Chapter 2

15.8K 559 8
                                    

Tianzhi memperhatikan seorang gadis muda bernama Fang Yin sedang menarik busur panahnya. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, seperti seorang bidadari, selama hidupnya Tianzhi belum pernah melihat gadis secantik Fang Yin.

Di usianya 15 tahun selain pintar memanah, Fang Yin juga pintar menggunakan alat musik Guzheng ( kecapi yang memiliki 16-26 senar), Ruan ( alat musik petik berbentuk bulat dengan 4 senar ) dan Xiao ( seruling).

Tianzhi yang mengundang guru musik untuk mengajari Fang Yin hingga Fang Yin terlatih memainkannya bahkan ia mampu membuat nada sendiri.

Selain pintar memainkan alat musik, Fang Yin juga pintar membuat teh karena Tianzhi mempunyai kebun teh yang cukup luas di belakang rumah mereka. Fang Yin sendiri yang memetik dan membuat tehnya tanpa ada yang mengajarinya, ia hanya mengamati Tianzhi sejak ia masih kecil.

"Fang Yin kemarilah!!" panggil Tianzhi.

Fang Yin yang akan menarik busur panahnya langsung berhenti dan menoleh ke paman tianzhi.

Ia menghampiri tianzhi yang selalu di panggilnya dengan paman tianzhi.

Setelah Fang Yin duduk di dekatnya, tianzhi menatap gadis muda di depannya, ia sudah menganggap Fang Yin seperti putrinya sendiri. Mengingat hal yang lampau, ia merasa sangat bersalah dengan Fang Yin.

Sebenarnya setelah bertemu dengan kedua orangtua Fang Yin, Tianzhi melanjutkan perjalanannya. Selama lima tahun tianzhi berkelana hingga akhirnya ia sampai di ibukota. Di sana ia bertemu dengan seorang kasim. Ia lalu meramal kasim itu dan satu minggu kemudian kasim itu kembali dan mengajaknya masuk istana.

Tianzhi terkejut saat kasim itu mempertemukannya dengan permaisuri Lin Yao yang wajahnya sangat cantik namun ada hawa dingin dan kejam yang menyelimutinya.

Permaisuri Lin Yao minta Tianzhi untuk meramalnya.

Sebagai orang yang di anugerahi kelebihan melihat masa depan, Tianzhi pun meramalnya dan mengatakan bahwa ada seorang wanita yang kecantikannya bagai bidadari surga, akan datang dan mendapatkan hati Sang Kaisar.

Permaisuri terkejut lalu ia menanyakan siapa wanita itu.

Awalnya tianzhi ragu untuk mengatakannya namun karena permaisuri mengancamnya akan menyiksanya hingga dirinya mati secara perlahan, tianzhi menyebutkan nama sepasang suami istri yang tinggal di sebuah desa yang jauh dari ibukota. Tianzhi mengatakan kalau putri suami istri itu yang akan menjadi wanita cantik pemilik hati kaisar.

"Ada apa paman memanggilku, apakah paman ingin mendengarku memainkan Xiao ( seruling )?" tanya Fang Yin menyadarkan Tianzhi.

"Tidak Fang Yin, paman ingin mengajarimu tenaga dalam agar kamu bisa menjaga dirimu sendiri!" jawab Tianzhi.

"Tapi bukankah paman akan selalu melindungiku?!"

Tianzhi tersenyum.

"Aku sudah tua, tidak selamanya aku hidup Fang Yin!"

"Jangan berkata seperti itu paman! Hanya paman satu satunya keluargaku!" jawab Fang Yin dengan sedih.

"Fang Yin mulai besok aku ingin kau tidak makan dan minum selama tiga hari karena aku akan mengajarimu tenaga dalam, apa kamu sanggup?" tanya tianzhi sambil menatap Fang Yin.

"Fang Yin sanggup, paman!"

Tianzhi kemudian mengalihkan pandangannya, ia ingin Fang Yin bisa menjaga dirinya saat dirinya sudah tidak berada di sisi Fang Yin.

                    - ooOoo -

Tiga hari kemudian

"Kamu sudah siap?" tanya Tianzhi kepada Fang Yin yang duduk bersila di depannya, keduanya berada di kamar Tianzhi.

"Sudah paman!"

Tianzhi lalu meminta Fang Yin duduk memunggunginya..

Setelah mengambil nafas beberapa kali, Tianzhi menyentuhkan telapak tangannya ke punggung Fang Yin.

Hawa dingin menyelimuti tubuh Fang Yin saat Tianzhi menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya.

Selama beberapa jam keduanya terdiam dalam posisi yang sama hingga Fang Yin merasakan tubuhnya terasa ringan.

Dan saat menjelang pagi, tianzhi menghentikannya.

"Setelah ini aku akan mengajarimu beladiri," kata Tianzhi dengan pelan, tenaganya telah terkuras setelah menyalurkan seluruh tenaga dalam yang di milikinya ke tubuh Fang Yin.

"Sekarang aku ingin istirahat, pergilah!"

"Aku akan mencari ikan dan memasak ikan untukmu, paman!" kata Fang Yin yang merasa kasihan melihat tianzhi begitu kelelahan.

Fang yin lalu berdiri dan pergi keluar dari kamar tianzhi.

                            - ooOoo -

Saat sampai di sungai, Fang Yin melihat seorang wanita berusia 22 tahun sedang memainkan seruling di atas sebuah batu besar.

Bajunya yang mirip laki laki tidak membuat Fang Yin terkecoh, namun ia sangat mengagumi dengan alunan seruling wanita itu.

Wanita itu menoleh ke Fang Yin saat ia selesai memainkan serulingnya.

Ia menatap Fang Yin.

"Aku tidak bermaksud mengganggu kakak memainkan seruling! Aku kesini ingin mencari ikan!" sahut Fang Yin sambil mengangkat tombak yang di bawanya.

Fang Yin lalu berjalan ke tepi sungai untuk berburu ikan seperti yang biasanya ia lakukan setiap pagi.

Dengan pelan Fang Yin turun ke sungai.

Selama beberapa menit Fang Yin terdiam seperti patung menunggu ikan menghampirinya.

Wanita yang bernama Jiang Yin memperhatikan Fang Yin dari kejauhan. Ia tidak pernah melihat gadis secantik Fang Yin. Hanya racun di dunia ini yang membuat hatinya tergerak karena ia putri seorang raja racun yang terkenal di negeri ini. Namun hari ini seorang gadis sederhana telah menggerakkan hatinya, ia ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri.

Akhirnya Fang Yin berhasil menangkap empat ekor ikan yang cukup besar, ia merasa sangat beruntung hari ini.

"Apakah di sekitar sini ada penginapan?" tanya Jiang Yin yang tiba tiba sudah berada di depan Fang Yin.

Fang Yin terdiam, pamannya mengatakan kepadanya untuk tidak mudah  percaya dengan orang asing.

"Namaku Jiang Yin, aku seorang pengembara tapi saat ini aku membutuhkan sebuah tempat tinggal untuk sementara waktu karena kaki kananku terluka," kata Jiang Yin menjelaskan.

Beberapa saat Fang Yin terdiam.

"Kalau tidak ada, tidak apa apa, aku akan melanjutkan perjalananku!" kata Jiang Yin yang kemudian melangkah pergi dengan pincang.

"Tunggu kak!"

Jiang Yin tersenyum.

Fang Yin lalu berjalan mendekat hingga keduanya berdiri berhadapan.

"Rumahku hanya ada dua kamar, apa kakak keberatan tidur sekamar denganku?" tanya Fang Yin dengan pelan.

"Aku tidur di luar kamar saja, aku tidak ingin merepotkanmu"

"Kakak tidak merepotkanku, tapi aku harus meminta izin dulu kepada pamanku!" kata Fang Yin memberitahu Jiang Yin.

"Jadi dia tinggal dengan pamannya," ucap Jiang Yin di dalam hati.

"Ayo ikut denganku, kak!"

Jiang Yin tersenyum lalu berjalan mengikuti Fang Yin menuju rumahnya.

Terimakasih vote & follownya 😋

Fang YinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang