BAB:DUAPULUH SEMBILAN

7.6K 249 10
                                        

Ruangan hotel yang luas itu terasa hening. Kedua pasangan pengantin baru itu hanya terdiam, saling menatap dalam. Menyelami mata pasangan mereka masing-masing.

"Kamu percaya padaku?" tanya Rikhan lembut.

"Tidak. Aku tidak percaya lagi padamu setelah bertahun-tahun lalu." ucap Abela datar.

"7 tahun lalu, apa kamu ke apartemenku? Saat itu pasti kamu lihat aku dan Salsa kan?" Rikhan mencoba menjelaskan perlahan.

"Nggak cuma itu." mendengar ucapan Abela, Rikhan mengernyitkan dahinya.

"Maksud kamu?"

"Sebelum ke apartemen kamu dan melihat kamu pelukan dengan Salsa. Aku tau kalian ada di cafe dan kalian juga pelukan. Waktu itu ada nomor asing yang mengirim gambar kalian berdua sedang di cafe." mata Abela menatap dalam pada kelereng hitam Rikhan yang terlihat bertanya-tanya.

"Foto?" bisik Rikhan. Pikiran Rikhan berputar-putar, menebak siapa yang sudah membuat semua ini berantakan. Kalau saja pengirim foto itu tidak mengirim fotonya dengan Salsa, Rikhan yakin Abela tidak akan salah paham denganya. Elanya masih akan ada di pelukanya dan mungkin saat ini dirinya sudah punya banyak anak lucu karena menikahi Abela sejak dulu. Rikhan pasti akan mencari tahu siapa yang memulai ini semua.

"Pertama hal yang harus kamu tau aku bukan anak tunggal Ela." ungkap Rikhan dan tara raut terkejut menghinggapi wajah cantik Abela.

"Apa? Kenapa aku baru tau? Kamu punya adik atau kakak? Siapa dia?" senyum kecil Rikhan terbit saat mendengar petanyaan beruntun dari istri cantiknya yang tentu saja merasa sangat penasaran.

"Ceritanya panjang Ela."

"Wildan, dia kakakku."

"Hah? Ap-a?" belum cukup 1 kenyataan yang diterima Abela, sekarang 1 kenyataan lain sudah lebih mengejutkanya.

Hah, mau berapa fakta mengejutkan lagi yang harus di terimanya? Ini baru permulaan.

"Wildan? Suami Salsa? Atau ada Wildan yang lainya?"

"Kamu benar sayang, Wildan suami Salsa. Dia kakakku, kakak kandungku." tangan Rikhan hinggap di kepala Abela, mengelus rambut lebat istrinya dengan lembut. "Kenapa kamu ga pernah cerita?" wajah shock Abela masih terlihat.

"Kami tidak akur." sejak tadi, mata Rikhan tidak pernah meninggalkan wajah Abela, mengamati setiap ekspresi dari wajah wanitanya.

"Karena Salsa." nada sinis dalam suara Abela tidak bisa di tinggalkan.

"Bisa di bilang begitu," jawab Rikhan singkat. "Salsa dia anak tante Sandra adik papa. Tante Sandra mengidap penyakit kanker darah. Karena ingin fokus pada pengobatanya Tante Sandra menitipkan Salsa pada mami sama papi. Salsa, pertama kali dia menginjakan kakinya di rumah, entah kenapa rasa ingin melindunginya begitu besar. Aku kira itu cinta. Dan semua lebih rumit lagi karena Wildan, dia juga menyukai Salsa tapi Salsa menyukaiku. Aku sudah mencoba merelakan Salsa untuk Wildan saat aku bertemu denganmu. Kalau boleh jujur, saat itu aku hanya ingin menggunakanmu untuk bahan pelarianku saja tapi ternyata aku jatuh cinta terlalu dalam padamu. Jadi Abela Silfiana Ringgarda. Ada yang ingin kau tanyakan? Aku akan jawab semua pertanyaanmu."

Abela hanya bisa terdiam mendengarkan fakta mengejutkan lainya lagi. Ada sudut hatinya yang merasa perih saat mendengar dulu Rikhan hanya akan menjadikanya bahan pelarian dari Salsa.

Mata Abela menatap mata Rikhan mencari kebohongan dalam bola mata itu. Tapi nihil, Abela tidak bisa menemukan kebohongan apapun dari mata Rikhan.

"Trisha, dia anak mu?" Rikhan tersenyum mendengar pertanyaan Abela.

MY BASTARD EX (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang