Hari setelahnya

416 32 5
                                        

Terhitung sudah tiga hari pasca kejadian pembullyan, Ara sama sekali tak pernah terlihat di sekolah. bisik-bisik siswa terdengar, banyak yang membicarakan kejadian yang melibatkan Davina, Ara serta Michel dan tentu yang mereka percaya Ara dan Michel menjadi korban hingga membuat Ara di rawat di rumah sakit.
Tiga hari Davina merasa risih karena tatapan dan cibiran yang dilontarkan untuk Davina.

Beberapa hari lalu Davina dipanggil untuk menghadap kepala sekolah dan menjelaskan perihal kejadian pembullyan yang telah terjadi, Kepala sekolah tidak percaya Davina berbuat kekerasan di sekolah namun ia juga tak sepenuhnya percaya pada ucapan Davina sebelum adanya bukti yang menjelaskan bahwa Davina tidak bersalah. Rekaman cctv yang dapat menjadi bukti tidak dapat di temukan di ruang informasi satu-satunya jalan untuk memastikannya hanya menunggu Ara sadar dari masa kritisnya.

Entah kapan Ara akan sadar. Selama itu Davina selalu berusaha meyakinkan Naufal bahwa bukan Davina yang melakukan hal itu pada Ara. Namun, Naufal tetap dengan prasangkanya dan tak percaya pada ucapan Davina. Entah sampai kapan Davina kuat menjalani hari-harinya. Hanya Kevan, Andre dan sahabat-sahabatnya yang percaya pada Davina. Davina tidak ingin menambah beban bundanya dengan memberi tau masalahnya di sekolah pada sang bunda.

"Fal,," panggil Davina lirih lalu meraih tangan Naufal yang hendak keluar kelas Namun, langsung saja Naufal menepisnya dan menatapnya dingin.

"Please,,, percaya sama aku, aku ga lakuin itu sama Ara" ucap Davina. Ucapan Davina bagai angin lalu bagi Naufal. Naufal berlalu dan pergi meninggalkan Davina yang hanya bisa menatap kepergian Naufal.

Tepukkan dipundaknya membuat Davina tersadar dari diamnya.

"Cukup, jangan kejar dia lagi, itu hanya akan buat kamu sakit" ucap Kevan berdiri di samping Davina. Davina mendongak menatap Kevan dengan air mata yang tanpa di sadari sudah jatuh membasahi kedua pipinya.

"Hey, Jangan nangis, kamu ga sendiri Na" ucap Kevan menghapus air mata Davina dan membawanya ke taman sekolah.

Saat menatap Davina Kevan dapat melihat betapa rapuhnya Davina. Kevan pastikan Naufal akan menyesali perbuatannya pada Davina.

***

Davina berjalan gontai menelusuri jalanan yang mulai ramai karena sudah jam pulang.
Davina melangkahkan kakinya ke sebuah taman yang berada dekat dengan rumahnya. Davina duduk termenung di bangku taman, hingga suatu benda dingin menempel di pipinya. Davina memalingkan wajahnya dan lagi-lagi ia mendapatkan Andre yang tengah berdiri sambil tersenyum di sebelahnya tak lupa ia juga membawa es krim di tangannya.

"Nih, makan dulu biar moodnya balik" ucap Andre memberikan es krim pada Davina. Hari ini, hari ketiga Andre stay di taman. Biasanya sepulang sekolah ia akan langsung pulang atau latihan basket tapi karena Davina ia berada di taman ini. Memberikan semangat dan dukungan untuk Davina. Andre tidak mau membiarkan adiknya duduk sendiri sambil melamun. Biarlah Andre menghabiskan waktunya berjam-jam di taman asalkan  dapat menemani dan mengurangi beban yang di rasakan Davina, dan menjadi sandaran untuk adik satu-satunya itu. Andre tidak ingin hal yang pernah terjadi dulu terjadi lagi. Cukup sekali Andre tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

"mau pulang?" tanya Andre melihat Davina berdiri dari duduknya. Davina menggelengkan kepalanya.

"Mau ikut kakak ga?" tanya Andre.

"Kemana?" tanya Davina

"Ada deh, tapi sekarang kamu kakak anter pulang ntar malem kakak jemput kamu" ucap Andre. Davina menghela nafasnya lalu mengikuti Andre.

***

Andre duduk bersandar pada mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah Davina. Tangannya sibuk memainkan handphonenya. Ia mengetik pesan pada Davina agar menemuinya di depan rumahnya.

Andre
Na, kakak udah di depan Nih, tante Alina ada di rumah?

Davina
Masuk aja dulu kak aku mau siap-siap dulu, bunda ada kok lagi di ruang tengah

Andre menyimpan handphonenya di saku celana lalu berjalan mendekat ke rumah Davina.

"Assalamualaikum,,," ucap Andre pelan, melihat pintu yang tak terkunci Andre langsung masuk dan melihat Alina tengah menonton tv

"Tantee,,,,, Andre datenggg,,,,"teriakan Andre membuat Alina terkejut.

"Astagfirullah Andre, dateng bukannya ucap salam kamu" omel Alina

"yah Tante, Andre dari tadi di depan, udah ngucapin salam tantenya aja yang ngga denger sibuk nonton ftv sih" ucap Andre menyalami Alina lalu duduk di sofa sebelah Alina

"Tan, nih kue bisa di makan kan?" tanya Andre langsung mendapat cubitan dari Alina

"Ya bisalah Ndre,,, makan aja kalo mau" ucap Alina

"ya kan takutnya kayak waktu itu" ucap Andre mengingat kejadian di mana ia memakan kue perdana milik Alina. Waktu itu Alina salah memasukan bahan yang seharusnya gula ia malah memasukkan garam. Dan rasanya benar-benar you know lah

"Ndre, Davina gimana di sekolah? Beberapa hari ini tante liat dia keliatan murung" tanya Alina membuat Andre tersedak kue yang ia makan,

"Aduh,, Andre pelan-pelan dong makannya kalo masih mau, banyak tuh di dapur" ucap Alina memberikan segelas air pada Andre. Andre meneguk air tersebut sampai habis tak bersisa. Sungguh Andre sebenarnya ingin menunggu Davina di depan rumahnya untuk menghindar agar tidak mendapatkan pertanyaan semacam ini dari tantenya.

"Jadi? Apa ada yang tante gak tau mengenai Davina di sekolah?" tanya Alina pada Andre.

"Davina gapapa kok bun, Davina lagi lelah aja soalnya banyak tugas. Minggu depankan ujian kenaikan kelas" bukan Andre yang menjawab namun Davina yang kini sudah berdiri di samping Alina duduk.

"Bunda gak usah khawatir, Davina baik-baik ajak kok bun. Ya kan kak" ucap Davina lalu mengedipkan matanya mengkode Andre.

"ii,,iya tan," jawab Andre

"hmm,,,,ya udah kalian mau pergi kan. hati-hati, pulangnya jangan malam-malam. Tante titip adek kamu Ndre" ucap Alina

"siap bos, kalo gitu kita pergi dulu. Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam".

***

"Untung tante Alina percaya, Na" keluh Andre ketika mereka masuk ke dalam mobil

"jangan kasih tau bunda tentang masalah itu ya kak. Please,,," mohon Davina.

"ck,, iyaiya, pake seatbelt nya" ucap Andre lalu mulai menjalankan mobilnya.

"Kita mau kemana kak?" tanya Davina melihat Andre memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung

"Ayo turun" ajak Andre lalu membawa Davina menaiki lift menuju lantai tertinggi.

"sini" ucap Andre menyuruh Davina duduk di sebelahnya yang tengah duduk menatap langit malam di atas rooftop. Davina menuruti ucapan Andre dan duduk di sebelahnya.

"Kamu bisa teriak sesuka kamu di sini, keluarin semua beban kamu" ucap Andre. Davina menoleh menatap Andre ragu.

"coba Na" suruh Andre. Davina bangkit dari duduknya lalu berdiri di dekat pagar pembatas. Davina menghela nafasnya lalu berteriak sekencang yang ia bisa, sementara dari arah belakang Andre tersenyum ketika Davina berbalik dan memeluknya erat.

"Makasih kak, makasih udah selalu ada buat Davina" ucap Davina. Andre mengusap kepala Davina dengan penuh rasa sayang.

"apapun itu untuk kamu adik kecilku" ucap Andre membuat Davina cemberut.

"masa aku udah besar gini di bilang adik kecil sih kak ish,," gumam Davina yang masih bisa di dengar Andre. Andre tersenyum lalu membawa Davina kembali ke mobilnya.

"Kita cari makan ya" ucap Andre.


DAVINA (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang