Bagian Empat Puluh Tiga

8.3K 446 59
                                        

~Tok... Tok... Tok...~

Suara pintu terketuk tiba-tiba di dini hari yang masih sunyi ini. Pintu terus terketuk pelan, berharap seseorang di dalam sana membukakan pintu untuk si pengetuk.

"p~ kau masih bangun?"

"Masuklah Nong~"

Si pengetuk itu adalah Pimwalee, adik dari seorang Gun Atthaphan. Pim membuka pintu kamar Gun saat sang kakak tidak kunjung membukanya, dan beruntung pintu itu tidak terkunci membuat Pim kini bisa melongokkan kepalanya di celah pintu yang sudah terbuka. Pim melihat sang kakak sedang terduduk di atas ranjang, sepertinya Pim baru saja menggangguku tidur nyenyak kakaknya itu.

"p~ kau sudah tidur ya? Aku menganggu ya?" Tanya Pim sembari masuk ke dalam kamar Gun dan menutup pintu, lalu berjalan menemui Gun yang sedang tersenyum simpul ke arahnya

Gun menggeleng pelan sebagai jawaban dari sang adik. Ia memang belum tidur, Gun terlalu larut dalam tangisannya sambil meringkuk di atas kasur, meratapi semua kesalahannya dan juga pertengkarannya dengan Off yang baru saja terjadi.

"p~ kenapa matamu bengkak? Kau habis menangis ya? Kau dan Papii bertengkar?" Tanya Pim khawatir sambil mengelus pelan pipi kanan Gun, mata indahnya menatap mata sembab Gun yang sangat kentara

Gun lagi-lagi menggelengkan kepalanya lemah, namun wajahnya tertunduk, dua pergerakan Gun yang saling bertentangan, kepalanya mengatakan tidak, namun wajahnya yang tertunduk adalah isyarat jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Gun ingin menutupi masalahnya dengan Off dari Pim, ia tidak ingin adiknya itu sedih, bahkan harus terseret dalam pertengkarannya dengan Off. Namun, di lain sisi Gun juga ingin melepas beban itu dengan cara bercerita pada orang lain, dan orang yang Tuhan kirim saat ini adalah Pim, adiknya sendiri.

"p~ jika kau tidak ingin cerita hmm, tidak apa-apa, Pim sebenarnya kemari hanya ingin bertanya saja pada p..."

"Tanya apa Nong?" Potong Gun sebelum Pim selesai berbicara

"Hmm, kenapa Papii tidur di ruang TV? Pim mengira Papii sedang menunggu p'Gun yang belum pulang ke rumah, makanya Pim ke sini, niatnya sih ingin mengecek ada atau tidaknya p~, dan ternyata p' sudah pulang." Ujar Pim menjelaskan alasan kenapa ia ke kamar kakaknya

Gun mengangkat kepalanya, menatap Pim dengan pandangan terkejutnya. Apa kata Pim tadi, Off tidur di ruang TV? Ah, pasti Off masih marah pada Gun sampai untuk tidur berdua pun Off enggan. Gun mencelos, hatinya begitu teriris saat mengetahui Off lebih memilih tidur di ruang TV ketimbang tidur bersamanya.

"Aku baru saja bertengkar dengan Papii, Nong" jawab Gun pelan sembari kembali menundukkan kepalanya

Pim meremas pelan bahu sang kakak, ia tahu Gun sedang terluka dan sedih saat ini, ia berharap dengan sentuhan tangannya di bahu, Gun bisa sedikit lebih baik.

"Kenapa p?"

"Aku melakukan kesalahan Nong, aku melanggar janjiku dengan Papii"

"janji apa?" Tanya Pim bingung, tentu ia tidak mengerti dengan pernyataan kakaknya itu yang sedang menceritakan kronologi pertengkarannya dengan sang suami

"Papii mengizinkan aku pergi ke ulang tahun temanku dengan peraturan aku harus pulang pukul sembilan malam, dan aku menyanggupinya. Tapi..."

"Tapi kau malah melanggarnya dengan pulang selarut ini?" Tebak Pim

Gun mengangguk sembari memainkan jemarinya di atas kasur, membetulkan tebakan sang adik yang sangat tepat itu.

"Aku sangat lupa Nong, aku terlalu larut dengan pesta, handphone-ku juga segala drop membuat Papii semakin marah padaku."

OffGun [MPREG]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang