06

1.8K 75 4
                                        

haii haii...........
Happy reading ..........

" Raga! kamu hanya punya satu kesempatan lagi untuk berubah! itupun jika kamu masih ingin berada dikampus ini" Ancaman Pak Tompul menghentikan langkah Raga.

Raga memutar badannya menghadap kearah dimana Pak Tompul dan pria tegap berdiri disampingnya. Raga menatap keduanya satu - persatu dengan tajam dan berani.

" Kalian pikir ini tempat yang Gue mau?" Tanya Raga dengan senyum miring.

" Jadilah pria yang berguna Raga!!" Terik pria tegap yang tidak lain adalah Ivan, Ayah Raga.

Senja yang tengah berjalan sontak mengangkat kepalanya setelah mendengar teriakan keras itu. gadis tersebut semakin merapatkan tubuhnya pada dinding eskalator kampus.

" Anda terlalu berani menganggap diri Anda berguna" Ucap Raga dengan satu alis yang terangkat.

Raga melanjutkan langkahnya pergi dari hadapan kedua orang tersebut.

" Kamu harus ingat pesan Liris, kamu harus tetap dikamp_ " Ucapan Ivan terpotong oleh Raga.

Raga mengangkat jari telunjuknya dan menghentikannya tepat di depan mata Ivan.
" Anda nggak pantas nyebut nama Ibu Saya " Ucapnya tegas.

PLAKK!!

Tamparan mendarat tepat dipipi kanan Raga.

Pak Tompul dan Senja dari sisi yang berbeda, bersamaan terkejut dengan perlakuan Ivan kepada Raga. tak lama Pak Tompul menyadari keberadaan Senja dari kejauhan.

Pak Tompul meminta Ivan dan Raga untuk masuk kedalam ruangannya agar tidak menjadi pusat perhatian.

Raga memberontak enggan masuk keruangan tersebut. Namun air mata Pak Tompul berhasil membuat Raga luluh dan mengikuti perintahnya untuk masuk kedalam ruangannya.

Pak Tompul merupakan dosen satu - satunya yang tulus care sama Raga. Meskipun Raga tidak begitu percaya akan hal itu, karena banyak dosen yang memandangnya hanya sebatas anak dari pemilik kampus.

Meski sering memarahi dan mengejar serta menghukum Raga, Pak Tompul sama sekali tidak pernah membicarai diri dan keluarga Raga dibelakangnya.
hal itu juga yang membuat Raga menghargai dosen tersebut.

Setelah ketiganya masuk, barulah Senja memberanikan dirinya melewati ruangan Pak Tompul dengan langkah secepat mungkin.

***

" Le, si Raga mana ya? Gue chat nggak dibales Gue telfon nggak diangkat! ini anak hilang timbul udah kayak jaringan aja!" Celoteh Azka.

" Di Cafe juga nggak ada. Coba Gue telfon Pak Budi bentar ya" Tambah Leon.

" Pak Budi siapa Le? Bapak Lo ? " Tanya Azka dengan cengiran khasnya.

Leon yang tengah menggeser - geser layar ponsel langsung menghentikan aktivitasnya dan menoyor kepala Azka.

" Nih, biar Lo ingat" Jawab Leon.

Azka mengelus bekas toyoran Leon dengan tangan." Ooo Gue ingat! Pak Budi satpam rumah Raga kan?"

Bukanya menjawab pertanyaan Azka, Leon sudah berbicara dengan orang diseberang sana. yaitu Pak Budi.

Azka menghampiri Leon yang sudah selesai dengan ponselnya.

" Gimana? " Tanya Azka.

SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang