BAB:TIGA PULUH

8.1K 261 19
                                        

Happy reading...

"Kamu yakin?" mata Rikhan menatap wanita cantik di samping kursi kemudi yang di dudukinya ini. "Ela?" panggil Rikhan agar istrinya itu mau menoleh padanya. Rikhan ingin melihat mata istrinya. Ingin membaca apa yang sedang wanita cantik itu pikirkan.

"Aku yakin Rikhan. Ayo kita berangkat." Abela menjawab Rikhan jengah, sudah puluhan kali Rikhan menanyakan pertanyaaan itu. Abela menatap Rikhan menuruti seperti apa yang laki-laki itu inginkan. "Oke. Kita berangkat." jawab Rikhan kalem. Anggukan kepala Abela tunjukan untuk ajakan Rikhan.

Setelah itu mobil Rikhan berjalan keluar dari hotelnya menuju ke rumah sakit seperti yang di inginkan Abela, menjenguk Salsa. Entah kenapa, tapi Abela sangat ingin bertemu Salsa.

"Setelah dari rumah sakit kita akan langsung ke bandara." Rikhan membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening. Sanggat tidak nyaman.

"Hah? Ngapain ke bandara?" Abela mengernyitkan dahinya bingung karena sebelum ini tidak ada pembicaraan kalau mereka akan pergi jauh.

"Mama papa sama papi mami udah siapin paket honeymoon buat kita." jawab Rikhan santai.

"Apa?!" jelas saja Abela kaget. "Kenapa aku nggak tau kalau kita mau honeymoon. Dan lagi, aku engga siapin apa-apa. Aku juga belum ngajuin cuti panjang ke sekolah." panik Abela. Sial kenapa Rikhan selalu seenaknya sendiri sih, kesal Abela dalam hati.

"Stt tenang saja. Semuanya sudah aku siapkan sayang, orangku juga sudah mengurus surat cutimu." Abela menatap tajam Rikhan. Sial, padahal Abela masih merasa malas berdekatan dengan Rikhan. Mau mencari alasan apa lagi sekarang? Rikhan benar-benar menyebalkan! Padahal dirinya sudah berencana tidak mengambil cuti nikah agar tidak berdekat-dekatan dengan lelaki itu. Hancur sudah rencananya. Abela mengerucutkan bibirnya sebal.

"Kita akan ke mana? Jepang lagi?" Abela menghembuskan nafasnya. Mungkin memang dirinya butuh liburan. Mari kita ambil sisi positifnya, dirinya akan liburan gratis. Walaupun Rikhan sudah menjelaskan semuanya padanya tetap saja Abela masih menyimpan sedikit rasa tak sukanya pada suaminya sendiri. Laki-laki itu tidak bisa dipercaya, mulut manisnya adalah racun yang berbahaya untuk hati dan pikiran.

"Kita lihat saja nanti." senyum miring Rikhan terlihat. Abela menatap Rikhan aneh.

------------

"Kamu yakin?" hembusan nafas Abela terdengar. Matanya memutar malas saat mendengar pertanyaan itu lagi yang di lontarkan oleh laki-laki di sampingnya. "Kenapa hanya itu sih yang sedari tadi keluar dari mulutmu?" decakan kesal Abela terdengar. Rikhan menatap serius Abela.

"Kalau kamu pikir aku akan menghajar Salsa nantinya di sana dan membuat keributan, ya aku yakin bisa membuat semua masalah itu." sarkas Abela.

"Tapi aku disini hanya berniat menjenguknya bukan membuat masalah. Bisa kita turun sekarang?" lanjut Abela malas. Rikhan hanya terdiam, bingung akan menjawab seperti apa perkataan istrinya itu. Semoga saja tidak ada keributan apapun nantinya di dalam ruang rawat Salsa, hanya itu harapan Rikhan.

Rikhan turun dari mobil terlebih dahulu. Setelah itu Rikhan membukakan pintu untuk Abela. Keduanya berjalan beriringan kedalam rumah sakit. Tanpa bertanya di mana ruangan Salsa berada. Rikhan melangkahkan kakinya santai di ikuti Abela di sebelahnya dengan genggaman tangan Rikhan yang membuat Abela menahan rasa berdesir di hatinya.

Setelah menaiki lift dan berjalan di lorong-lorong bercat putih khaa rumah sakit, mereka tiba di salah satu depan pintu VIP.

"Kau yakin ini ruanganya?" Abela mendongak menatap suaminya yang pastinya lebih tinggi darinya itu. Tanpa berkata Rikhan mengangguk untuk menjawab pertanyaan istinya. Abela mengangkat bahunya tidak perduli. Tidak mungkin Rikhan tidak tahu ruangan Salsa kan, cih. Decih Abela dalam hati.

MY BASTARD EX (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang