Sarapan

2K 97 0
                                        

Kedua pasangan pengantin baru itu tidak ikut sarapan pagi karena Tony tidak membiarkan istrinya turun dari tempat tidur lataran sibuk menyenangkan sang istri yang ternyata menjerit kesal. ketika di serbu oleh tubuhnya. Padahal sesaat belum 'masuk' Tri merengek-rengek ingin cepat. Ehh.. setelah di dalam istrinya menjerit sambil menarik rambut poni miliknya seolah ingin mencabut lepas dari akarnya.

Tony sampai berhenti sejenak untuk mendiamkan istrinya yang menjerit kaget karena rasa hangat juga sesak di dalam sana. Tony hampir saja membatalkan program pembuatan anak ini karena melihat Tri menangis ketakutan. Tapi, setelah ia terdiam sekitar 5 menit yang panjang sembari mengusap-usap lengan istrinya dengan tubuh mereka melekat tanpa terpisah ataupun bergerak. Tri yang mulai bergerak duluan karena rasa tidak nyaman itu berubah menjadi rasa penasaran. Istrinya mengusap air mata di pipinya dan nyengir lebar menatap wajah suaminya yang shock.

Alhasil, Tri berujar seksi 'Ayo atuh akang kita lanjutkan, tadi mah iklan saja..'

Tony mengeram hebat di leher istrinya dan mereka memulai dari awal untuk menjelajahi semua kebutuhan dasar dari manusia tersebut.

Sekarang Tony duduk di sofa dan menyuapi sang istri untuk sarapan buah-buahan. Mulut Tri makan dengan lahap. Wanita ini seolah bisa menghabiskan semua makanan yang berada di meja depan sofa.

"Astaga Trang.. pelan-pelan saja.. masih banyak di bawah." ujar Tony sembari mengusap sudut mulut Tri yang meneteskan air bekas buah pir.

Tri mengangguk-angguk paham, tapi mulutnya tetap memegang tangannya Tony untuk minta suap.

Mereka berdua menikmati sarapan berdua di kamar tidur. Tadi sih dokter Puspa yang menjenguk anaknya sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah bersinar terang. Anaknya pasti sudah meminta sang suami melepaskan calon bayi. Wajah anaknya ini sungguh bisa langsung di terka.

Dokter Puspa dengan riang membawakan sarapan untuk anaknya juga menantunya itu tadi. Ia tidak perlu bukti untuk tahu anaknya ini sudah terpakai atau belum. Melihat wajah Tony yang merah padam saja sudah bisa tahu. Ia mengira-ngira anaknya akan mengandung dalam waktu dua minggu karena ia sudah memeriksa rahim anaknya sedang masa subur.

"Kang..?"

"Ya..?"

"Bagi dong anggurnya..?" pinta Tri lembut.

Tony yang sedang menggigit anggur segera tersenyum lebar. Matanya menyusuri wajah Tri yang masih memerah lantaran kegiatan mereka di. kamar mandi tadi. Well, ia tidak tahan melihat Tri tadi menggosok gigi tanpa memakai baju. Itu toh bukan salahnya kan? batinnya gembira.

Tony menyuapi lagi Tri dengan perlahan.

"Kang..?" suara Tri memanggil lagi dengan mulut penuh anggur.

"Telan dulu Trang.. jangan ngomong kalau lagi makan. Nanti tersedak." balas Tony pelan.

Tri menelan dengan pelan dan segera menarik napas panjang ketika ingin berbicara.

"Kang..?"

"Ya..?"

"Akang marah tidak ya jika saya meminta sesuatu?"

"Marah..? Karena apa? Permintaan apa yang akan membuatku marah?"

"Hmm.. " Tri jadi ragu untuk mengutarakan permintaannya.

"Katakan Trang..?"

"Itu.. itu.. apakah akang bisa mempertimbangkan kalau Joni di. bebaskan?" bisik Tri pelan.

Tony terdiam, matanya melotot menatap Tri seolah istrinya ini sudah hilang akal.

"Hmm.. ya.. tidak usah di tanggapi kang jika tidak berkenan. Hanya saja, Joni kan saudara akang, adik ipar saya." lanjut Tri dengan suara gemetaran karena melihat rahang Tony yang sudah mengencang.

Tony terlihat ingin melemparkan piring buah-buahan yang sedang di pegang lelaki itu.

Tri jadi menyesal menanyakan hal ini pada suaminya. Maksudnya sih baik, ia ingin Joni bisa berubah dan ibunya Tony setidaknya tenang karena anak satunya tidak di penjara. Semua orang bisa melakukan kesalahan. Joni pasti sudah menyadari kalau perbuatannya itu salah, Tri yakin lelaki itu mau berubah.

"Aku tidak ingin membahas hal ini Trang.. kenapa kamu berpikir seperti ini sih? Lelaki itu sudah menyakiti kamu. Apa kamu tidak ingat? Lelaki yang ternyata adik tiriku ini hampir membuat kamu di gilir oleh empat lelaki yang teler di kamar sebelah rumah itu." papar Tony panas dan meletakkan piring buah di meja dengan hentakan kuat.

Tri terkejut karena hentakan kuat piring tersebut. Wajah wanita ini menekuk bingung dan sangat menyesal karena sikapnya yang terlalu mudah kasian pada orang lain.

Air mata Tri mengantung di. sudut matanya membuat Tony tersentak dan menarik istrinya ini untuk duduk di pangkuan pahanya.

"Trang.. Ayolah.. jangan seperti ini. Aku tidak suka kamu menangis.. cobalah untuk mengerti sayang.. aku sangat tidak mudah memaafkan orang lain. Apalagi orang ini menyakiti kamu. Shh.. tenang Trang.. Kita akan membahas hal ini lain waktu saja." ujar Tony sembari mengelus pipi istrinya dan mengusap punggung belakang Tri.

Tri mengangguk dan bergumam minta maaf.

"Tidak apa-apa Trang.. aku tahu maksud kamu itu baik. Tapi, biarkan Joni sejenak di sana untuk merenung lagi bahwa perbuatan jahat pada kamu tidak bisa dengan mudah lepas dari jerat hukum." jelas Tony.

"Iya.. baiklah.. " jawab Tri pelan.

Akhirnya kedua orang ini melanjutkan sarapan dengan topik yang netral tanpa menyinggung lagi masalah Joni.

****


BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang