(Revisi version 2026)
Abela Silfiana Pramudya guru BK cantik yang masih saja gagal move on dari sang mantan tiba-tiba dijodohkan oleh kedua orangtuanya atas dasar kebelet ingin menggendong cucu. Kilse memang.
Dijaman yang sudah maju seperti ini tent...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abela bergeming saat merasakan tepukan hangat lengan seseorang di pundaknya.
"Bel, gue anter ke kamar lo yuk?" tawar Hasya lembut. Seakan teringat jika di ruangan itu ada orang lain selain dirinya, Abela mendongak mantap wajah cantik Hasya sepupu Rikhan.
"Maaf gue gak berhak buat ngejelasin situasi ini sama lo but gue saranin lo omongin masalah ini baik-baik sama bang Rikhan." Abela hanya tersenyum kecil pada Hasya lalu beranjak dari duduknya. "Thank Sya. Gue bisa kekamar sendiri, gue duluan ya." senyuman terpaksa Abela berikan.
Tanpa perlu repot-repot lagi Abela berjalan menjauh dari restoran.
Satu pertanyaan di benak Abela.
Siapa Salsa? Bukanya tadi adalah acara sarapan keluarga? Salsa sialan!
---\\--
Sementara itu di Ringgarda Hospital. Dua orang laki-laki terlihat berdiri gelisah di depan ruang unit gawat darurat. Saat decitan pintu terdengar lalu seorang pria tua berjas putih khas dokter keluar dari dalam ruangan UGD dimana seorang wanita hamil yang tadi terlihat kesakitan berada. Dua pria itu lalu segera mendekati sang dokter.
"Istri saya bagaimana dok?" suara berat Wildan terdengar.
"Kandungan bu Salsa baik-baik saja mungkin bu Salsa hanya kelelahan saja." jawab Dokter santai. "Jadi tidak perlu khawatir, ibu dan kandunganya sehat." lanjut sang dokter.
"Tapi dokter Henry dia tadi terlihat kesakitan?" tanya khawatir pria yang satunya.
"Maka dari itu bu Salsa tidak boleh terlalu kelelahan Pak Rikhan. Dan tolong untuk Pak Wildan anda jaga dengan baik istri anda jangan sampai ini terjadi lagi." dokter tua itu terenyum menenagkan pada Wildan.
"Pasti." jawan Wildan mantap.
"Kalau begitu saya permisi Pak Rikhan dan Pak Wildan." Kedua pria itu menanggukkan kepala mereka mengerti. Sesaat kemudian hembusan nafas lega mereka terdengar.
"Kau tidak pecus menjaganya?!" bentak Rikhan pada Wildan. Tangan Rikhan sudah berada di kerah kemeja Wildan. Mencengkram kemeja itu kuat.
"Cih, lihat dirimu. Apa kau tidak ingat sudah bertindak di luar batasmu Adikku?" senyuman miring Wildan terlihat. Mata Rikhan menajam saat mendengar pria di hadapanya mengatakan kata sialanitu.
"Bajingan kau Wildan!" tinjuan tangan Rikhan sudah hampir saja mengenai pipi kanan Wildan kalau saja perkataan Wildan tidak menyadarkanya.
"Apa kau lupa sudah melupakan sesuatu yang penting brother?"
"Arggh Sialan!" umpatan keras Rikhan lolos dari bibirnya pikiranya segera tercurah pada istrinya. Setelah itu Rikhan berlari menjauh dari ruangan UGD kearah parkiran lalu melajukan mobilnya kembali ke hotel dengan gila-gilaan, pikiran kalut dan takut menghinggapi kepalanya.