The new story begin, when we meet again.
Siapa yang menyangka jika dalam waktu sepuluh tahun dapat mengubah hidup seseorang dengan cukup signifikan.
Di usia 28 tahun, Ten dan Ava kembali bertemu. Memberi sensasi seperti semua dimulai dengan kisah ya...
Ava terbangun disaat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Pemilihan waktu yang salah untuk tidur tadi, membuatnya mau tak mau terbangun pula di jam yang tidak semestinya.
Sekarang, tak mungkin untuk tertidur kembali.
Sadar dirinya belum membersihkan diri sejak kembali dari kantor tadi, saat ini Ava pun mengumpulkan niat berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu membasahi tubuh, Ava hanya membutuhkan sepuluh menit hingga aktivitas mandinya selesai.
Langkahnya kini tertuju ke walk in closet dimana dirinya bisa menemukan pakaian tipis dan nyaman untuk malam ini.
Namun entah kenapa, ketika tak sengaja melewati cermin raksasa di walk in closet itu, membuat keinginannya begitu besar untuk berhenti melangkah dan terus melihat sosok wanita yang masih melilitkan handuk abu-abu di tubuhnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Itu, tak lain merupakan pantulan dirinya sendiri.
Bukan sedang menilai paras atau penampilan, namun untuk mencermati baik-baik sosok dirinya yang ternyata telah menjadi seorang ibu sejak tujuh tahun lalu.
Aku tidak mungkin memperlakukan Zelo seperti anakku semudah mengatakan hai kepada orang yang baru kukenal.
Aku tidak mungkin membawa Zelo karena statusku sebagai ibu kandungnya disaat Cla telah banyak melakukan hal sebagai mana seorang ibu kandung ke anaknya.
Aku tidak mungkin membangun rumah tangga bersama Ten hanya karena alasan aku dan dia telah memiliki seorang putra mengingat kita bahkan tak saling memiliki perasaan satu sama lain.
Semuanya terasa tidak mungkin, bahkan fakta bahwa Ten, paman Jean, bibi Tiff, dan orang tuaku sendiri pun tega melakukan ini padaku.
Sudut bibirnya terangkat. Jauh dalam hatinya, Ava merasa sangat kecewa.
"Apa yang harus kulakukan?"
-🌼-
Ava berjalan cepat dengan tujuan agar tidak bertemu siapapun yang berada di rumah itu disaat dirinya akan berangkat ke kantor.
Namun sial, tak jauh dari posisinya saat ini, ada sosok Atthar dan Rennaya yang sedang menyantap sarapan di meja makan.
Ava tahu kenapa kali ini dirinya tak mendapat panggilan sarapan.
Hal itu semata-mata karena orangtuanya pun masih merasa bersalah padanya dan membiarkan Ava untuk menyendiri dan menenangkan diri.
Tindakan orangtuanya itu memang tepat.
Karena saat ini Ava bahkan tak memiliki niat sama sekali untuk beralih arah dan ikut menyantap sarapan bersama.