07 | Dua Kata, Tanpa Sengaja
***
Malu.
Satu kata yang membuat Denver ingin menyembunyikan diri. Tepatnya setelah punggung tangannya luka, di hadapan Zetta. Apalagi lukanya pun tidak begitu parah. Hanya meninggalkan rasa panas dan ngilu bersamaan. Denver tidak peduli orang-orang menatapnya iba atau penasaran. Dia hanya memedulikan cewek itu. Bagaimana responsnya saat tahu hal memalukan ini?
“Pergi ke UKS sekarang, Denver. Jangan bandel.” Runa mengomel.
Denver meringis pelan saat Runa malah menekan punggung tangannya. “Beliin aku minuman dulu sana, Run.”
“Iya, tapi ke UKS sekarang!” tandas Runa, lalu berlari ke arah kantin.
Denver sempat melirik Zetta sekilas, ada ekspresi khawatir terlintas. Cowok itu membiarkan Mario melingkarkan lengannya di bahu, sesekali meniup-niup punggung tangan Denver.
“Yo, berhenti niup-niup,” kata Denver tajam.
Mario mendelik, mengempaskan lengan Denver dengan sekali entakan. Perbuatan itu membuat Denver mengerang. Namun, Mario tidak peduli. Denver berjalan lebih dulu, masuk ke ruangan UKS. Samar-samar masih terdengar suara pembawa acara dari arah lapangan.
“Lain kali hati-hati, Denver.” Bu Mila, petugas UKS berkata setelah mendengarkan cerita Denver.
“Udah hati-hati banget, cuman meleng sedikit.” Denver berkata santai, kemudian menunduk dan membiarkan Bu Mila mengoleskan salep bening di sekitaran punggung tangan.
Demontrasi ekskul taekwondo terpaksa berlangsung tanpa Denver, hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum berakhir. Tirta, orang yang tidak sengaja menendang punggung tangan, alih-alih papan kayu meminta maaf berkali-kali lantaran merasa bersalah. Denver hanya bilang kalau ini murni kecelakaan, dia juga tidak bisa fokus.
“Yakin udah baik-baik aja?” tanya Zetta.
Denver mengangguk kecil. “Nggak usah lebay. Aku sehat. Oke?”
“Luka segini mah kecil buat Denver.” Bu Mila menimpali. “Udah biasa buat cowok.”
“Tapi pukulannya pasti keras banget.” Zetta bergumam. “Mikirin apa sih kamu, Den?”
Lewat sudut mata, Denver melihat Bu Mila mengulum senyum. Melirik Zetta dan Denver beberapa kali sebelum akhirnya berpamitan.
“Tadi kan aku udah bilang, Tirta nggak sengaja, Ta. Aku juga meleng, nggak fokus."
Zetta menatap Denver lurus. Cewek yang tadinya bersandar di dinding UKS sambil bersedekap itu mendekati brankar. Zetta diam di samping Denver yang duduk dengan satu kaki menjuntar, satunya lagi terlipat. Kalau Denver tidak salah lihat, dia sempat menangkap sorot khawatir yang tersalur di kedua netra cewek itu. Hanya sekilas karena begitu Denver mengangkat alis, Zetta mengalihkan pandangan ke jendela UKS.
“Kenapa nggak fokus?” tanya Zetta tanpa menoleh.
“Ada kamu.”
Mata Zetta membesar, sementara Denver menutup mulutnya dengan salah satu tangan yang tidak terluka. Apa sih, nih, mulut. Tidak ingin menunggu kata-kata yang akan Zetta utarakan, Denver berdiri kemudian ke luar dari UKS. Suasana yang tenang di dalam sana turut serta membuat mulutnya bereaksi tidak terduga.
“Denver!” Mario menangkup kedua pipi Denver dengan satu tangan. Baru muncul lagi setelah mengatakan akan menyusul Runa ke kantin. “Beruntung nggak kena muka juga, ya?”
Denver memundurkan kepala hingga penganggan Mario terlepas. Dia menatap Mario dengan kesal. “Apa? Mau ngetawain kalau aku babak belur di muka?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Denver [End]
Teen FictionTidak seperti cowok kebanyakan, Denver menyukai bunga. Bukan sekadar suka, Denver pun menaruh harapan dan rindu yang tak tersampaikan. Zetta, cewek yang awalnya membenci Denver, berbalik melindungi cowok itu. Zetta tidak bisa tinggal diam saat seant...
![Denver [End]](https://img.wattpad.com/cover/199147081-64-k148200.jpg)