Tri mengerjakan tugasnya dengan penuh konsentrasi. Bosnya tidak rewel hari ini dalam hal laporan ataupun yang lainnya.
Syarif sih tidak pernah rewel pada Tri, mungkin lelaki itu pernah mengalami sebagai PA seseorang jadi tidak sombong ketika sudah mempunyai perusahaan sendiri dan mempunyai bawahan yang harus di pimpin.
Kakeknya Syarif otomatis pensiun. Pak Yanto hidup bahagia dengan dua orang cicit yang sering datang berkunjung untuk mereweli sang kakek. Kakeknya Syarif juga bahagia karena mendapat cucu baru, yaitu Amran, anaknya dokter Vidi. Dan Amran sangat menghormati kakeknya Syarif ini. Pak Yanto sih sudah mengamati cucu barunya tersebut dengan seksama, ia ingin memberikan perusahaan satu untuk Amran, sehingga lelaki itu bisa mengolah bakat serta kegiatana photografinya itu lebih maksimal. Dan, mungkin saja bisa berkembang di kota Bogor ini.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan di pintu kantor Tri membuat wanita itu menoleh dan mengeryit. Biasanya si bos kalau mau memanggil lewat telepon atau langsung nyelong saja seperti pagi tadi.
"Iya..? Masuk saja..?"
Wajah Tony tampak setelah pintu terbuka membuat Tri resah, lelaki itu selalu membuat dirinya mengkerut tidak nyaman terutama bagian mata Tony yang seakan bisa menembus bajunya ini.
"Ehh.. ada yang bisa saya bantu pak?"
"Tidak usah basa-basi Trang.."
Tri jadi tersentak karena ucapan ketus Tony itu, wanita ini melotot melihat Tony yang masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi depan meja Tri terlihat kesal.
"Hmm.. apakah mau saya ambilkan air..?"
Tony menganggukkan kepalanya pelan.
Tri bangkit dari kursi dan mengambil air di meja khusus dan menuangkan di gelas lalu mendekati Tony.
"Ini pak.." ucap Tri waspada.
Tony mengambil air putih itu dan langsung minum dengan tegukan cepat membuat Tri takjub memperhatikan leher keras Tony yang meneguk.
Tony menatap mata Tri yang membulat takjub karena dirinya minum.
"Kamu haus Trang..?" tanya Tony sambil menyeringai seksi membuat jantung Tri tiba-tiba berdegup kencang.
"Ehh.. tidak.." balas Tri cepat dan bingung karena sikap Tony ini tidak bisa di prediksi. Tadi terlihat kesal sekarang menyeringai. Apa sih maunya lelaki ini batin Tri gelisah sambil masih berdiri di depan Tony.
"Aku mau kamu ikut Amran ke Singapura." ucap Tony tanpa basa-basi.
Mulut Tri mengangga heran dan berpikir seolah Tony sudah hilang akal.
Tony bangkit dan meletakkan gelas di meja kerja Tri.
"Aku tidak gila Tri... tapi yang gila itu Amran. Ia mau memakai jasa pengawalan dariku asal kamu ikut lelaki itu ke Singapura untuk menemani seorang wanita model selama pemotretan." lanjut Tony pada Tri seolah tahu jalan pikiran wanita itu terhadap dirinya.
Tony saja kesal karena syarat dari Amran yang di sebutkan oleh Syarif tadi, ia mau menolah syarat itu tapi langsung di ingatkan oleh Syarif kalau perusahaannya itu mau maju maka hal seperti ini sebaiknya di ambil saja. Sebenarnya Syarif juga tidak mau Tri di bawa ke Singapura oleh Amran, tapi, Tri bisa sekalian cuti sejenak dari kegiatan kantor. Mungkin sekitar satu minggu di sana kata Syarif tadi.
"Saya rasa kalian semua sudah hilang akal. Pak.. saya ini bekerja di sini sebagai PA bukan sebagai baby sister seorang model untuk pemotretan. Dan, pak Syarif juga mungkin tidak setuju.." ucap Tri kesal karena hal ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}
RomanceTri Anggraini, wanita karir yang bekerja sebagai staff Accounting. Dia merasa bosan dengan keadaannya hidupnya. Ia ingin mempunyai anak karena ibunya seorang dokter spesialis kandungan. Ia merasa sedikit iri dengan kehidupan orang lain. Tony Ishak S...
