Beberapa tahun kemudian...
Seorang pria dengan baju putih khas dokternya berjalan dengan tergesa-gesa di koridor sebuah rumah sakit.
Sampai di depan sebuah ruangan, ia menghentikan langkahnya sebentar lalu menarik nafasnya dalam-dalam 'ruang bersalin' pria itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
Pria itu adalah Daniel. Ia sudah menjadi seorang dokter spesialis bedah. Dan sekarang—
"HUAHH SAKIT HUH HUH." Suara seseorang terdengar memekik telinga begitu Daniel menginjakkan kakinya masuk. Dilihatnya seorang wanita cantik yang tengah terbaring diranjang rumah sakit dengan perut buncit khas ibu hamil.
"Gimana dok? Dokter Gina 1 jam lagi baru datang," ujar seorang suster kepada Daniel. Daniel mengelap keringat yang berada di pelipisnya dengan cepat.
"BURUAN INI SAKIT BANGET! DANIEL JANGAN MAU ENAKNYA AJA!"
Daniel terkejut mendengar penuturan istrinya itu. Bagaimana bisa disaat seperti ini Zia malah menyalahkan dirinya, 'hanya mau enaknya saja' katanya.
"Sabar sayang, tunggu dokternya sebentar lagi." Ujar Daniel menghampiri Zia yang sudah terlihat sangat kesakitan bahkan keringat sudah membasahi pelipisnya.
"Dok bukaannya sudah lengkap, atau kita mulai sekarang aja?" tanya suster kepada Daniel. Daniel membelalakkan kedua matanya kaget.
"Sa— saya kan bukan dokter kandungan, belum ada pengalaman bantu persalinan?" gumanya bingung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"AAA SAKIT." Pekik Zia nyaring senyaring-nyaringnya.
"Sabar sayan—"
"Sabar-sabar sini kamu rasain, enak banget ngomong," tukas Zia kesal kepada sang suami. Para suster diruangan itu mengulum senyum melihat Daniel yang sedari tadi diomeli oleh Zia.
"A— aku telepon ayah dulu ya sayang mereka kayanya pengalaman, aku gak pengalaman kaya gini," pukas Daniel mengambil ponsel dari saku jas putihnya hentak menelepon Revan, ayah Zia.
"GAK ADA WAKTU ARGHH!"
"Sus ini beneran sekarang gak ada satu pun dokter kandungan? Dokter bersalin?"
"Adanya dokter mata dok," sahut salah satu suster membuat Daniel lagi-lagi melengos.
"Sabar ya nak jangan keluar dulu ayah masih nyari dok—"
"SAKITTT HAAHHH!" teriak Zia mencengkam lengan Daniel kuat.
"Kepalanya sudah keliatan dok."
"Mampus!" Daniel menepuk dahinya. Dan dengan segera menangani sang istri.
Setelah hampir satu jam lamanya Zia berjuang akhirnya tangis bayi pun pecah memenuhi ruangan ini.
Daniel terpaku tidak percaya ditangannya sendiri sudah terlihat sesosok bayi mungil yang tengah menangis dengan keras. Dengan cepat suster mengambil alih bayi dari tangan Daniel yang masih tampak bengong. Ia tidak percaya bahwa ia bisa, ini pengalaman pertamanya dan tentunya ia tak percaya bahwa ia sudah menjadi seorang ayah.
"Gu— gue jadi ayah," gumamnya mengerjapkan kedua matanya tak percaya.
Klekkk.
"Maaf dok saya telat." ujar seorang dokter cantik yang baru saja masuk ke ruang bersalin Zia. Seluruh pasang mata menatap ke arah pintu tak terkecuali Daniel.
"Bayinya sudah lahir dok," ujar salah satu suster yang membuat dokter cantik tadi cukup terkejut.
***
Zia mengamati bayi mungil yang sekarang tengah tertidur lelap di sampingnya. "Anak bunda cantik banget sih," puji Zia memegang bayi perempuannya dengan penuh kasih sayang.
"Persis banget mirip ayahnya," tutur Daniel bangga.
Zia memicingkan matanya menatap tanam ke sang suami.
"Bunda tau gak, waktu Zia udah kesakitan banget Daniel ngapain? Cuman bengong bun sambil bilang sabar-sabar," cibir Zia membuat Cynda sang bunda hanya terkekeh.
"Engga gitu bun, masalahnya dia brojolnya dadakan mana gak ada dokternya lagi. Terpaksa deh—"
"Nak kamu jangan kaya ayah mu ya sayang," ujar Zia berbicara kepada bayinya memotong ucapan Daniel.
Daniel menggelengkan kepalanya. Zia memanglah Zia, tidak ada yang berubah dari dulu, tetap cerewet dan tetap cantik.
"Nanti kalau udah gede jangan kaya bunda kamu ya ngeselinnya," pungkas Daniel mengendong bayi mungil itu ke dalam bekapannya membuat bayi itu menggeliat merasa tidurnya terganggu.
"Daniel kamu sudah kabarin mama sama papa?" tanya Cynda.
"Sudah bun mereka senang banget, katanya mau balik ke Indo secepatnya," jawab Daniel terkekeh.
"Sayang kamu mau namain siapa?" tanya Zia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk.
Daniel mengamati wajah cantik bayi yang digendongnya. "Namanya Ocha Alffiya Radfort," ujar Daniel. Zia mengembangkan senyum manisnya.
Klek.
Suara pintu terbuka.
"Omg udah ada debay, huhu sini sini sama aunty," pekik Dilla yang baru saja datang bersama Farrel. Disusul oleh Neera dan Erick di belakangnya.
Dilla Wanita yang tengah mengandung 6 bulan itu langsung menuju ke arah Ocha yang masih berada digendong an Daniel.
"Selamat ya Zia sayang, udah jadi bunda hiks terharu gue," ujar Neera yang langsung duduk di kursi samping ranjang Zia.
"Terimakasih sahabat aku yang paling baik," ujar Zia tersenyum dan menoel pelan pipi gembul milik bayi laki-laki yang berada di gendongan Neera. Membuatnya bergerak tidak nyaman.
"Selamat menjadi ayah, dokter Daniel," ujar Erick meninju pelan bahu Daniel. Daniel hanya terkekeh pelan.
"Dill cepat-cepat berojol ya Dill," ujar Zia membuat Dilla terkekeh.
"Kenapa Zi? Lo mau jodohin anak lo sama anak gue?" tanya Dilla. Zia mengangguk. "Bisa jadi, ntar kita jadi besan." Jawab zia tertawa.
"Lo Neer gak ada niatan mau nambah lagi?" tanya Dilla. Dilla juga masih sama seperti yang Dilla yang dulu. Masih asbun dan berisik.
"Mau lah Dill, yakali gak mau," jawab Erick mengedipkan sebelah matanya ke arah sang istri.
Sekarang mereka sudah jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing, tetapi tidak jarang mereka menyempatkan diri untuk bertemu. Mereka sudah mempunyai kehidupan dan keluarga sendiri dengan cerita random di dalamnya. Akankah anak-anak mereka nantinya bisa melanjutkan cerita ini? I dont know tidak ada yang tahu.
Daniel tengah sibuk mengurus Administrasi Zia , di loket.
"Daniel," panggil seseorang membuat Daniel membalikkan badannya. Menatap kearah belakang.
"Iya kena—" jawab Daniel terputus begitu melihat siapa orang yang memanggilnya sekarang.
"Lo kerja disini?" tanya wanita itu kepada Daniel.
Wanita itu tengah berdiri di depan meja Administrasi rumah sakit. Daniel yang kebetulan sudah hendak beranjak terpaksa menghentikan langkahnya.
"Eva! Lo—" pekik Daniel kaget.
"Gak nyangka ya kita bakal ketemu di sini."
S E L E S A I
KAMU SEDANG MEMBACA
RICORDARE
Romansa[COMPLETED] Part masih lengkap‼️ Kezia Alqueena menemukan seorang cowok yang menarik perhatiannya. Dia adalah Arvan, seniornya di Altavista, tentu saja dia bukanlah satu-satunya gadis di sekolah tersebut yang jatuh hati kepada Arvan. Berbagai cara...
