Amran

1.2K 107 1
                                        

Amran, di kamarnya, merasa bete karena si wanita model itu tidak sama sekali melirik ke arahnya sewaktu di dalam pesawat.

Ia sampai resah karena wanita yang berusia 28 tahun tersebut, single, punya kelas modelling sendiri, dan awet muda. Seolah kulit wanita itu tidak begenerasi karena ia sempat menoleh ke samping kiri dan memperhatikan kulit di bawah mata Kamelia itu yang tetap kencang.

Ia yang lelaki berusia 29 tahun saja sudah rada ada kulit yang mengkerut di bawah matanya. Untung bukan kulit yang lain mengkerut pikir Amran masam.

Lelaki ini lalu mengambil kameranya dan mengusap-usap benda kesayangannya itu melebihi seorang kekasih. Yah.. ia sayang sekali dengan kameran miliknya itu. Ia di tinggalkan ibunya karena sang ibu sudah meninggal ketika ia masih di bangku SMU. Ayahnya yang seorang dokter terlihat sibuk terus tanpa terlalu bisa merawat dirinya. Ia di bantu asuh oleh tantenya, adik dari ayahnya di Jakarta dan sekolah di sana sampai tamat SMU, ia melanjutkan pendidikan bangku kuliah dengan jurusan Seni fotografi. Dirinya sangat serius untuk mengapai cita-citanya sebagai fotograper profesional. Maka dari itu Amran tidak ada waktu untuk berkencan. Ia melihat semua wanita sama dari balik kamera.

Semua bisa di palsukan, entah itu senyuman, lengakungan tubuh, ataupun suara.

Amran sih orientasinya tidak melenceng, hanya saja kalau ia menghabiskan waktu dengan wanita di luar kerja agak lelah karena pekerjaannya saja sudah membutuhkan pikiran yang berat dan penuh konsentrasi. Alhasil selama ini ia hanya nongkrong jika selesai pemotretan bersama crew.

"Semoga pemotretan ini lancar. Aku sangat senang karena ada Tri yang manis ikutan juga, yah, walaupun si lelaki rahang persegi itu mengawal Kamelia juga Tri."

Amran terkekeh karena mengatakan lelaki rahang persegi untuk Tony. Amran berpikir, Tony itu terlihat sangat seram untuk ukuran lelaki, wajah lelaki itu sih sangat jantan kalau di abadikan dalam kamera. Dan, lelaki itu pasti sangat cocok untuk model pria macho.

"Hmm.. asal Tony tidak menganggu Tri saja dan aku juga bisa mendekati wanita manis itu. Kalau si model sih terlalu tinggi, anak orang kaya, pasti sombongnya setinggi langit juga." gumam Amran sambil mencium kameranya itu tanda sayang.

Lelaki ini kemudian meletakkan kamera dan mendengar handphone bergetar.

"Siapa sih yang telepon, apa tidak tahu kalau bisa roaming. Pasti kakak cantik nih yang telpon." ujar Amran sambil mengambil handphonenya dan melihat wajah kakak tirinya itu di layar handphone.

"Tuh kan benar.." rutuk Amran lagi sambil menekan tombol angkat.

"Halo.. yuhuii..? Apa kamu sudah sampai Ran..?" suara Syarif terdengar renyah di telinga Amran seperti kerupuk saja pikir Amran geli.

"Iya kak.." balas Amran keki.

"Ehh.. kok keki sih.. Mel.. ini nih Amran, dia tidak mau di telepon oleh kamu." teriak Syarif di handphone membuat Amran siaga karena ia sangat hormat pada kakak iparnya yang imut itu.

"Ehh.. tidak.. tidak.. siapa sih yang keki.. kakak jangan bilang sembarangan ya.." balas Amran cepat.

Syarif terkekeh karena berhasil menjahili adik tirinya. Suara Amel yang lembut terdengar di telinga Amran.

"Ran..? Kamu baik-baik saja?" suara lembut itu membuat hati Amran terasa 'nyes'

"Baik teh.. " balas Amran lembut.

"Hmm.. nanti setelah pulang dari Singapura, berkunjung ke rumah ya.. sepertinya kamu sibuk terus nih." lanjut Amel sambil terdengar suara kecupan seseorang.

Amran langsung mengernyit mendengar suara kecupan itu.

"Iya.. nanti aku mampir.. itu apaan sih..? Kak Arif lagi makan atau apa?" tanya Amran keki karena suara kecupan tersebut.

Suara Amel yang terkikik membuat Amran sadar kalau kakak tirinya itu berbuat hal yang kelewatan pada Amel.

"Kak...?! Aku tutup ini telepon, sudah roaming, ehh.. malah telepon sambil kecup-kecupan.. Dasar gelo.." Amran mau menutup sambungan telepon ketika suara Syarif terdengar lagi.

"Hehe.. maaf Ran.. aku tidak tahan kalau melihat istriku ini.. makanya kamu tuh ya cepat menikah dong. Biar bisa kecup-kecupan." ujar Syarif semakin jahil.

"Menikah..? Mana calonnya atuh kak..? Boro-boro calon, teman wanita dekat saja tidak ada." jawab Amran seperti sedang curhat.

Syarif terdengar menarik napas panjang.

"Cari dong Ran.. kamu itu lelaki, kalau ada yang kamu 'sreg' dekatin dong. Ajak kenalan, bila perlu culik saja." usul Syarif tapi mendapat cubitan dari sang istri.

"Ighh.. kok ngajarin Amran nyulik sih..?" ucap Amel pada suaminya.

"Ehh.. bukan nyulik seperti penjahat kitten, tapi nyulik hatinya gitu.." ucap Syarif lembut.

Amran menarik napas mendengar kedua orang itu yang malah berbicara.

"Iya deh.. nanti aku nyulik hati seseorang. Sudah ya Aa.. aku mau mandi dulu, sudah sore di sini." lanjut Amran pada Syarif.

"Hmm.. oke.. kami saja barusan mandi bersama." info Syarif pada adiknya itu.

"TIIIIDAAAKKKKKK NAAANNNYAAAAA...!!!" teriak Amran seperti orang gila.

Klik. Amran memutuskan sambungan telepon itu karena sebal kakaknya itu menjahili dirinya.

"Sebodoh amat mau mandi bersama kek, mau hemat air kek, mau usap-usapan, mau kecup basah, kecup kering. Dasar gelo tuh Aa.. Kenapa aku harus di jahili sih..?" ratap Amran sambil mendonggak seolah meminta bantuan dari sang pencipta untuk menjitak kepala kakak tirinya itu.

Amran tahu kalau Syarif itu jahilnya luar biasa. Ia juga mempunyai kakak ipar tiri dari Amel. Haris namanya, si mantan pak polisi ini selalu kena jahilin Syarif jika bertandang ke rumah sang kakak tiri. Ataupun ada geng rumpi dari kakak iparnya, Amel yang di beri nama Kusuma and the Geng. Amran memilih kabur saja jika ketemu dengan mereka kalau ia kebetulan ada di rumahnya Syarif dan geng itu ada disana.

****

BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang