Terbelenggu oleh rasa yang mengikatnya pada seseorang di masa lalu, dan bayang-bayang akan kenangan indah bersama seseorang di masa lalunya memaksa Davina membangun dinding pembatas antara dirinya dan orang-orang yang berada disekitarnya, juga terha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Davina berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang menuju minimarket di depan sekolahnya. Lima belas menit yang lalu bel pulang sekolah berbunyi. Davina melirik jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul 16.15 yang berarti sudah sepuluh menit ia berdiri namun ia belum bisa menyebrang karena ramainya kendaraan yang berlalu lalang karena jam pulang para pelajar. Tak lama sebuah mobil berhenti di hadapan Davina, lalu menurunkan kaca mobilnya sehingga Davina bisa melihat jelas seseorang yang berada di dalamnya
"Na, bareng yuk!"
"Enggak deh, Tan. Gue mau ke mini market dulu" jawab Davina
"Ya udah, deh. Kalo gitu gue duluan ya Na." Pamit Tania berlalu dengan mobil jemputannya
"Kapan gue bisa nyebrangnya coba," gerutu Davina
"Neng, mau nyebrang, ya?" tanya seorang laki-laki paruh baya
"Eh, iya Pak"
"Ayo saya bantu nyebrang"
"Makasih ya, Pak Jo" ucap Davina setelah di seberangkan oleh security sekolahnya
"Sama-sama, Neng" Pak Tejo berlalu dan Davina masuk ke dalam minimarket.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit mulai menjingga seorang gadis berdiri di halte bus nampak sedang menunggu seseorang.
"Udah sore gini ke mana sih tuh orang lama banget katanya kumpul bentar doang," gerutu gadis itu
"Awas aja kalo lima menit lagi belum dateng bakal-"
"Bakal apa?" sahut seseorang memotong ucapan gadis tersebut
"Beliin gue es krim" jawab Davina sambil mengerucutkan bibirnya. Andre terkekeh melihat tingkah gadis di sampingnya itu.
"Ya udah iya..., iya. Naik Na! "perintah Andre pada gadis itu yang tak lain adalah Davina. Davina tersenyum lalu naik ke motor Andre