Jangan tertipu dengan pujian yang sebenarnya adalah ujian. Ingat, banyak nyamuk mati karena tepuk tangan.
-Undefinable-
Jam pelajaran ke tiga-di saat terik matahari sedang panas-panasnya-adalah mata pelajaran Olahraga untuk kelas XI IPS 2. Fabian dan Arsen beserta siswa lainnya sedang melakukan permainan bola basket di lapangan. Sementara para siswi memilih duduk di pinggir lapangan untuk menghindari paparan sinar matahari. Guru olahraga mereka sedang absen, maka dari itu mereka bersantai-santai selama jam pelajaran ini.
Shafa dan Caca memilih duduk lesehan di pinggir lapangan sambil bersandar di pagaf kawat yang membatasi antara koridor dan lapangan. Sambil mengemil permen yupi bentuk hati yang tak kunjung habis dari semalam, dengan pipi yang menggembung, Shafa menunjuk ke arah lapangan. "Apa perasaan gue aja ya, Ca. Daritadi gue liatin, Fabian sama Arash rebutan bola mulu. Padahal mereka satu tim."
Caca mengambil dua bungkus permen yupi di pangkuan Shafa kemudian mengangguk, "Kayak lo gak tau mereka aja. Ngomong-ngomong, mereka masih di hukum kan? Hari ini ngebersihin ruangan apa?"
"Kurang tau sih. Kemungkinan antara perpustakaan atau beberapa ruangan di gedung olahraga. Kenapa? Mau bantu mereka?"
Caca nyengir lebar, "Hehe, nggak, Fa. Makasih."
Shafa memanyunkan bibirnya, "Sebenernya.. Dulu tuh, katanya mereka berdua pernah sahabatan."
Mendengar hal itu, dengan tampang terkejutnya Caca menatap Shafa, "Serius lo, Fa? Kata siapa? Kok bisa?"
Shafa mengangguk lesu, "Kata Bian. Tapi dia belom cerita sih alasan kenapa sekarang mereka jadi musuhan."
"Ya lo tanya lah, Fa. Lo dianggap temen gak sih sama si Bian? Kalo dianggap, tanpa ditanya juga dia pasti cerita sama lo. Kalo sampe selama ini dia gak pernah cerita, ya berarti lo gak di anggap, Fa." sahut Caca. "Soal Student A itu, gimana? Bener Arash pelakunya?"
"Bukan Arash."
Caca lagi-lagi memasang ekspresi terkejut, "Terus siapa?"
Shafa menggeleng, "Gak tau. Bodo ah, gue sama Bian gak mau urusin soal Student A lagi. Mau dia neror lagi kek, gak ngaruh."
"Kok gitu sih, Fa? Student A itu udah bikin lo celaka sampe sakit. Kalo gue jadi lo sih, gue bakal selidikin sampe ketahuan siapa orangnya." ujar Caca.
"Tadinya gue juga pengen gitu. Tapi setelah gue pikir-pikir, gak ada untungnya juga gue nyari tau orang itu siapa," Shafa kembali memasukkan permen yupi ke dalam mulutnya, "Tapi feeling gue bilang, Student A kayaknya punya dendam tersendiri sama gue."
"Dendam?"
"Iya. Kalo bukan karena dendam, buat apa dia ngelakuin hal kayak gini. Oh iya, gue belum cerita sama lo. Lo inget kejadian di ruang PMR tahun lalu?" tanya Shafa, kali ini ia terlihat santai membahas masalah itu.
Caca menautkan kedua alisnya, namun kemudian ia mengangguk, ragu. "Kejadian di ruang PMR? Yang bikin lo luka parah itu? Ada apa?"
"Pelakunya juga Student A."
Caca terdiam beberapa detik, kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah lapangan, "Da-darimana lo tau?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Undefinable
Ficção AdolescenteShafa, gadis dengan peringkat lima dari bawah itu adalah gadis yang periang, namun menjadi pendiam ketika berada di rumah. Merasa dibedakan, membuat Shafa menjadi pribadi yang berbeda dengan Shafa yang sebelumnya. Fabian, tetangga Shafa yang mengaku...
