XLIX. Terpaku

63 8 1
                                        

-🌼🌼🌼-

"Kau hanya sedang jatuh cinta. Disaat seperti itu ku harap kau mempertimbangkan keputusanmu dengan baik."

Ucapan Eleven selalu terngiang di kepalanya selama beberapa hari terakhir. Ava tahu tak seharusnya seperti itu mengingat saat ini bahkan tersisa hitungan jam saja sebelum upacara pernikahan berlangsung.

Padahal Ten telah berjanji padanya akan menghentikan kebiasaan itu namun keraguan tetap saja dirasakan oleh Ava.

Ava tak suka perasaan seperti yang ia rasakan saat ini. Semuanya pasti akan lebih sederhana apabila pernikahannya dengan Ten hanya dilandasi atas tanggungjawab mereka sebagai orang tua Zelo. Tapi bagi Ava, dirinya mengharapkan pernikahan yang dilandasi perasaan murni karena ia pun memiliki perasaan itu untuk Ten.

Tapi,

Ia teringat akan sesuatu..

Ten bahkan tak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya padaku.

Oh, Ava merasa dungu sekarang. Apa yang ia lakukan sejauh ini sebenarnya? Hanya karena pria itu melamarnya lalu kemudian ia menerima begitu saja setelah menyadari perasaannya terhadap Ten meskipun tak ada kalimat resmi dari pria itu apakah Ten juga memiliki perasaan yang sama kepada Ava.

Ingatannya kembali pada awal mula atau saat pertamakali Ten melamarnya.

Ya, semua untuk Zelo. Karena putra mereka.

Itu saja?

Matanya terpejam erat. Pernikahannya akan berlangsung besok. Seharusnya yang ia lakukan malam ini adalah beristirahat agar bisa terlihat segar saat menjalankan hal paling sakral dalam kehidupannya.

Tapi, tak bisa. Sangat sulit untuk saat ini.

Ingin sekali dirinya menghubungi Day dan mengutarakan semua isi hatinya namun hal itu bukan keputusan yang tepat. Day akan menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan dan berujung membuatnya pusing sendiri. Seperti beberapa hari yang lalu saat dirinya tak banyak bicara ketika menemani Day bermain dengan Zelo. Day terus bertanya apa yang salah, dan bahkan sempat menyalakan diri sendiri karena mengira kediamannya disebabkan oleh Day. Saat itu, perlu waktu ekstra untuk meyakinkan Day bahwa dirinya baik-baik saja.

Hembusan nafasnya terdengar begitu kasar. "Ada riasan, Ava. Lagipula kantung matamu tak akan terlihat hanya karena tak tidur semalaman."

-🌼-

Ava meyakinkan diri bahwa wajahnya akan tetap berseri esok pagi meskipun saat ini ia memutuskan berjalan sejenak menyusuri taman kediaman Reszrey dan mengabaikan aktivitas tidur malamnya sejenak.

Dirinya bersyukur kamar tamu Ten terletak cukup jauh dari bangunan inti sehingga apa yang ia lakukan saat ini tak perlu mendapatkan gangguan dari siapapun.

Ah, Ia selalu menyukai apa yang kedua matanya lihat sekarang. Ratusan, bahkan mungkin ribuan lampu-lampu kecil yang saling terhubung satu sama lain dan terlilit rapi di batang pohon yang juga berjejer rapi di sepanjang jalan.

Beberapa menit berlalu hingga Ava merasa deja vu terhadap apa yang ada dihadapannya sekarang.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AfT : Unexpected [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang