(Revisi version 2026)
Abela Silfiana Pramudya guru BK cantik yang masih saja gagal move on dari sang mantan tiba-tiba dijodohkan oleh kedua orangtuanya atas dasar kebelet ingin menggendong cucu. Kilse memang.
Dijaman yang sudah maju seperti ini tent...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, ia sudah memarkir mobilnya dengan rapi di area parkir khusus guru SMA Garuda, sekolah swasta ternama tempat Abela mengabdikan diri. Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi lingkungan sekolah telah dipenuhi aktivitas yang mulai menggeliat.
Abela bukan staf administrasi, bukan pula guru mata pelajaran umum. Ia adalah guru Bimbingan Konseling—profesi yang sejak kecil sudah menjadi mimpinya.
Padahal, jika mau, Abela tak perlu repot bekerja. Keluarganya memiliki bisnis besar yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa henti. Namun, ia menolak meneruskan usaha keluarga itu. Baginya, uang bukan tujuan utama. Mengajar adalah panggilan hati.
Keputusan itu sempat menuai penolakan keras dari kedua orang tuanya. Abela adalah anak tunggal—satu-satunya harapan pewaris bisnis keluarga. Mama dan papanya bingung, kepada siapa lagi mereka akan menyerahkan semua yang telah dibangun bertahun-tahun, jika bukan pada putri semata wayang mereka.
Perdebatan panjang akhirnya berujung pada persetujuan. Tapi ada satu syarat.
Syarat yang hingga kini tak pernah Abela ketahui.
Orang tuanya tak pernah menjelaskan, dan Abela pun memilih untuk tidak memikirkannya. Baginya, yang terpenting adalah satu hal: ia sudah menjadi guru.
Di SMA Garuda, Abela dikenal dengan julukan yang cukup menyeramkan—guru killer. Julukan yang menurutnya sama sekali tidak adil.
Siapa pun yang belum pernah melihatnya mengajar pasti tak akan percaya. Bagaimana mungkin perempuan bertubuh mungil, berkulit putih, dengan wajah cantik dan senyum manis itu dicap sebagai sosok menakutkan? Saat tersenyum saja, para siswa laki-laki bisa mendadak salah tingkah, sementara siswi perempuan tak jarang menatap iri.
Bidadari, begitu kesan pertama orang-orang.
Namun, julukan killer itu biasanya datang dari mereka yang pernah berurusan langsung dengannya—para siswa bermasalah. Abela membenci kekacauan. Ia tak segan menindak tegas siapa pun yang membuat masalah. Justru itulah alasan ia memilih menjadi guru BK: membereskan yang berantakan, bukan membiarkannya semakin kacau.
Tangan Abela sudah hendak membuka pintu mobil ketika ponselnya bergetar, menghentikan gerakannya.
Mama Cantik is calling...
Abela mendesah pelan. Ia sudah bisa menebak topik pembicaraan. Pasti soal yang itu lagi—kapan ia akan membawa calon suami ke rumah.
Menyebalkan.
Saat ini, Abela jauh lebih menikmati hidupnya sebagai guru yang mengomeli murid bandel daripada mendengar ceramah panjang dari mamanya. Namun, menghindar hanya akan membuat omelan itu semakin panjang.