III. Kata Kasar

128 6 0
                                        

"Who are you?"
I heard what i said.

🌼---------------------------🌼

⭐ + 💬 Dari kamu yaa :)

-🌼🌼🌼-

Betapa terkejutnya Ava melihat sosok bayangan hitam berdiri tepat di depan pintu balkon itu.

Pantas saja ia merasakan dingin yang menjalar hingga ke pori-pori kulitnya.

Saat ini makanan tak lagi ada dalam kepalanya. Hanya satu,

Lari!

"Akkhhh!!!!"

Ava teriak sebisa mungkin, semaksimal mungkin agar jeratan hantu itu segera melepaskan tubuhnya.

Ia ketakutan!

Dirinya sudah mencoba lari tapi mendadak tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali!

"Tolong!!!!" Teriak Ava entah untuk keberapakali.

"Ku fikir hantu tidak memiliki kaki untuk berlari"

Suara itu lagi. Siapa yang hantu sebenarnya?

Dan..

Apakah hantu beraroma alkohol?

Tidak, ini.. manusia!

Entah kekuatan dari mana atau kekuatannya memang belum sepenuhnya ia gunakan tadi, namun saat ini Ava sudah berhasil menggerakkan tubuh sepenuhnya.

Tak membuang waktu bagi Ava untuk segera melakukan apa yang ada di fikirkannya sejak menyadari bahwa gerakannya tadi terhenti akibat pelukan oleh seorang pria,

PLAK

Bunyi tamparan itu menggelegar hampir ke penjuru ruangan. Entah, karena kerasnya tamparan Ava atau karena situasi sunyi khas tengah malam.

"Shit"

Umpatan itu, tentu saja dari seseorang yang saat ini merasakan panas luar biasa di pipi kirinya.

Ava menatap nyalang sosok itu. Masih berusaha menetralkan detak jantung dan mengatasi keterkejutanya.

Sungguh, dirinya bahkan tidak ingin mengakui jika yang berteriak ketakutan tadi adalah dirinya sendiri.

Memalukan.

Dan pria didepannya ini, "Siapa kau!?"

Itulah pertanyaan Ava. Seharusnya hanya Ava, tapi jika ia tak salah dengar.. barusan ia pun mendengar pertanyaan serupa ditujukan untuk nya.

Ah, abaikan itu!

"Ku tanya sekali lagi, siapa kau brengs- akkhhh!!!"

Ava tak menduga sebelumnya akan berteriak banyak kali malam ini. Pertama karena keterkejutannya, kedua karena pelukan sosok yang ia fikir hantu, dan sekarang karena sosok kurang ajar itu menarik rambutnya dengan kasar, sangat kasar!

Tarikan itu otomatis menengadahkan kepala Ava.

Sialnya, cahaya yang tersedia cukup minim untuk meneliti wajah sosok yang justru nampak jelas aura kemarahannya itu.

"Aku yang harusnya bertanya, bitch!"

B..bi.. apa katanya?

"Ah, aku tau. Apa kau jalang Andrew? Tak ku sangka ia memilih wanita kasar malam ini"

Uh, sedikit lagi kesabaranku habis sialan..

"Ku beri saran, lembut lah sedikit jika kau masih ingin dipakai olehnya"

Di.. dipakai? PAKAI!?

Ini terlalu keterlaluan!

Ava mengeluarkan segala sisa tenaga yang ia miliki untuk melepas cengkraman kasar di rambutnya.

"Lepaskan!!! Kau bajingan! Kurang ajar! Aku bukan pelacur, sialan! Seorang Ava Matthieu tidak akan menjadi wanita malam siapapun! Brengsek!!" Ini Ava. Ava yang memendam segala ungkapan kasarnya seiring pertambahan usia justru harus ia keluarkan lagi malam ini karena sosok pria yang juga berani mengucap kalimat kasar kepadanya.

Ava marah. Benar-benar marah!

Bahkan meskipun dirinya merasa bahwa pria itu mulai perlahan mengundurkan tarikan di rambutnya, ia tetap tak bisa menetralisir emosi yang ia rasakan.

Sekarang, tarikan itu terlepas sepenuhnya.

Apa yang dapat ia dengar setelahnya adalah suara dengan volume minimum yang terucap dari sosok gelap didepannya,

"Ava.."

Jenis suara yang ditangkap oleh telinganya kini memberikan jawaban untuk Ava.

Bahkan tanpa perlu melihat dengan jelas pun Ava tau jika ucapan dan tindakan kasar tadi dilakukan oleh seseorang yang sungguh tak ia duga sama sekali.

Ten?

Baru saja Ava menyadari hal itu, pria dihadapannya justru kehilangan kesadaran.

-🌼-

Bibirnya tak mengucap sepatah katapun.

Cukup telinganya saja yang mendengar, dan kedua matanya yang meneliti.

Itu cukup.

Disisi lain, Andrew yang mengucapkan permintaan maaf dan kalimat penjelasan sejak tadi hanya mampu pasrah akibat tak mendapat respon apapun dari wanita yang saat ini terus menatap sosok yang masih menutup mata di atas ranjang itu.

"Maafkan aku tak menjelaskan lebih dulu soal ini" ujar Andrew, lagi. Entah sudah keberapa kali.

Pada dasarnya bukan itu yang membuat Ava kehilangan kata-kata. Tapi, fakta bahwa pria yang masih menutup mata ini telah berubah menjadi sosok yang tak dikenalnya.

Ya, bagi Ava, jika Ten masih sama seperti dulu, maka sudah pasti dirinya akan segera mengenal pria itu hanya dengan melihat bayangannya saja.

Tapi,

Semuanya berbeda.

Segala tentang Ten terlihat berbeda malam ini.


Semoga hanya malam ini. Harap Ava.



-🌼🌼🌼-

-🌼🌼🌼-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AfT : Unexpected [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang