Hari Minggu, rombongan Syarif dan Amel berkunjung ke rumahnya Tony. Mereka sengaja ingin mendatangi pasangan tersebut sekaligus Syarif berbicara sedikit tentang keuntungan yang di raih selama bekerja sama dengan perusahaan Tony.
Tri sangat senang menyambut kedatangan keluarga ini. Apalagi ada anak-anak kembar lucu dari Syarif dan Amel. Anak mereka menghibur Tri.
Tony juga senang karena sang istri senang. Lelaki ini sangat berterima kasih pada Syarif secara tidak langsung.
Syarif dan Amel mengamati interaksi Tri dengan anak mereka. Amel mengerlingkan matanya pada sang suami mengkode pada Tony yang tersenyum bahagia sekaligus sendu ketika anak mereka, Annisa memeluk Tri. Si bocah yang sekarang berusia hampir 3 tahun tersebut berkicau.
"Auntie jangan sedih dong.. Uncle juga.."
Ucapan Annisa tersebut menyentak Tri dan Tony. Syarif dan Amel penasaran menanti kelanjutan si anak.
"Kenapa auntie harus sedih sayang..?"
Annisa menelengkan kepalanya mengamati Tri dan juga Tony. Lalu, Annisa tersebut lebar.
"Auntie pasti bahagia. Iya kan abi?" suara Annisa tidak terdengar cedal.
Syarif mengangguk pelan tanpa tahu maksud anaknya tapi memang semua harus bahagia.
"Baby.. baby.. auntie mau baby kan.. Annisa juga mau dedek baby. Iya kan umi?" ceplos anak ini lagi membuat Amel terkejut karena ia memang sudah telat satu minggu, kemungkinan besar sih mengandung.
"Iya sayang.. umi memang suka baby. Memangnya auntie Tri mau punya baby juga..?" tanya Amel penasaran dan tersenyum.
Annisa hanya nyengir lucu memperlihatkan gigi yang belum rata tumbuhnya.
Jantung Tri dan Tony jadi berdegup kencang. Annisa duduk di pangkuan Tri, sedangkan Ridwan di pangkuan Tony. Kedua orangtua mereka duduk di seberang bocah kembar tersebut.
Syarif mengamati perubahan wajah pasangan di depannya ini. Syarif sangat yakin, kedua orang ini berharap banyak untuk cepat mempunyai anak. Tapi, Syarif tidak mengetahui secara pasti kenapa Tony yang di periksa oleh dokter Puspa, apa lelaki di depannya ini tidak subur atau ada masalah lain.
"Abi.. abi tenang saja. Semuanya sudah di atur kan." celetuk anak ini lagi seraya berbalik dan memegang perut datar Tri.
Perut Tri terasa hangat di sentuh oleh Annisa. Apakah anak Syarif ini memiliki kelebihan lain. Dalam artian punya indra ke enam? batin Tri was-was juga penasaran. Mata Annisa yang lembut itu berbinar senang layaknya tahu apa yang di pikirkan oleh Tri.
Tony berdehem dan mengangkat Ridwan supaya lebih erat di peluk oleh Tony.
"Uncle harus percaya omongan dedek Nisa." ucap Ridwan pada Tony.
Tony mengangguk pelan dari belakang kepalanya Ridwan.
Kedua orangtua balita ini tersenyum menyemangati.
"Iya nak.. kata orang, omongan anak kecil itu banyak benarnya. Dan uncle percaya ucapan dedek Nisa bermaksud baik." balas Tony bijaksana.
Annisa bertepuk tangan suka mendengarkan ucapan Tony tersebut. Semua orang menjadi riang. Percakapan netral terjalin lagi di antara mereka.
Sampai siang, Tri permisi untuk menyiapkan santap siang bersama.
Telepon Syarif berbunyi, di layar handphonenya ada wajah Amran.
"Ya..?" jawab Syarif.
"Kakak di mana?" suara Amran penasaran.
"Memangnya kenapa Ran?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}
RomanceTri Anggraini, wanita karir yang bekerja sebagai staff Accounting. Dia merasa bosan dengan keadaannya hidupnya. Ia ingin mempunyai anak karena ibunya seorang dokter spesialis kandungan. Ia merasa sedikit iri dengan kehidupan orang lain. Tony Ishak S...
