VII. Simpanan

106 6 0
                                        

-🌼🌼🌼-

Ava membanting pintu kamar itu dengan cukup keras.

Ia menghembuskan nafas berusaha menetralisir emosi dalam dirinya.

Dia mengancam ku!?

Sesungguhnya ia tak takut sama sekali dengan ancaman Ten. Hanya saja dampak lain yang akan terjadi ketika Ten merealisasikan ancamannya itulah yang Ava hindari.

Ya, dirinya memang bersama seorang pria saat malam pergantian tahun baru waktu itu. Tapi dirinya tak melakukan apapun yang mungkin saja akan orang lain pikiran ketika foto itu dipublikasikan.

Dan, pria di foto itu, sama sekali bukan kekasihnya. Mereka hanya berteman. Ya, pria itu menyukai Ava, tapi Ava tak menyukai siapapun saat ini.

"apa Ten menguntit ku?"

"Ah, abaikan dulu tentang itu. Sekarang mari berpikir hal yang lebih penting!"

Menikah dengan Ten, bahkan membayangkan itu saja mampu membuatnya mual.

-🌼-

Suasana pagi itu sebenarnya cukup menyenangkan bagi Ava

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Suasana pagi itu sebenarnya cukup menyenangkan bagi Ava. Melihat putra Ten berlari untuk menghindari makanan masuk ke mulutnya membuat Ava ingin menangkap anak itu dan menyuapinya dengan cara Ava sendiri.

Bukan dengan paksaan, tapi cara yang biasa Ava terapkan kepada anak-anak di panti asuhan ketika melakukan kegiatan yayasannya.

Ava menyukai anak kecil, dan kehadiran putra Ten di ruangan itu mampu membuatnya kurang fokus terhadap file dari tim desainer yang seharusnya ia cek dengan teliti.

Ia ingin sekali memeluk anak lucu itu, tapi...

Ten masih berada di ruangan yang sama.

Ava tak ingin menyenangkan hati pria itu, mengingat apa yang dikatakannya semalam.

Mungkin lebih baik untuk kembali fokus pada pekerjaan nya. Terlebih, hari ini para anggota pengurus yayasan akan tiba, ia harus cepat menyelesaikan urusan yang satu ini.

Saat telunjuk baru saja menggeser satu gambar di layar itu, tangannya ditarik oleh tangan kecil lain yang ia tahu milik siapa,

Putra Ten.

Uh.. matanya..

Ava menyukai mata anak itu. Sekarang, bagaimana dia bisa fokus?

Terlebih ketika anak itu melompat dan memeluknya, seperti meminta perlindungan diri.

"Tuan Zelo..." Ucap pelayan itu memohon.

Sementara Ava menahan tubuh bocah bernama Zelo itu agar tak terjatuh akibat gerakannya yang cukup aktif.

"Zelo tidak lapar!"

"Tapi kau harus makan, Zelo.." ucap Ava, mungkin saja anak itu akan mendengarkan nya.

AfT : Unexpected [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang