-🌼🌼🌼-
Mata itu perlahan terbuka, meski masih perlu untuk tetap menutup lalu kembali membuka untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang terasa menusuk
"Aku dimana..?" Erangnya.
"Virginia."
What!?
Hilang sudah kantuk yang dirasakan oleh Ava. Matanya segera menangkap wujud seorang pria yang sibuk merefleksikan diri di depan cermin.
"Sejak kapan? Maksudku, bukankah kita semalam masih di New York?"
"Sembilan jam yang lalu."
Wah, hebat. Dia membawaku kemari tanpa membuatku terbangun sama sekali.
Tapi, tunggu.. "Kenapa kau di sini?"
"Ini rumah ku."
"Ini kamarku."
Ten nampak berbalik dan memiringkan kepala seolah mengatakan 'kau masih setengah sadar ya?'
"I mean, ini kamar tamu mu.. yang sekarang ditempati oleh ku."
"Selama itu masih milik ku, aku bebas berada dimana pun." Ucap Ten, kembali fokus pada cermin dihadapannya.
"Bahkan memasuki kamar wanita tanpa izin. Hah, bajingan memang." Ucap Ava dengan suara yang sebenarnya minim volume, namun masih bisa didengar Ten.
"Kau wanita, ya?" Respon Ten, "Ah iya wanita, dan penyuka sesama jenis."
Sudah lama sejak Ava terakhir kali mendengarnya. Apakah dia marah? Tidak. Ia sudah kebal untuk lelucon sejenis itu.
"Sedikit lucu mendengar itu disampaikan oleh pria yang beberapa hari lalu memohon agar aku menerima lamarannya."
"Hilangkan kata memohon. Kau menolak pun tak masalah."
Ava terkejut, "Benarkah?"
"Ya. Lagi pula bermain-main dengan para reporter seperti nya jauh lebih menyenangkan dari pada hidup beristrikan dirimu" jawab Ten.
Sepertinya kegiatan memandangi diri depan cermin sudah selesai bagi Ten ketika memastikan bahwa penampilan nya telah rapi sepenuhnya.
Seakan berada di kamar itu memang hanya ingin bercermin, maka ketika telah selesai, Ten pun berjalan keluar dari kamar itu.
"Ten" panggil Ava, membuat langkah Ten terhenti.
"Kau tahu apa dampaknya terhadap orang tuaku jika kau melakukan itu.."
"Maka lindungi mereka dengan cukup mengatakan 'ya'. Besok. Tidak ada penambahan waktu lagi."
-🌼-
New York
Ava memegang kepalanya yang sedikit pusing setelah harus beberapa kali berada diatas udara.
Ini gara-gara Ten, pikirnya.
Jika saja pria itu tak keras kepala dan membiarkan nya menetap di New York tanpa harus bolak-balik dan menghabiskan waktu satu jam lebih di pesawat, dirinya pasti akan lebih maksimal dalam mengerjakan persiapan kegiatan amal.
"Apa perlu saya belikan obat, nona?"
"Tidak perlu, em, sampai dimana tadi?"
Wanita berambut pirang itu kembali menjelaskan perkembangan persiapan yang telah dilakukan. Jika tak ada halangan, maka segala persiapan akan segera selesai dan kegiatan itu akan berlangsung satu minggu kedepan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AfT : Unexpected [END]
Fiksi UmumThe new story begin, when we meet again. Siapa yang menyangka jika dalam waktu sepuluh tahun dapat mengubah hidup seseorang dengan cukup signifikan. Di usia 28 tahun, Ten dan Ava kembali bertemu. Memberi sensasi seperti semua dimulai dengan kisah ya...
![AfT : Unexpected [END]](https://img.wattpad.com/cover/213244257-64-k698807.jpg)