"Sudah ku katakan, semua pria pada dasarnya brengsek."
🌼----------------------------🌼
-🌼🌼🌼-
Ava ingin sekali mengusir pria itu sekarang. Tidak, bukan hanya sekarang, tapi bahkan sejak tadi dirinya sudah menginginkan agar Ten segera menghilang dari jarak pandangnya.
Namun watak keras kepala Ten, membuat keinginannya menjadi mustahil. Terlebih setelah kejadian tadi, Ava tak ingin mengambil risiko dan membuat semua itu kembali terulang.
Saat ini posisi mereka masih sama.
Ava berdiri di depan Ten.
Namun dengan kondisi Ava yang sudah bebas bergerak setelah terlepas dari kungkungan pria didepannya.
"Aku mengantuk. Sekarang terserah kau ingin tetap disini atau kemanapun. Aku tak peduli." Ucap Ava. Kakinya kemudian melangkah semakin jauh dari posisi Ten saat ini.
Tujuannya adalah kamar.
"Apa kau tidak lapar?" Pertanyaan tiba-tiba Ten ia ucapkan seolah tak ada masalah apapun yang terjadi sebelumnya.
Namun Ava tak peduli dengan bagaimana cara Ten menanyakan itu karena yang lebih mendominasi pikirannya saat ini yaitu..
Makanan.
Itulah yang membuat Ava menghentikan langkahnya.
"Aku lapar atau tidak, bukan urusanmu." Jawab Ava.
"Memang bukan."
Terusss???
Tak ingin lagi Ava berlama-lama di sekitar Ten. Apa yang ia dapatkan hanyalah emosi.. emosi.. dan emosi.
"Itu berarti semua makanan di dapur menjadi jatahku sepenuhnya."
Makanan..
Di dapur?
"Ikut aku atau kau menyesal." Ucap Ten lagi. Tak membuang waktu, pria itu segera berjalan menuju kearah dapur.
Oh tidak, aku ingin sekali berlari ke dapur untuk melihat jenis makanan apa yang tersaji, tapi.. aku gengsi!
Uh,
Ava..
Apalah artinya gengsi.
Kau lapar!
"Tunggu!"
-🌼-
Aroma hidangan itu sangat menggugah selera. Berkali-kali Ten meyakinkan Ava bahwa itu adalah makanan yang dibuat sendiri oleh pria itu, namun sebanding dengan banyaknya penjelasan yang diberikan.. maka semakin tak percaya pula dirinya.
"Aku melihat mu menyampaikan kata sambutan." Suara Ten terdengar pertamakali.
"Ya. Aku juga melihatmu saat selesai rapat tadi." Ujar Ava memberi respon.
"Kau berbeda."
"Aku sama." Jawab Ava cepat.
"Jika sama, maka aku tak akan melihat kewibawaan dan keanggunan didalam diri mu sejak memasuki ruang rapat."
"Kau memuji ku?"
"Tidak. Aku sedang menghina masalalu mu."
"Lebih baik memiliki masa lalu yang hina dibanding masa depan yang suram."
Satu alis Ten terangkat, "Kau menyindir ku?"
"Tidak. Aku sedang memberi semangat agar kau berubah."
KAMU SEDANG MEMBACA
AfT : Unexpected [END]
Ficción GeneralThe new story begin, when we meet again. Siapa yang menyangka jika dalam waktu sepuluh tahun dapat mengubah hidup seseorang dengan cukup signifikan. Di usia 28 tahun, Ten dan Ava kembali bertemu. Memberi sensasi seperti semua dimulai dengan kisah ya...
![AfT : Unexpected [END]](https://img.wattpad.com/cover/213244257-64-k698807.jpg)