Rapuh

1.3K 95 1
                                        

Tony dan Tri datang ke klinik ibunya Tri.

Tony agak tegang karena dirinya yang akan di periksa.

"Kang .. rileks dong.. " ucap Tri sembari memegang tangan suaminya.

Tony mengangguk pelan. Ia pagi tadi sudah mengeluarkan di bantu oleh istrinya. Kegiatannya sih mengasyikkan, hanya saja pemeriksaan ini tidak asik batin Tony waspada. Hatinya mengatakan ada yang tidak beres.

Kalau kondisi tubuhnya sih sehat, ibunya Tri sudah memastikan hal ini. Tri juga dalam keadaan subur setelah datang bulannya berakhir.

Keduanya terlihat saling mendukung untuk mewujudkan Tri bisa mengandung anak.

Ini sih sudah sore. Pemeriksaan pada berudu-berudu miliknya sudah sedari pagi. Dokter Puspa sendiri yang membawa tabung kecil hasil pengeluaran dari tubuhnya.

Wajah Tony sangat merah padam ketika menyerahkan tabung kecil tersebut. Ia tahu mertuanya seorang dokter, tapi ia merasa risih ketika bagian dari tubuhnya ini di periksa.

Dokter Puspa keluar dari kantornya dengan wajah datar tak terbaca. Tony sampai cemas melihat mata mertuanya itu.

Tri juga berdebar-debar. Ia melihat wajah ibunya yang datar dan mata ibunya yang seolah shock tapi bisa di tutupi secara cepat. Tri tahu ada yang tidak beres.

"Nak.. " bu Puspa berdehem untuk melegakan tenggorokannya. Wanita ini terlihat kesulitan untuk bicara.

"Bu..?" nada Tri sangat ketakutan.

Dokter Puspa menarik napas panjang berulang-ulang.

Tony sudah merasa down duluan. Ia lelaki sehat.

"Trang.. nak Tony.. dengarkan ibu baik-baik ya sayang.. " bu Puspa mulai menjelaskan dengan pelan dan secara terperinci.

Tony dan Tri terdiam. mereka mendengarkan ucapan bu Puspa.

Tri tidak habis pikir kalau suaminya ada masalah dengan kualitas si berudu. Padahal banyak berudu-berudu yang di keluarkan.

"Apakah berudu-berudu akang Tony.. hmm.. itu..?" Tri kesulitan juga untuk bicara.

Dokter Puspa paham maksud anaknya itu. Tony sih memang banyak menghasilkan berudu, hanya saja kualitas yang di hasilkan belum bisa maksimal.

Tony memucat mendengar penjelasan dari dokter Puspa perihal kondisi tubuhnya. Dan juga perihal urat yang sempat tertusuk pisau pada saat kejadian penculikan Tri.

"Ini tidak masuk di akal bu.. " gumam Tony pelan dan tidak bisa menerima apa yang di ucapkan oleh mertuanya.

Dokter Puspa terkesiap oleh penolakan Tony tersebut. Tri mendesah sedih untuk suaminya ini. Pikiran tentang bayi-bayi harus tertunda karena kondisi pada berudu suaminya.

Tri menutup wajahnya sedih karena ia tidak tahu kapan bisa cepat mengandung karena ibunya mengatakan akan melakukan terapi pada suaminya. Tony di haruskan tidak terlalu stress, tidak mengenakan celana dalam ketat, harus lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, dan terpenting harus mengatur pola bercinta dengan sang istri supaya hasil lebih maksimal.

Keduanya terdiam lagi mendengar penjelasan ibunya Tri tersebut. Tony menarik rambutnya dengan geram.

"Aku sangat menyesal Trang.. aku tidak mau kamu menderita. Aku akan memastikan kamu mengandung secepatnya." ucap Tony sungguh-sungguh.

Tri menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk leher Tony erat.

Dokter Puspa juga ikutan berkaca-kaca. Ia sangat bangga dengan menantunya ini. Seorang lelaki hebat yang tidak putus asa mendengar keadaan dirinya tersebut.

"Iya kang.. kita bersama ya.. " balas Tri mengelus rambut suaminya.

Tony dan Tri pulang dengan hati berat. Keduanya berusaha terlihat tegar. Namun, di dalam hati mereka memikirkan bagaimana menghadapi keadaan ini selanjutnya. Karena bicara saja itu sangat mudah daripada melakukan.

Sampai di rumah mereka, Tony dan Tri langsung masuk ke dalam kamar tidur mereka.

"Kang..?"

Tony belum menjawab panggilan istrinya. Lelaki ini sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tri mendekati suaminya dan membantu lelaki ini untuk melepaskan kemeja kerja yang di pakai oleh Tony.

Tony masih diam. Matanya mengamati wajah sang istri yang berdiri di depannya melepaskan dasi di lehernya.

"Akang mah tenang saja. Kan anak itu rezeki dari sang Pencipta untuk setiap umatnya. Jikalau kita belum menerima rezeki itu tertunda dan kita harus memperbanyak sedekah biar rezeki kita terbuka pintunya." ucap Tri lembut tapi mata wanita ini tidak mampu menatap suaminya.

Tony menangkupkan kedua telapak tangannya untuk memegangi pipi istrinya.

Mata Tony menatap dengan rasa penuh cinta, tapi mulut lelaki ini tidak bisa mengatakan secara langsung.

"I'm sorry Trang, really sorry.. " bisik Tony lembut.

Tri jadi mau menangis karena suara rapuh suaminya meminta maaf. Mata Tri jadi berkaca-kaca lagi.

Tri juga menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Tony.

"It's ok, kang.. everything will be alright.." balas Tri jauh lebih rapuh.

Tony menarik istrinya dan mengangkat tubuh manis tersebut untuk di peluk erat.

Rengkuhan Tony mengungkapkan segalanya, putus asa, resah, marah, kecewa, kasih, pengharapan akan hadirnya anak untuk istrinya ini.

"Sampai kapan Trang semuanya baik-baik saja. Aku tidak tahu terapi itu nanti bisa mengembalikan kualitas berudu-beruduku cepat bagus." bisik Tony sembari membawa istrinya ke atas kasur dan duduk di sana.

Dokter Puspa mengatakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas berudu yaitu butuh waktu sekitar 48 jam agar kualitas berudu matang dan kental sehingga dapat membuahi sel telur Tri lebih baik. Lah.. mereka selama ini jor-joran dalam memadu kasih agar Tri bisa cepat mengandung. Dokter Puspa menjelaskan lebih lanjut kalau mengandung itu hanya butuh satu berudu matang saja sudah cukup. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa memadu kasih sampai 48 jam kemudian. Hanya saja mereka membutuhkan timing jika ingin cepat berhasil. Dan semuanya juga tergabung keberuntungan.

Tony mengusap-usap punggung belakang istrinya dengan pelan.

"Trang..?"

"Hmm..?"

"Bagaimana jika kamu tetap tidak mengandung?" suara Tony sangat menderita. Ia tak sanggup membayangkan istrinya ini sedih.

"Saya mah pasti mengandung kang. Yakinlah.. " balas Tri optimis.

"Tapi bagaimana jika tidak juga?" tanya Tony ngotot.

Tri menarik wajahnya dan mengamati mata Tony yang sedih.

"Kalau tidak mengandung, ya berudu akang itu akan kita kasih vitamin supaya bisa berkualitas baik. Seperti memberi makanan yang baik untuk si berudu dan ingin jangan memakai boxer ketat tidak bagus untuk sirkulasi darah di sekitar.. hmm.. itu.. hmm..?" wajah Tri jadi memerah karena mau mengucapkan kata tersebut.

"TonTon sayang..?"

"Ehh.. iya.. di sekitar TonTon.. ighh.. akang ini bikin saya malu.. " ujar Tri sembari membuka kancing-kancing di kemeja suaminya.

Tony jadi menarik napas panjang karena pemikiran luas dari istrinya ini. Tapi, hatinya masih menganjal.

"Trang..?"

Tony ingin sekali lagi bertanya pada istrinya.

"Kang.. ibu juga bilang jangan stress dan kepikiran terus akan hal ini. Relex, enjoy saja say.. Nanti kita pikirkan bersama ya kang.. nah, sekarang sudah sore.. kita mau mandi. Dan mandi bersama, hemat air, hemat tempat, hemat sabun juga.. " potong Tri cepat sembari melepaskan kemeja Tony dan berdiri untuk menarik suaminya ke kamar mandi.

Tony menurut dan mengangkat Tri supaya kekasihnya ini tidak banyak bergerak.

****

BABY... FOR YOU? {Geng Rempong : 7}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang