(Revisi version 2026)
Abela Silfiana Pramudya guru BK cantik yang masih saja gagal move on dari sang mantan tiba-tiba dijodohkan oleh kedua orangtuanya atas dasar kebelet ingin menggendong cucu. Kilse memang.
Dijaman yang sudah maju seperti ini tent...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam pelajaran kedelapan akhirnya dimulai—sekaligus menjadi penanda bahwa hari mengajar Abela hampir selesai.
Bel pergantian jam berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Abela menutup sesi konseling pagi itu dengan senyum profesional, lalu mulai merapikan berkas-berkas di atas mejanya.
"Oke, konseling kita hari ini cukup sampai di sini karena bel pergantian jam sudah berbunyi," ucap Abela dengan suara tenang. "Selamat siang, semuanya."
"Siang, Bu!" jawab siswa-siswi kelas XI IPA 1 serempak.
Abela melangkah keluar dari kelas dengan perasaan lega. Jam mengajarnya telah usai. Yang tersisa hanyalah menunggu bel pulang sekolah sebelum ia benar-benar bisa meninggalkan lingkungan SMA Garuda.
Sesampainya di ruang BK, Abela duduk di kursinya dan membuka laptop. Ruangan itu sebenarnya tidak hanya miliknya seorang. Ada satu guru BK lain—Bu Anisa—namun hari ini wanita paruh baya itu tidak masuk. Abela menyukai Bu Anisa. Sosoknya yang sabar dan lembut sering membuat Abela merasa seperti berada di dekat ibunya sendiri. Tak heran jika Bu Anisa menjadi salah satu guru favorit di sekolah.
Jari-jari Abela mulai menari di atas keyboard, menyusun materi konseling untuk hari esok. Waktu luang seperti ini jarang ia sia-siakan.
Saat sedang fokus, pintu ruang BK terbuka.
Abela mendongak sekilas. Nadia.
Ia kembali menunduk ke layar laptop.
"Kenapa, Nad?" tanyanya cuek.
"Kekantin yuk, Bel. Mumpung belum rame anak-anak," ajak Nadia santai.
Abela menoleh ke jam tangannya. Hampir pukul tiga sore. Perutnya langsung berkontraksi, mengingat ia melewatkan jam makan siang tadi.
"Bentar. Aku matiin laptop dulu," katanya sambil menghela napas.
"Nghokey."
Setelah mematikan laptop, Abela berdiri dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue laper. Tadi gue nungguin lo makan siang, lo nggak nongol," omelnya.
Nadia terkekeh kecil. "Maaf. Tadi ngadain kuis, ribet nilai anak-anak."
"Oke deh, no problem. Yuk."
Mereka melangkah keluar ruangan bersama.
"Inget ya, Nad. Kita masih di area sekolah. Panggil gue Bu Abela, bukan lo-gue," dumel Abela.