Sinar matahari yang terik tak menurungkan niat si gadis Vanilla untuk tetap berdiam diri di kamarnya. Ya, Seharian ini Davina mengurung dirinya di dalam kamar. Beruntung hari ini hari libur sehingga Davina tak perlu khawatir ia tidak akan mendapat alfa di absensinya karena tidak datang ke sekolah. Sejak semalam Davina sengaja matikan Handphonenya. Ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun kali ini Davina butuh untuk menenangkan dirinya.
Davina tidak tau apa yang harus ia lakukan jika bertemu Naufal nanti. Namun bahkan sampai saat ini Naufal sama sekali tidak menghampiri Davina ke rumahnya. Davina tidak habis pikir dengan Naufal bagaimana bisa menjadikan Davina pacarnya jika Naufal masih mencintai Ara, cinta pertamanya.
Ditengah sedihnya, Davina teringat akan Kevin. Seandainya Kevin masih ada pasti lelaki itulah yang akan menjadi tameng yang akan melindungi Davina. Atau bahkan jika Kevin masih ada mungkin Davina tidak akan pernah memulai kisahnya dengan Naufal. Sudah pernah di katakan bukan? Kevin selalu ada untuk Davina selalu mendampingi Davina menjadi kekasih, sahabat, juga saudara bagi Davina. Kevin adalah super heronya Davina setelah sang papa.
Davina duduk termenung teringat saat pertemuan pertamanya dengan Kevin saat itu Davina masih menggunakan seragam putih birunya berdiri mengantri untuk mendapatkan es krim vanilla kesukaannya di kedai es krim di dekat taman.
Flashback on
"mas aku pesan es krim vanilla 1 cup yang ukuran besar ya" ucap Seorang gadis dengan seragam putih birunya.
"yah maaf dek, eskrim vanillanya habis" ucap sang penjual.
"itu masih ada mas" ucap nya menunjuk es krim vanilla yang masih tersisa di dalam box
"oh itu sudah pesanan orang dek. Nah tuh orangnya datang" ucap si penjual eskrim.
Davina melirik ke arah seorang anak laki-laki berjalan mendekat dengan seragam yang sama dengannya.
"mas,,, please buat aku aja ya, aku kan langganan di sini" rengek Davina.
"ya maaf dek, dia juga udah lama langganan disini selalu pesan es krim vanilla juga, gimana kalo mas kasih es krim gratis tapi rasa lain?" tanya si penjual pada Davina. Davina menggelengkan kepalanya.
Anak laki-laki itu kini sudah berada di depan Davina dengan 1 cup eskrim vanilla di tangannya menatap Davina heran namun di balas pelototan oleh Davina.
"apa liat-liat" ucap Davina galak. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya pada Davina.
"aku Kevin, kamu?" tanya Kevin. Davina tetap diam membuat Kevin menarik tangannya kembali.
"Kamu ambil es krim vanilla ku" kesal Davina.
"Aku?" tujuk Kevin pada dirinya.
"iya, kembalikan es krim itu" ucap Davina menunjuk es krim di tangan Kevin.
"tidak akan, ini es krim ku" jawab Kevin
Davina menggembungkan kan pipinya. Lalu menatap es krim yang di bawa Kevin.
"itu, es krim vanilla terakhir di kedai ini" ucap Davina lirih
"kenapa ga cari di tempat lain kan banyak" ucap Kevin. Davina menggelengkan kepalanya. Membuat Kevin menghela nafasnya lalu menarik tangan Davina ke danau dekat taman.
"mmm,,, kamu mau ini?" tanya Kevin sambil mengangkat es krimnya dan Davina mengangguk lalu duduk di tepi danau. Kevin membagi es krim cup nya menjadi dua bagian lalu memberikan sendok yang di pegangnya pada Davina.
"kita bagi dua kamu setengah dan setengahnya lagi untuk ku gimana?" ucap Kevin. Mata Davina berbinar senang ia tersenyum lalu memakan es krim bagiannya.
Tak salahkan berbagi bahkan dengan orang yang baru dikenal sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAVINA (COMPLETED)
Fiksi RemajaTerbelenggu oleh rasa yang mengikatnya pada seseorang di masa lalu, dan bayang-bayang akan kenangan indah bersama seseorang di masa lalunya memaksa Davina membangun dinding pembatas antara dirinya dan orang-orang yang berada disekitarnya, juga terha...
