparan tangannya Joni.

Dina ternyata sudah tidak ada di sini. Joni berkata tadi sih, pulang untuk ganti baju dan ke kantor seperti biasa.

"Hehe.. sabarlah Tri.. waktu kamu masih panjang, mungkin sekitar 2 jam lagi setelah para lelaki itu bangun dan pengen mencicipi kamu. Aku sih sudah memberikan izin pada mereka untuk bergantian tapi. Aku juga ingin menonton mereka mengerjai kamu. Pasti sangat menggoda, atau aku juga bisa ikutan bermain juga sebentar. Aku bisa izin kerja kok hari ini." ucap Joni sambil berkhayal bermain dengan rombongan para lelaki itu.

Otak lelaki ini benar-benar sudah tidak beres lagi. Tri pastikan lelaki di dekatnya ini seperti lelaki sakit jiwa. Kalau memang punya penyimpangan seperti ini seharusnya Joni mencari solusi untuk berubah atau jika tidak bisa berubah ya lakukanlah bersama lelaki lain. Kenapa mau melibatkan dirinya dan juga calon suaminya.

"Apa kamu tidak takut dosa Jon..?" bisik Tri lirih sambil menatap mata Joni kasian.

Joni mendesis dan mendorong dahi Tri kasar.

"Aku tidak butuh rasa kasian kamu itu Tri. Aku mai menyimpang atau bagaimana itu urusanku. Perihal dosa, itu juga aku yang tanggung sendiri, kamu tidak kebagian kok dosaku ini. Jadi jangan sok alim. Aku tidak butuh ceramah dari mulut kotor kamu ini." ucap Joni pedas.

Leher Tri terasa kebas karena di dorong terlalu kasar, matanya berkaca-kaca karena berusaha memahami lelaki yang sebenarnya tampan di depannya ini. Lelaki ini memang tampan. Tri bisa membayangkan lelaki ini di gilai banyak wanita di luar saja jika orientasi lelaki ini sehat.

"Saya hanya ingin mengingatkan kamu saja Jon.. kamu lelaki yang tampan. Kamu sudah di kodratkan untuk menjadi lelaki. Jadi imam bagi pasangan kamu nanti, apakah kamu tidak..?" Tri berusaha untuk terus bicara ketika Joni menerkam wanita tersebut dan mencekik leher Tri sehingga wanita ini sulit bernapas.

Mata Tri melotot dan ia kesulitan bernapas, lehernya terasa sakit karena di cekik tangan besar milik Joni. Lelaki ini memang menyimpang tapi tenaga tetap lelaki normal mungkin bahkan lebih.

"TUTUP MULUT KAMU INI TRI.. ATAU TIDAK AKU BUNGKAM SELAMANYA. AKU TIDAK PERDULI DENGAN PENJARA, AKU INGIN KAMU SENGSARA JIKA KAMU TERUS MENGOCEH." desis Joni sambil mengeratkan cekikan di leher Tri.

Wajah Tri sudah memerah tidak bisa bernapas. Suara seseorang berteriak dari kamar sebelah membuat Joni melepaskan cekikan di leher Tri dan tanpa waktu panjang pintu ruangan ini di terjang seseorang dengan suara meraung marah.

Suara itu berasal dari lelaki jantan kesukaannya Joni.

Mata Joni melotot melihat pistol di tangannya Tony. Lelaki ini seolah malah senang karena Tony memegang pistol.

Tony melihat Tri yang terbatuk-batuk hebat dengan wajahnya memerah seperti kesulitan bernapas.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Apa yang kamu lakukan pada Tri?" ulang Tony dengan suara sedingin kutub.

Joni mendesah, lelaki ini membenarkan rambutnya seolah mau terlihat cantik di pagi hari di depan lelaki super jantan ini.

Tony jadi menggigil melihat ulah Joni, ia baru paham kalau lelaki di samping Tri ini punya kelainan dengan menatap tubuhnya dan mendesah tadi.

"Aku.. tidak melakukan apa-apa.. bahkan belum mulai. Ehh.. akang Tony sudah datang.." ujar Joni dengan suara di buat manja.

Tony tambah jijik dan berusaha mengamati Tri yang masih terbatuk-batuk karena mungkin tersedak sesuatu. Ia tidak membiarkan Giri masuk ke ruangan ini. Ini antara dirinya dan lelaki yang menculik calon tunangannya ini. Ia tidak akan membiarkan lelaki 'sakit' ini menyakiti Tri.

BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang