TERDENGAR bel ditelingaku, aku memeluk bantalku lebih erat lagi. Mungkin si penekan bel adalah kurir barang, biarkan nanti juga pergi sendiri. Dan terdengar bel untuk kedua kalinya. Kali ini aku membuka sedikit mataku lalu melihat kearah pintu apartemenku. Ya! Siapa yang menggangu tidur nyamanku? Tidakkah dia tahu kalau ini masih sangat pagi?
Jam berapa ini? Aku melirik jam waker dimeja nakas samping kasurku. Oke jam 10.25 kurasa bukan pagi lagi. Tapi ini masih pagi menurutku! Aku menyembunyikan badanku dibalik selimut dan menutup telingaku dengan bantal.
Aku berjalan dengan kesal menuju pintu apartemenku saat bel ketiga, lalu melihat monitor pintu, ternyata si penekan bel adalah gadis yang menarik perhatianku. Ujung bibirku sedikit terangkat. Sepertinya aku harus menarik kata-kataku untuk memukul si penekan bel.
Melihat wajahnya dibalik monitor membuatku ingin sekali menangkup pipi tembam mungilnya ditangan besarku. Ah pagi-pagi sudah membuatku gila saja gadis itu. Aku sedikit terkekeh lalu sedikit menggeleng-gelengkan kepala.
Bel kembali berbunyi, aku tersentak lalu mengembalikan wajah konyolku dikarenakan gadis itu dan memasang muka bantal sedikit kesal agar wanita didepanku tidak curiga.
"Ya! Kau mengganggu tidurku. Wae?!" sewotku pura-pura.
Aku lihat Hayfa sedikit memejamkan mata menahan kekesalan lalu menghela nafas. Ia menatapku dengan tatapan lembutnya dan tersenyum kearahku. Oh damn it! Dia terlihat sangat cantik.
Lalu gadis itu memberikan sebuah kotak makan kepadaku, aku sedikit terkejut tapi aku menormalkan kembali wajahku. Aku menerimanya seraya tersenyum, ah sedikit terkekeh maksudku.
"Apa ini?" tanyaku dan menatap wajah Hayfa dengan senyuman menggoda khasnya. "Kurasa kau benar-benar tertarik denganku bukan? Lihatlah, kau bahkan sampai membuatkanku sarapan seperti ini," lanjutku.
Aku memperlihatkan kotak makan ditangku, dari baunya ini pasti enak sekali, ah dia benar-benar istri yang baik. Aku tersenyum samar, membanyangkan jika Hayfa menjadi istriku pasti akan menyenangkan sekali, gadis itu pasti akan selalu memasakkan sarapan untukku dan akan menyambutku dengan senyum lembutnya.
"Itu kolak pisang, makanan khas Indonesia. Semoga kau menyukainya, Sunbae," ucapnya lalu berbalik meninggalkanku yang masih memikirkan hidup menjadi pasutri dengannya.
Dengan cepat memegang lengan tangannya tapi kemudian Hayfa menghempaskannya. Aku sedikit terkejut karena sikapnya ini tapi lagi-lagi aku menormalkannya. Hayfa terlihat menatapku marah. Kenapa? Kenapa harus marah? Apa salah memegang tangannya? Bukankah ini sudah biasa? Hayfa benar-benar aneh, disaat semua wanita bermimpi dan bahkan berebutan untuk bisa memegang tanganku, tapi gadis didepanku menatapku marah karena hal ini. Tidak bisa dipercaya!
"Ya! Kau benar-benar menyukaiku kan? Tidak usah malu mengakuinya, aku akan menjadikanmu yang paling special," ucapku menggoda.
Dia menatapku bingung lalu menghela nafas. "Terserah Sunbae saja. Tapi aku minta jangan memegang tanganku seperti itu lagi."
Aku mengangkat sebelah alisku bingung. Apa-apaan?! Sebegitu tidak inginnya dia disentuh olehku? Ah ayolah, ini sudah sagat biasa. Atau mungkin gadis ini sengaja agar aku lebih penasaran dengannya?
"Wae? Bukankah itu sudah biasa? Kenapa kau tidak memperbolehkannya? Ah atau kau berusaha membuatku semakin tertarik?" Aku terkekeh. "Kau benar-benar pintar sekali," lanjutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Islammu Maharku (Sudah Terbit)
SpiritualVersi Revisi ada dibuku **** "Aku mencintaimu, tapi kenapa kau menolakku? Aku tampan, pintar, populer dan aku bisa melakukan apa pun dengan mudah. Apa yang kurang dariku?" -Zhang Yi "Kau sangat tampan. Wanita mana pun jika dijadikan kekasih olehmu m...
