"Makasih kak" ucap Davina pada Kevan
"iya, udah sana balik ke kelas tiga menit lagi bel masuk" ucap Kevan. Davina mengangguk lalu meninggalkan Kevan di parkiran.
Davina berjalan di koridor yang mulai sepi karena kemungkinan siswa lain sudah masuk ke kelas mereka masing-masing.
Ketika hendak menaiki tangga menuju kelasnya Davina di kejutkan oleh keberadaan Naufal yang tiba-tiba.
Naufal menarik tangan Davina membawanya menuju rooftop. Selama perjalanan ke rooftop Davina meringis akibat genggaman tangan Naufal yang begitu kuat.
"Fal lepas,,," ucap Davina pada Naufal namun sama sekali tidak didengarkan. Davina berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Naufal namun, rasa sakit kembali yang ia rasa kan.
"Fal lepas, sakittt" lirih Davina. Naufal melepaskan genggamannya saat mereka sampai di rooftop. Davina memegang tangannya yang memerah karena genggaman Naufal.
" gue udah bilang jangan deket-deket sama Kevan. Apa lo tuli" Bentak Naufal. Davina menatap Naufal tak percaya.
"masih sempat-sempatnya lo senyum bahkan jalan sama cowok lain di saat lo udah buat Ara kritis" ucap Naufal Tajam.
"Lo ngga ngerasain gimana rasa sakit yang Ara rasakan selama ini, apa salah Ara sampai lo tega nyakitin dia, Apa lo ngerasa tersaingi karena kehadiran Ara? Makanya lo tega sama dia?" ucap Naufal. Davina hanya diam. Diam dengan rasa sakit yang mulai menjalar di hatinya.
"Apa lo sama sekali ga merasa bersalah hah? Jangan jadi cewek murahan di ajak jalan sama cowok lain mau aja" ucap Naufal tadi membuat luka di hati Davina. Naufal berbalik menghadap Davina yang sudah berlinang air mata.
"Udah puas? Udah puas kamu ngatain aku?" ucap Davina. Naufal terdiam menyadari kata-katanya yang sudah keterlaluan dan menyakiti Davina.
" Aku emang ga ngerasain sakitnya Ara karena aku Davina bukan Nayyara. Aku cuma makan sama Kevan karena dia tau aku menghindari kantin. Apa kamu tau aku sakit karena omongan mereka tentang kita? Tentang pembullyan yang gak pernah aku lakuin? Ngga kan?. Aku cuma diam disaat pacar aku sendiri peluk perempuan lain di depan mata aku. Aku cuma bisa nahan sakit hati aku disaat kamu bergandengan tangan di depan umum sama Michel. Aku cuma bisa tutup telinga mendengar mereka membicarakan kamu yang bermesraan sama Michel. Aku tau Ara cinta pertama kamu, lalu aku harus apa kalau nyatanya begitu? Tapi yang harus kamu tau, aku sama sekali gak benci atau pun dendam sama Ara. Aku udah bilang berkali-kali aku sama sekali gak ngebully Ara. Tapi kamu gak pernah percaya sama ucapan aku, aku selalu berusaha buat yakinin kamu tapi kamu? Kamu selalu anggap aku gak ada. Kamu anggap aku angin lalu Fal. Dan,,, kamu anggap aku perempuan murahan. Kamu tau? Kamu gak ada bedanya sama mereka kata kata kamu buat aku sakit Fal," ucap Davina lalu berlari meninggalkan Naufal di rooftop.
Lagi lagi tanpa Naufal sadari ia telah menyakiti hati Davina. Naufal meremas rambutnya kesal. Separuh hatinya mengatakan untuk mengejar dan mempercayai ucapan Davina namun separuh hatinya yang lain memaksanya untuk diam dan membiarkan Davina pergi.
"Aaaaa,,,,," teriak Naufal. Naufal selalu cemburu jika Davina bersama Kevan. Naufal menyesal telah membentak dan berkata kasar pada Davina. Nyatanya hatinya memang benar-benar sudah jatuh pada Davina. Sakit hati Naufal melihat Ara terluka tak sebesar rasa sakitnya melihat Davina yang lagi-lagi menangis dan itu karena dirinya.
***
Davina berlari menuju gerbang sekolah, matanya melihat sekeliling mencari taksi yang akan membawanya pergi. Sebuah taksi berhenti di depan Davina tepat setelah Davina melambaikan tangannya. Davina segera masuk ke dalam taksi memberitahu alamat yang di tujunya dan pergi meninggalkan sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAVINA (COMPLETED)
Teen FictionTerbelenggu oleh rasa yang mengikatnya pada seseorang di masa lalu, dan bayang-bayang akan kenangan indah bersama seseorang di masa lalunya memaksa Davina membangun dinding pembatas antara dirinya dan orang-orang yang berada disekitarnya, juga terha...
