......
Jungkook berjalan dengan begitu tergesa. Dia begitu hafal watak setiap guru yang mengajarnya. Dan kali ini, dia berada dalam bahaya. Ah, dia sudah pasti dihukum sekarang.
Jungkook memasuki kelasnya. Namun ternyata dia salah. Guru itu belum datang.
"Jiminie, Jung songsaenim tak datang? Dia tak ada disini." Jungkook mendudukkan dirinya di atas meja Jimin. Membuat namja bantet itu berdecik sebal.
"Jika kau tahu, untuk apa kau bertanya lagi. Sudahlah, sana duduk di bangkumu." Jungkook hanya terkekeh lalu kembali ke bangkunya. Dia melihat Taehyung sedang menatap kosong buku di hadapannya.
Dan ayolah,, Jungkook kembali merasa bersalah sekarang. Namja itu duduk lalu menghadapkan dirinya menuju Taehyung. Bolehkah jika dia sedikit gugup sekarang?
"Tae..." Taehyung masih dalam posisinya.
"Tae,, kau marah padaku?" Kini Jungkook sedikit mengguncang tubuh s.a.h.a.b.a.t.nya itu.
"Hmm?" Taehyung hanya bergeming.
"Tae, astaga. Kau mendengarkanku tidak sih?"
"Eh, apa memang?" Taehyung menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Jungkook menghela nafasnya dalam.
Sifat itu datang lagi rupanya.
"Aku minta maaf atas perlakuanku tadi. Aku tak sengaja membentakmu. Aku mohon jangan marah, Taehyung. Aku merasa bersalah. Kau mau memaafkanku kan?" Jungkook menunduk. Hanya menahan air mata yang seolah menunggu untuk jatuh. Terdengar berlebihan mungkin, tapi itulah Jungkook. Terlalu mudah terbawa perasaan.
"Minta maaf untuk apa, Kookie?" Taehyung tersenyum sambil terus menatap namja di hadapannya.
"Tadi aku membentakmu. Pikunmu balik lagi. Masa saja kau tak ingat, Tae. Atau jangan jangan, kau marah padaku." Nada Jungkook terdengar rendah dan sedih. Membuat Taehyung yang jadi dihampiri rasa bersalah.
"K..kau mau menangis? Ah, aku mohon jangan. Aku tak marah padamu. Aku jujur. Kau tak salah sama sekali, Jungkook." Namun aneh. Ucapan Taehyung justru membuat Jungkook semakin ingin menangis sekarang.
"Hiks.." dan dia benar benar menangis sekarang.
Taehyung menghela nafasnya dengan pelan. Kenapa Jungkook menjadi lebih sensitif sekarang? Namja berambut coklat itu mengusap pelan bahu orang di hadapannya. Sekedar mencoba untuk menenangkan.
"Berhentilah, Jungkook."
"Kau sudah memaafkanku?" Tanya Jungkook sambil mencoba mengangkat wajahnya. Menatap sang lawan bicara.
"Tentu saja. Aku tak marah sama sekali. Moodmu sedang kurang baik ya?" Taehyung tersenyum disana. Membuat Jungkook pun ikut tersenyum.
Dan tak lama, guru mereka datang. Beberapa murid terdengar berdecik malas.
Namun entah kenapa, Taehyung justru ingin tertawa sekarang.
Sekaligus ingin menangis.
.
.
.
Bel istirahat telah berbunyi dengan begitu nyaring.
Yoongi dan Jimin menghampiri bangku Taehyung. "Tae, Kookie, mau ikut ke kantin? Namjoon dan Hoseok telah kesana duluan." Ucap Yoongi dengan ekspresi datarnya.
"Aku tak akan ke kantin. Aku ingin diam disini." Jungkook tersenyum. menampilkan gigi kelinci andalannya.
"Kalau begitu, aku juga tak akan ikut." Taehyung ikut bersuara. Yoongi dan Jimin hanya tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan kedua namja itu.
Jungkook berbalik ke arah Taehyung. Kini posisi mereka berhadapan. Menyatukan atensi yang sama sekali tak disengaja.
"Tae, Yugyeom kemana? Aku baru sadar jika dia tak ada hari ini." Jungkook melirik ke arah bangku Yugyeom.
"Dia sudah pulang, Jungkook. Ayahnya meminta dia pulang cepat." Jelas Taehyung dengan datar.
"Memangnya rumah Yugyeom itu dimana? Dan kenapa dia disuruh pulang cepat?" Tanya Jungkook lagi.
"Tentu saja rumahnya di bintang. Dia pulang cepat pun karena situasi yang kurang membaik sekarang. Dan seharusnya aku juga pulang, tapi---" Taehyung membolakan matanya. Tangannya terkepal kuat karena dia keceplosan dan kali ini jauh lebih panjang dari biasanya. Jungkook memiringkan kepalanya karena tak paham.
"Cih. Selalu saja berkhayal. Aku sedang tak mau bercanda, Alien... jadi rumah asli Yugyeom itu dimana?!" Tanya Jungkook dengan nada kesal.
"Ehehehee.. dimana ya?? Emmhh, aku pun kurang tahu." Taehyung tertawa malu sambil menggaruk lehernya yang sama sekali tak gatal. Hanya sebagai pengalihan dari rasa gugupnya.
Jungkook mengerlingkan bola matanya. Lalu menghela nafas dalam, dan sedikit mengusap dadanya. Sudah lama Taehyung tak seperti ini. Jungkook fikir jika namja itu telah berubah sekarang. Namun nyatanya tidak. Bahkan otak aliennya terasa lebih miring sekarang. Hanya segitu fikir Jungkook.
"Taehyung De Alien,, kau tahu? Kau kembali membuat diriku kesal hari ini. Yugyeom itu sahabatmu dan tak mungkin jika kau lupa tempat asalnya, Tae. Kau ingat saat pertama kita kenal dulu?" Jungkook tersenyum sambil mengepal tangannya. Bersiap siaga jika beberapa detik lagi dirinya meledak karena ulah Taehyung.
Namja berambut coklat itu hanya mengangguk sambil cengengesan.
"KAU BAHKAN SUDAH MEMBUATKU KESAL SEJAK DAHULU! Memanjat genting, lalu memaksaku untuk mengantarmu mendaftar sekolah, lalu sebelumnya kau pun sempat lupa namamu. Dan hari ini, kau lebih pikun dari dahulu. AKU JADI BENAR BENAR CURIGA KALAU DIRIMU ADALAH TITISAN ALIEN DARI PLUTO, TAEHYUNG!! Astaga, Ya Tuhan,, maafkan diriku ini." Jungkook menarik dan membuang nafasnya secara kasar. Dia juga mengusap dadanya. Lagi dan lagi, hanya untuk sedikit menenangkannya.
Taehyung terbahak disana. Jujur saja, melihat ekspresi Jungkook saat ini membuatnya sakit perut. Sedikit hiburan katanya. Lebih menghibur daripada konser BTS di Mars nanti. Dan disana, pasti Taehyung akan bahagia karena banyak alien yang menonton konser bersamanya.
Baik, cukup.
"Kau tahu, Jungkook? Ekspresimu itu membuatku sakit perut hahaha... kenapa kau lucu sekali saat marah? Pipi merahmu seperti kepiting rebus dan membuatku lapar. Ah,, aku jadi ingin makan." Mata Taehyung terlihat menerawang ke langit langit kelas.
Jungkook merengut dan melipat kedua tangannya. "Kenapa aku bisa kenal dengan manusia sepertimu sih? Rencana Tuhan memang tak terduga. Dan kenapa aku bisa menyukaimu? Cih. Lupakan." Dan kalimat terakhir itu diucapkan Jungkook di dalam hati tentunya.
Taehyung masih tertawa disana.
Rasanya, begitu sulit untuk berhenti melihat ekspresi menggemaskan sahabatnya itu.
Ah, Taehyung jadi ingin benar benar memakannya sekarang.
Biar kanibal katanya.
______________
TBC
See you,
Youngie
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Tears: Blessing-[VK] [END]
Fantasia[Completed] Genre: Drama, fantasy, thriller "Malam kematian, aku mendengar suara kesedihan itu." Taehyung adalah pangeran bintang yang ditugaskan untuk menghibur seorang manusia bumi. Dia datang dalam gelapnya malam, kesunyian yang menyelinap dalam...
![Sweet Tears: Blessing-[VK] [END]](https://img.wattpad.com/cover/171046375-64-k698975.jpg)