(Revisi version 2026)
Abela Silfiana Pramudya guru BK cantik yang masih saja gagal move on dari sang mantan tiba-tiba dijodohkan oleh kedua orangtuanya atas dasar kebelet ingin menggendong cucu. Kilse memang.
Dijaman yang sudah maju seperti ini tent...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu yakin sayang?" Abela menghela nafas kesal karena Rikhan sudah bertanya dengan pertanyaan yang sama sebanyak 10 kali.
"Yakin!" jawab Abela kesal kali ini. Rikhan menatap Abela geli. Saat ini keduanya sedang ada di rumah sakit tempat Salsa dirawat. Sejak kemarin Abela ribut ingin menjenguk Salsa.
"Ayo." Abela keluar dari mobil disusul oleh Rikhan. Abela tanpa malu merangkul lengan Rikhan mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit.
Rikhan menoleh menatap tangan Abela yang ada di lenganya. Melihat Abela yang inisiatif bersentuhan dengannya membuat bibir Rikhan tersenyum kecil. Keduanya melangkah kearah lift rumah sakit. Rikhan menekan tombol 4. Ruangan Salsa ada di lantai 4 dengan nomor kamar 401.
Tidak butuh waktu lama Rikhan dan Abela sudah tiba di depan pintu dengan nomor 401 VVIP. Satu satunya ruangan yang di depan pintunya terdapat 2 bodyguard yang menjaga di depanya.
"Maaf tuan Rikhan, tuan Wildan tidak mengijinkan siapa saja untuk menjenguk nyonya Salsa." Salah satu bodyguard maju untuk menjegah Rikhan dan Abela masuk ke kamar rawat Salsa.
"Bilang Wildan aku dan istriku ingin berkunjung." Rikhab berkata datar pada bodyguard didepanya. Sang bodyguard menoleh kearah 1 kawanya lalu tanpa banyak bicara bodyguard itu mengetuk pelan pintu ruang rawat inap Salsa dan masuk kedalam. Tidak sampai semenit bodyguard itu keluar lalu membukakan pintu untuk Rikhan dan Abela masuk.
"Silahkan tuan nyonya." ucap bodyguard itu.
Rikhan merengkuh pinggang Abela lalu mereka berdua berjalan masuk keruangan Salsa. Ruangan luas itu terlihat nyaman dengan fasilitas lengkap. Dan jendela yang menunjukan riuhnya kota di bawah sana. Ruangan yang sangat nyaman tetapi Abela menatap pada Salsa wanita itu berada di ranjang rumah sakit dengan Wildan yang duduk di sofa dekat ranjang pasien tidak nampak sama sekali raut nyaman di wajah mereka berdua.
Abela sedikit menahan nafas takut jika kunjunganya ini memang salah. Tetapi Abela hanya ingin memastikan sesuatu.
"K-kak Rikhan." Salsa menatap Rikhan sendu.
Wildan beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat kearah ranjang Salsa.
"Bagaimana keadaan istrimu?" Rikhan tidak menatap Salsa sama sekali. Rikhan menatap datar pada Wildan. Kedua pria itu sama-sama berwajah dingin.
"Mendingan." Wildan menjawab singkat.
"Aku mengucapkan turut berduka Wildan Salsa." Abela memberanikan diri berbicara. Tatapan Wildan beralih kearah Abela lalu Wildan mengangguk singkat.
"Terima kasih."
"K-ak Rikhan, apa kakak sebenci itu padaku? Bahkan kakak sama sekali ngga mau natap aku?" Salsa sedari tadi menatap Rikhan sendu. Dadanya sangat sesak melihat tangan Rikhan yang berada di pinggang Abela. Terlihat ingin melindungi.
Wildan menoleh kearah Salsa. Menatap Salsa dalam diam.
"Salsa." Wildan memperingati istrinya. Salsa menghiraukan Wildan, tatapan Salsa hanya fokus pada Rikhan.