Cuaca sore ini tampak sejuk, terlihat seorang cowok keluar dari dalam toko bunga. Senyuman tipis terukir di wajah tampan cowok itu melihat senja sore ini. Seharusnya ia juga bisa melihat senja bersama Lili, namun sayangnya Lili masih terbaring koma dirumah sakit. Sudah dua minggu ini Lili belum sadar dari komanya.
Rivan menghela nafas "Senja itu indah, lebih indah lagi kalau lo ada di samping gua, Li."
Rivan masuk kedalam mobilnya, dan melajukan mobil untuk menuju rumah sakit. Didalam mobil Rivan hanya fokus kedepan, namun pikirannya selalu tertuju kepada Lili.
Rivan sampai dirumah sakit. Ia berjalan masuk kedalam ruang inap. Terlihat ada Lisni bersama Linggar, mereka menoleh saat melihat Rivan masuk.
"Ngga biasanya lo dateng sore, Van." ucap Linggar
"Maaf, gua lagi banyak tugas tadi, sekalian gua selesaiin tugas Lili, biar dia ngga ketinggalan nilai." ucap Rivan matanya menatap kearah Lili
"Makasih, Van. Walau adik gua koma, lo juga tetap mau bantu selesaiin tugas Lili." Linggar menepuk bahu Rivan
Semenjak Lili koma. Semua tugas sekolah Lili, Rivan yang selalu mengerjakan. Karena Rivan tidak mau Lili tertinggal materi.
"Terimakasih ya, Rivan, maaf sudah merepotkan kamu." ucap Lisni
"Tenang aja, Rivan bakal selalu lakuin apapun buat Lili." ucap Rivan
"Yasudah, tolong jaga Lili ya, Mama sama Linggar mau keluar cari makan." Kata Lisni
"Lo mau nitip apaan ?" Tanya Linggar
"Gua udah makan, biar gua aja yang jaga."
"Yaudah gua keluar dulu, kalau ada apa apa hubungi gua." ucap Linggar
Rivan mengangguk tersenyum. Linggar dan Lisni keluar dari dalam ruangan Lili. Rivan berjalan kearah Lili, ia melihat wajah pucat Lili yang masih terpejam.
"I'm here, kamu kapan bangun, Cantik." gumam Rivan
Rivan menghela nafas, jari jemari letik nan kulit putih itu tidak ada respon.
"Kamu mimpi apa, Cantik ? Kenapa lama banget tidurnya, kamu ngga kangen sama aku, Lili."
Rivan terus menceritakan kegiatan disekolahnya. Lili ? Tetap hanya terpejam, bahkan tidak ada respon sedikitpun Rivan menghela nafas kesekian kalinya, air matanya keluar ia tidak bisa menahan lagi.
"Tuhan, aku tidak pernah meminta apapun padamu, tapi kali ini aku mohon sembuhkan perempuan yang aku cinta. Aku hanya ingin dia kembali sehat, tanpa harus merasakan sakit lagi."
Suara pilu Rivan. Membuat sahabatnya yang melihat itu ikut merasakan apa yang Rivan rasakan. Galih, Fafian, Fazan, Dior, Jefan, dan Lintang sudah datang sejak tadi berada di belakang Rivan. Tanpa Rivan tahu, Sesa ikut bersama mereka. Sesa yang melihat Rivan begitu lemah bisa merasakannya.
"Gua nggak tega, Rivan terus kaya gini. Ini salah gua, seharusnya gua yang terbaring koma bukan Lili, maafin gua." isak Sesa
"Ini bukan salah lo. Setiap musibah nggak akan ada yang tau." kata Galih
"Tuhan terlalu sayang sama Lili, Tuhan mau Lili tidur buat sementara, karena tuhan tau mungkin hati dan fisik Lili terlalu cape." kata Fafian
"Apa yang Fafian ucapkan bener. Percuma juga kalo lo terus salahin diri lo, semuanya udah terjadi, nggak ada yang bisa putar waktu." ucap Lintang pelan
Sesa berjalan masuk kedalam ia tidak peduli dengan anak yang lain. Sesa melihat Rivan yang begitu rapuh saat ini, Rivan yang terkenal badboy nan dingin dan yang Sesa lihat bukan Rivan yang badboy.
KAMU SEDANG MEMBACA
RIVAN
Teen FictionMenjalin hubungan dengan Lili, tidak mudah untuk hubungannya berjalan mulus. Rivan Eldaren, cowok yang terkenal dengan sikap dinginnya, mulai menjatuhkan hatinya untuk Lili Ravenna. Cewek cantik yang cukup populer di SMA 1 Cendrawasih. "Seluruh seme...
