Pernikahan sudah digelar kemarin dengan sebaik mungkin walaupun ada masalah sedikit karena hujan rintik.
Setelah acara selesai Jo dan Yola bukan menginap dihotel tetapi nginap di rumah orangtua Yola, sebenarnya banyak penolakan dari Ibu Ningsih, tetapi Jo menjelaskan dengan baik yang akhirnya Ibu Ningsih hanya bisa pasrah mengikuti kemauan menantu satu-satunya itu.
Dan disinilah Jo tidur dikamar Yola bersama dengan perempuan sempurna menurutnya, rasanya cukup bahagia.
Jo sudah bangun, tetapi badannya masih tidak mau beranjak dari kasur nya sambil memeluk Yola yang masih terlelap, padahal semalam mereka hanya mengobrol dan diakhiri dengan kecupan singkat dari Jo.
Malam pertama mereka ditunda sebentar karena Jo tidak mau mertuanya mendengar suara aneh, bisa hancur reputasi Jo pikirnya.
Yola bergerak pelan, matanya sudah dibuka nya sedikit untuk melihat keadaan sekitar.
"Jo, kamu kok disini?"
Jo masih mencerna kata-kata Yola barusan, sepertinya Yola lupa hari kemarin.
"Ohiya kita kan udah resmi ya?" Setelah mengatakan itu Yola tertawa pelan.
"Baru sehari loh yol, udah lupa aja."
"Bukan lupa aku masih nggak nyangka tau."
"Kamu telat bangun, nggak buatin aku sarapan?"
"Ih katanya pas kita nikah kamu aja yang masak, aku nya santai."
Niat Jo untuk mengerjai Yola kali ini gagal.
"Maksudnya bantuin Ibu buat sarapan."
"Oh itu maksudnya kamu, ibu nggak suka kalo aku ikutan masak kata ibu aku bukan nolongin tapi bikin ribet, gitu."
"Ohgitu. Jadi kapan kita berangkat honeymoon?"
"Hm. Seterah kami bisa nya kapan. Tapi cuti aku kan cuma dua minggu aja."
"Kalo gitu besok kita berangkat."
"Kemana?"
"Ke mana aja yang penting perginya sama kamu itu aja sih syarat aku."
"Kalo gitu diapartemen kita aja gimana? Tapi kalo kamu mau."
"Kok gitu? Nggak mau ke daerah mana gitu?"
"Mau sih. Tapi enakan di apartemen kita nggak ribet juga kan."
"Kamu sekarang udah bisa nge godain ya?"
"Kamu yang ngajarin aku supaya centil kaya gini."
Jo tersenyum, kapan dirinya mengajari hal seperti ini kepada Yola.
"Aku ke dapur dulu. Kamu stay disini aja nanti kalo makanan nya siap aku panggil."
"Nggak. Aku juga mau keluar."
"Loh?"
"Aku mau ngobrol sama papa kamu, diem dikamar namanya nggak tau diri."
Ketahuilah dengan Jo mengatakan hal itu ada kebahagiaan didalam hati Yola rasanya memang aneh tapi itu membuatnya bahagia, ternyata mencari kebahagiaan itu gampang hanya dengan bersyurkur bahagia itu menyapa kita.
***
Ibu Ningsih sudah rapi dengan masakan yang tadi dibuatnya, niatnya untuk membangun Yola dibatalkan karena dirinya tahu bahwa Yola sangat lelah menyapa para tamu bahkan mengiyakan ajakan para tamu untuk berfoto bersama.
"Selamat pagi ibu." Sapa Yola sambil memberikan back hug kepada ibu nya.
"Kamu tuh udah nikah masih kaya anak kecil."
"Aku kan masih putri kecil aku, oh iya bapak mana?"
"Ada di depan, lagi bersihin motor antiknya mungkin."
"Suami kamu mana?"
"Jo kedepan bu, mau ngobrol sama bapak katanya."
"Kalo gitu kamu buatkan teh untuk bapak sama Jo ya jangan lupa cemilan rotinya juga dibawain."
"Suruh mereka sarapan dulu aja bu."
"Bapak kamu sarapan itu jam 9 dan ini masih jam setegah 8."
Yola hampir lupa jam sarapan orangtuanya. Kedua kelopak matanya menangkap moment dimana Jo dan bapaknya sedang berbincang seperti terlihat sudah saling mengenal.
Jo memang pandai membuat hati Yola selalu berdegup lebih kencang, dan itu membuat Yola bahagia.
Jam sembilan akhirnya tiba, mereke berempat duduk dimeja makan, didepan mata mereka ada lauk khas masakan sunda dan teh manis hangat menjadi pelengkap sarapan mereka.
"Sekarang kamu udah bisa ambil makanan buat suamin kamu ya." Ucap Bapak disela-sela sarapan mereka.
"Iyadong, bapak mau aku ambilin?"
"Bapak juga punya istri yang lebih pinter ngelayanin." Balas ibu, ucapan ibu barusan membuat mereka senyum-senyum terutama Bapak.
Mereka kembali fokus untuk sarapan dan benar hari ini cukup bahagia.
***
Sore pun menyapa, Jo dan Yola sudah pamit untuk pulang ke jakarta seperti biasa jalanan tidak begitu mulus, macet pun menyapa dan itu membuat hati Yola sedikit gugup disamping Jo saat ini.
Walaupun mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri tapi kali ini rasanya beda, Jo semakin hari ketampanannya bertambah dan Yola merasa dirinya sudah sedikit berubah secara penampilan. Ah itu nggak adil baginya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Jo penasaran.
"Nggak, aku lagi mikir aja."
"Mikirin apaan? kok gelisah gitu."
Yola pun menatap Jo.
"Jangan nunjukin muka kamu kearah aku, aku lagi nyetir."
Yola langsung mengubah posisinya.
"Jo, aku mikir kalo kamu makin hari makin ganteng."
"Wow! selama kita pacaran baru pertama kali kamu bilang aku ganteng."
"Ih seriusan. Aku takut kamu selingkuh deh."
"Masih aja meragu, kalo gitu mendingan nggak usah nerima gue." Jawab Jo kesal ini sudah kali berapa Yola selalu mengatakan hal yang tidak penting menurutnya.
"Kamu mah seriusan banget ngejawab ucapan aku, becandaan doang kok Jo."
"Lainkali jangan ngomong yang nggak ada gunannya gitu."
"Iyaya, maaf kalo gitu."
Yola pun diam, dalam pikirannya hal seperti itu bukannya hal yang wajar? Mungkin ini fasenya dimana seorang istri takut suaminya nakal.
Setibanya dijakarta Jo dan Yola beristirhat diapartemen mereka, honeymoon? mereka membatalkan acara itu dengan berbagai alasan. Jo saat ini tidur disamping Yola sudah bahagia, menurutnya honeymoon bisa kapan saja kalo sekarang nggak bisa masih ada hari esok yang kita belum tau akan terjadi hal apa, jadi sekarang nikmati saja prosesnya.
***
Yeay akhirnya aku up juga
Part ini mungkin sedikit bosen tapi gapapa kan?hehe
Selamat bertemu kembali dengan Jo dan Yola
Jangan lupa vote dan komen ya karena itu sangat berharga bagiku:')
LOVEAN
KAMU SEDANG MEMBACA
After Break Up
General FictionSeharusnya kita tak pernah bertemu jika akhirnya kita memutuskan untuk berpisah. End 22.08.19 Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan bintang dan komen kalian❤️ Cerita ini masih banyak kesalahan, dan mohon maaf jika penulisan salah. Terimaksih✨ C...
