Bab 33 | Tidak Ada 'Kita'
[]
"Percaya ke kamu, ya?" tanya Denver lamat-lamat.
Zetta menggeser meja kantin, menciptakan celah supaya ia bisa lewat. Ia bahkan tidak memandangi mata Denver lagi. Tahu kalau ia salah berbicara. Alih-alih kalimat tadi, seharusnya Zetta mengatakan hal lain yang tidak menjurus pada urusan perasaan. Benar, sudah sepatutnya Denver percaya kepada Zetta. Pun Zetta tidak perlu memperjelas.
Bagaimana kalau Denver salah paham?
"Eh, mau ke mana?" Denver berkata lagi saat Zetta sudah berdiri, hendak mengambil langkah pergi.
Mau tidak mau, Zetta memandangi Denver. Berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Mau ke kelaslah, sebentar lagi bel masuk."
"Duduk dulu sebentar, katanya aku boleh percaya ke kamu."
Zetta berdecak. "Nggak usah diperjelas, aku cuma asal bicara tadi."
"Terserah, deh." Denver mengangkat bahu. Bibirnya membentuk segaris tipis, matanya memandang ke luar kantin. Seperti tidak ingin memandangi Zetta lama-lama. Angin yang masuk melalui celah jendela, menerbangkan rambut Denver lembut. Cowok itu berdeham. "Suasana apa sih, ini? Canggung banget."
Zetta tersenyum kecil. "Ngomongnya nanti lagi, ya. Aku nggak mau telat masuk kelas."
"Iya, sana." Denver mengibas-ngibaskan telapak tangannya, setengah menyuruh Zetta pergi. Zetta membalikkan tubuh dan berjalan menjauhi meja kantin. Keriuhan perlahan lenyap saat ia berdiri di sisi pintu kantin. Zetta menoleh ke belakang dan memperhatikan Denver yang berdiri di depan kulkas berisi berbagai minuman. Dia meraih satu botol minuman tanpa berpikir panjang.
"Rasa jeruk lagi, kayaknya dia memang suka minuman rasa jeruk," kata Zetta sambil berjalan menuju kelas. Heran juga, kenapa Zetta mulai memikirkan minuman kesukaan seseorang? Tidak, sepertinya ini kali pertama Zetta ingin tahu kesukaan Denver.
Kelas masih gaduh walaupun bel sudah berbunyi dua menit lalu. Zetta membuka buku catatan berukuran kecil, bersampul marbel berwarna abu-abu. Masih kosong, belum tertoreh tinta. Zetta baru membelinya kemarin saat mampir ke sebuah toko buku. Ia juga membeli stiker bunga mawar merah berukuran kecil.
Tidak ada alasan, Zetta membeli karena ingin. Namun, matanya awas menatap sekeliling, khawatir kalau Denver tiba-tiba muncul di balik pintu kelas.
"Yo, Mario!" kata Zetta. Ketika Mario mengangkat alis, Zetta mengedikkan dagu ke samping kursi yang ia duduki. "Tahu Runa ke mana nggak?"
"Oh, Runa, ya?" Mario mengusap wajahnya yang agak kuyu, terlihat mengantuk. "Ke kamar mandi kali. Lagian kok tanya ke aku sih, harusnya kamu yang lebih tahu."
"Apa sih? Aku cuma tanya." Zetta kembali berkutat dengan buku catatan, mengusap-usap stiker mawar sambil berpikir. Apa Runa masih ingin menjaga jarak? Zetta mengembuskan napas, bosan sendiri. Biasanya ada Runa yang mengajaknya mengobrol.
Ketua kelas tiba-tiba mengumumkan, Bu Siska sedang berjalan menuju ke kelas. Cowok itu memang terlalu rajin sampai-sampai melongok ke luar jendela, mengantisipasi adanya kegaduhan di dalam kelas. Tidak ingin kelasnya ribut sebelum guru tiba. Sayangnya, kelas Zetta memang selalu riuh.
Denver dan Runa datang secara bersamaan, keduanya mengapit Bu Siska. Denver bahkan membawakan buku mata pelajaran milik Bu Siska. Di depan kelas, Denver sempat menoleh kepada Zetta. Sepertinya Denver sudah agak baikan, wajahnya tidak sepucat tadi.
Di tengah pemberian materi, Zetta menulis sesuatu di buku catatan halaman terakhir. Sesekali menegok kepada Bu Siska, khawatir ketahuan menulis surat. Setelah dirasa aman, Zetta menggeser buku tersebut kepada Runa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Denver [End]
Novela JuvenilTidak seperti cowok kebanyakan, Denver menyukai bunga. Bukan sekadar suka, Denver pun menaruh harapan dan rindu yang tak tersampaikan. Zetta, cewek yang awalnya membenci Denver, berbalik melindungi cowok itu. Zetta tidak bisa tinggal diam saat seant...
![Denver [End]](https://img.wattpad.com/cover/199147081-64-k148200.jpg)