Bab: Tiga

13.2K 431 1
                                        

"Oke, no problem

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Oke, no problem. Not a big problem. Sepertinya saya yang salah di sini. Saya minta maaf kalau begitu."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Abela, nyaris tanpa jeda. Ia hanya ingin satu hal: pergi. Menghilang dari hadapan pria itu sebelum dadanya benar-benar runtuh dan emosinya tak lagi bisa ia kendalikan.

Abela bersiap membalikkan badan, melangkah menjauh dari sumber kekacauan yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

Hangat. Tegas. Terlalu familiar.

Tubuh Abela menegang seketika.

Pria itu berdiri tepat di belakangnya—bertubuh tinggi, bahu bidang, kulit cokelat eksotis yang dulu sering menjadi tempat Abela bersandar. Abela memejamkan mata, menahan napas yang terasa tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdetak tidak karuan.

"Sepertinya saya harus bertanggung jawab," ucap suara itu, dalam dan tenang. "Mobil kamu mengalami goresan karena saya."

Abela menelan ludah.

Tanggung jawab?

Dulu, ketika hatinya remuk, ketika dunianya runtuh karena pengkhianatan, ke mana perginya tanggung jawab itu?

Sekarang, hanya karena goresan di bodi mobil, pria ini dengan enteng berbicara soal tanggung jawab?

Sial.

Abela membuka mata, menarik napas panjang untuk menata diri, lalu berbalik. Ia mendongak, menatap wajah pria bernama Rikhan itu dengan tatapan datar—tatapan yang ia latih selama bertahun-tahun untuk menyembunyikan luka.

"Saya masih sanggup membawa mobil saya ke bengkel sendiri," jawab Abela dingin. "Lagian, saya yang salah. Jadi Anda tidak perlu bertanggung jawab."

Ia mengayunkan tangannya cukup keras hingga cengkeraman Rikhan terlepas.

Belum sempat Rikhan merespons, pintu mobil bagian penumpang terbuka. Wanita hamil yang tadi Abela lihat di toko roti turun perlahan, wajahnya penuh rasa penasaran. Perutnya yang membesar tampak jelas di balik gaun longgar yang ia kenakan.

Sesuatu di dada Abela terasa kembali ditusuk.

"Sebaiknya Anda simpan uang Anda untuk biaya persalinan istri Anda," ucap Abela sinis, dagunya terangkat angkuh. "Dia jauh lebih penting daripada goresan di mobil saya."

Dagunya bergerak kecil, menunjuk ke arah wanita hamil itu.

Nada suara Abela terdengar tajam—terlalu tajam untuk sekadar sindiran. Ada sesuatu yang nyaris terdengar seperti... cemburu. Dan itu membuat Abela sendiri muak pada dirinya.

Rikhan mengangkat sedikit alisnya. Ada senyum kecil yang berusaha ia sembunyikan, seolah ia menangkap sesuatu dari nada suara Abela. Namun ekspresi wajahnya tetap datar, nyaris tak terbaca.

MY BASTARD EX (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang