The new story begin, when we meet again.
Siapa yang menyangka jika dalam waktu sepuluh tahun dapat mengubah hidup seseorang dengan cukup signifikan.
Di usia 28 tahun, Ten dan Ava kembali bertemu. Memberi sensasi seperti semua dimulai dengan kisah ya...
Beberapa menit berlalu namun Ava dan Andrew masih tetap di posisi masing-masing.
Saat pemikiran nya mulai stabil, Ava kembali teringat dengan tujuannya mengajak Andrew berbicara sebelum dirinya kembali ke Virginia.
"Bisakah kau memberitahu seperti apa Ten sekarang? Apa yang ia lalui hingga membuatnya seperti itu. Karena melihatnya saat ini seperti bukan lagi Ten yang ku kenal sepuluh tahun lalu."
"Sejujurnya aku tak tahu harus memulai dari mana. Ten menjadi cukup kompleks sejak kakeknya meninggal."
"Aku ingat, saat itu aku bahkan terkejut dengan kabar meninggalnya kakek Ten. Sempat terbesit dalam pikiranku, bagaimana jika menghubungi dan memberi kekuatan untuk Ten, namun ego ku lebih besar sehingga niatku itu ku urungkan pada akhirnya."
"Tak ada gunanya kau melakukan itu. Ten juga pasti tak akan menerima panggilan siapapun. Dia mengurung diri hingga sebulan setelah kejadian itu."
Ava tertegun, "apakah sebesar itu efeknya bagi Ten?" Karena setahu ku Eleven masih bisa tersenyum saat berkunjung ke Marbella, seminggu setelah kakek mereka meninggal.
"Sangat besar. Bahkan meskipun aku tak paham benar bagaimana jika berada di posisinya, aku rasa kepergian kakeknya memang memberi dampak besar padanya."
"Aku pernah melihat bagaimana interaksi antara Ten dan kakeknya, tapi.. ku rasa mereka tak sedekat itu" ujar Ava dengan nada pelan, namun masih jelas terdengar di telinga Andrew.
"Bukan, bukan karena ikatan batin. Kau tahu, ada kesialan tersendiri menjadi yang pertama di keluarga Reszrey. Dan sayangnya, posisi Ten adalah sebagai cucu pertama."
"Tunggu, aku selalu mendengar desas desus mengenai itu, dan tetap saja.. aku pun tak pernah memahami, sebesar apa dan mengapa.."
"Baik, akan ku jelaskan sedikit yang ku tahu."
Ava berusaha memasang baik-baik telinga nya kali ini. Ini menjadi penting baginya terlebih jika ia akan mengatakan 'ya' atas lamaran Ten.
"Hubungan keluarga mereka sudah kacau sejak awal. Contoh kecilnya yaitu ketidak akur-an antara ayah Ten dan pamannya, Ryan Reszrey."
Ya, bahkan nama marga mereka pun berbeda.
"Hal itu mengakibatkan perdebatan besar ketika kakek Ten sedang sekarat. Topik mengenai penerus takhta pun menjadi yang utama. Namun bukan karena diperebutkan, melainkan karena tak ada satu pun dari mereka yang mau menduduki takhta yang mereka anggap sial itu."
Apakah itu alasannya kenapa..
Seperti mengerti arti tatapan Ava, Andrew pun mengangguk membenarkan. "Ten sebagai cucu pertama tak memiliki pilihan lain. Ia juga tak mampu menolak karena tak ingin menyebabkan masalah antara ayah dan pamannya lagi."
"Lalu apa kesialan itu?"
"Yang ku tahu, kakeknya adalah seorang pemilik bangunan yang menyimpan puluhan ribu tanaman berbahaya berkategori legal hingga ilegal. Yang ilegal itulah yang membuat siapapun penerusnya harus memiliki nyali tinggi dalam menghadapi sekaligus melindungi diri dari orang-orang berbahaya yang aktif mendistribusikan tanaman itu."
Ava seketika teringat dengan peringatan yang diberikan oleh Ten sepuluh tahun lalu.
Tanaman berbahaya? Apakah itu seperti tanaman di dekat kamar tamu yang ku tempati sekarang?
"Ryan Reszrey adalah seorang petinggi militer. Fakta bahwa ayahnya memiliki bangunan itu saja membuatnya harus berpura-pura menutup mata. Sementara ayah Ten yang memang baru bertemu kakek Ten diusia yang sudah cukup dewasa, merasa tak ada ikatan batin sama sekali antara dirinya dengan ayahnya itu. Bahkan ketika mengetahui bahwa Ten bersedia mengambil alih, ayah Ten sempat mengancam tak akan menganggap Ten lagi sebagai putranya"
"Sampai harus seperti itu?" Ava tentu saja terkejut. Bagaimana tidak, paman Jean yang ia kenal adalah sosok ayah yang sangat menyayangi kedua putranya.
"Ya. Sudah ku katakan bukan, keluarga Reszrey sudah kacau sejak awal."
Satu persatu mulai Ava ketahui. Tak ia sangka, terdapat banyak hal yang melatarbelakangi perubahan Ten saat ini.
Dalam hatinya, Ava merasa miris.
Sepertinya bukan hanya aku saja yang banyak kesialan selama sepuluh tahun terakhir.
"Sebenarnya cukup mengherankan jika kau tak tahu banyak hal tentang mereka. Bukankah katamu kau dan Ten sudah saling mengenal sejak lama?"
"Ya. Dan sudah ku katakan, sebagai musuh. Memang bukan musuh yang saling meracun atau membunuh, tapi kami tak pernah akur sejak dulu. Ketika berbicara pun, yang selalu terucap hanya kalimat kasar dan semacamnya."
"I see. Tapi kau tenang saja. Tak perlu takut akan membina rumah tangga dengan seorang penjaga gedung tanaman berbahaya, karena Ten sudah melenyapkan beberapa tanaman ilegal itu sekaligus memutus kerjasama dengan semua pihak yang dianggapnya berbahaya."
"Benarkah? Lalu kenapa pria itu masih mengonsumsi alkohol? Bertingkah kurang ajar, dan tak tahu adab! Bahkan sampai menghamili anak orang tapi tidak menikahinya, dasar brengsek!" Mengingat yang terakhir itu membuat simpati Ava terhadap masalah pria itu menghilang entah kemana.
"Wow wow, calm down!" Andrew berusaha menahan tawanya agar tak merusak suasana serius yang sudah terbangun sejak beberapa waktu yang lalu.
"Kau baru mengetahui sebatas itu, Ava. Jadi biasakan dirimu untuk melihat wujud kebrengsek-an Ten yang lain"
Ava tak habis pikir, ia kira Andrew akan mengatakan hal-hal baik tentang Ten, namun ternyata pria itu justru semakin membuatnya berdigik ngeri menebak apa lagi dindakan Ten nanti yang akan membuatnya terkejut.
"Mungkin aku akan menunjukkan kebrengsek-an ku yang lain jika dalam hitungan ketiga kau tidak berdiri dari tempat duduk mu, Ava."
Itu,
Ten!?
-🌼🌼🌼-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.