Gue ngerasa ... hidup tuh cuma tentang orang yang datang lalu pergi, nggak ada artinya.
-Undefinable-
Gerald. Siswa dari kelas XII IPS 1-yang statusnya sebagai siswa di SMA Adhyastha tinggal menghitung minggu saja-itu daritadi masih berdiri disana sambil menempelkan ponsel ke telinga, sedang menelpon seseorang sepertinya. Namun ketika Shafa dan yang lainnya tiba, Gerald langsung memasukkan ponselnya ke saku celana. "Mau ketemu Ana juga?"
"Nggak, kita mau ketemu emaknya!" sahut Arsen ngasal, "Lagian Ana siapa, sih? Kita nggak salah rumah kan guys? Ini rumah Ghea kan? Dan lo sendiri ngapain disini?"
Efek patah hati segitunya ya, Sen?
"Ana itu nama belakang Ghea. Gheana Anastasya." Gerald menoyor kepala Arsen, "Eh gue senior lo, ya, ngomongnya harus sopan,"
Ucapan Gerald membuat Arsen mencibir. "Bentar lagi juga lo lulus kaleeee. Nggak ada istilah senior-senioran,"
Gerald hanya memutar bola matanya malas, "Ana nggak punya mama, asal kalian tau. Jadi, jangan sampe bahas masalah itu di hadapan dia. Terus kenapa gue bisa ada di sini? Gue sahabat Ana, dari kecil. Nggak mungkin gue ninggalin dia disaat dia rapuh kayak sekarang. Itu alasannya."
"Kak Gerald sahabatan dari kecil sama Ghea?" tanya Caca. "Serius?"
Gerald mengangguk.
Shafa yang semula diam, kini mendekat. Ingin tau lebih jelas. Entahlah, Shafa merasa ia harus mengungkap semuanya hari ini. "Kak Gerald yang selama ini nemenin Ghea, kan? Katanya sahabatan, pasti kakak sering bentuin Ghea."
Gerald tersenyum agak sinis, namun ia tetap mengangguk.
"Kenapa dia nggak ke sekolah hampir seminggu ini, kak?" tanya Shafa, ikut penasaran. "Kakak sahabatnya dan kakak pasti tau itu kan?"
"Posisi Ana jadi ketua PMR digantiin sama Olin. Tanpa sebab. Itu semua bikin Ana down banget. Padahal yang gue tau, dia berjuang keras buat dapetin posisi it-"
"Gue akui dia emang berjuang banget, sih," potong Shafa sambil mengangguk-angguk, "Salah satunya berjuang dengan bikin gue celaka kayak tahun lalu? Iya kan, kak?"
Pertanyaan Shafa membuat tatapan teman-temannya mengarah ke arahnya, termasuk Fabian.
"Lo lihat ini," Shafa membuka kerah bajunya sedikit, menunjukkan bekas jahitan di bahu kanannya, "Kaca yang jatuh dan pecah tepat di bahu gue waktu itu Ghea pelakunya, kan? Kak Gerald yang bantuin Ghea? Dan kakak juga ... yang dorong gue ke kolam renang tanggal empat belas bulan kemaren?"
Gerald hanya diam. Tersenyum tipis. Tipis sekali. Entah apa maksudnya.
Fabian menatap Shafa kemudian menyentuh pundak cewek itu, tatapannya tak terbaca, "Fa?"
Shafa menghela nafas, tangannya menunjuk Gerald, "Bian, kak Gerald sama Ghea adalah pelakunya, mereka berdua adalah Student A dan mereka adalah dalang dibalik semuanya."
Caca menatap Gerald dengan tatapan mengintimidasi, "Bener kan kak?"
Cowok jangkung itu kemudian menyeringai, menampilkan joker smile di sudut bibirnya. Ia menunjuk mereka satu persatu, "Kalau gue sama Ana beneran Student A. Lo ber-empat mau apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Undefinable
Teen FictionShafa, gadis dengan peringkat lima dari bawah itu adalah gadis yang periang, namun menjadi pendiam ketika berada di rumah. Merasa dibedakan, membuat Shafa menjadi pribadi yang berbeda dengan Shafa yang sebelumnya. Fabian, tetangga Shafa yang mengaku...
