AKU mengusap wajahku frustasi. Entah apa yang terjadi kepadaku sehingga aku dengan nekat mengatakan bahwa aku adalah calon suami Hayfa. Gila dan aku benar-benar sudah gila. Aku menghela nafas, aku teringat saat menyusul Hayfa dan temannya tadi. Bahunya bergetar, aku tidak tahu kenapa seperti itu. Dua kemungkinan Hayfa marah kepadaku atau Hayfa menangis karenaku?
"Arrgghh" Aku mengacak rambutku. Kenapa denganku?! Kenapa aku takut dua kemungkinan itu terjadi kepada Hayfa?! Ah sudahlah. Tidak ada perempuan yang membuatku sefrustasi ini sebelumnya. Tapi ini bukan sepenuhnya salahku! Hayfa juga salah, kenapa dia tidak menurutiku saja? Apa sesulit itu untuknya?
Ku rasa aku harus berjalan-jalan sebentar. Aku berjalan menuju taman lalu duduk dikursi taman yang sudah disediakan. Aku melirik jam ditanganku, ah ternyata jam 2 pagi pantas saja sepi.
Aku menghela nafas lalu menatap gedung fakultas psikologi didepanku. Ah apa kabar dengan Hayfa? Mungkinkah dia sudah tidur? Tunggu. Apa itu? Mataku menyipit saat melihat wanita dengan kain dikepalanya berjalan kearah asrama belakang gedung fakultas bisnisku. Mau apa dia? Aku mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai di asrama, wanita itu masuk kedalam ruangan yang bertuliskan musholla. Untuk apa tempat ini? Kenapa aku baru tahu kalau ada tempat seperti ini di asrama? Aku berdiri didepan pintu ruangan itu. Untung saja pintunya terbuka sedikit lebar jadi aku bisa mengintip kedalam tanpa ada suara pintu yang akan aku buka.
Saat aku melihat kedalam, aku melihat wanita yang berlari dengan memakai kain putih menjulur sampai kakinya sedang melakukan gerakan-gerakan yang tidak aku ketahui. Ah kurasa akan banyak yang takut dengannya karena akan mengiranya hantu jika ia berpakaian seperti itu. Wanita itu sekarang tengah melakukan sujud mencium karpet dan lama sekali.
Tunggu? Sepertinya aku mendengar dia mengucapkan bahasa Arab. Oke aku mengerti, dia sedang beribadah rupanya. Entah kenapa saat melihat gerakan itu, aku juga merasakan sejuk dihatiku?
Tunggu, bukankah aku tidak percaya adanya Tuhan? Aku bisa hidup tanpa Tuhan, aku tidak butuh Dia. Ulangku dalam hati. Aneh, kenapa aku belakangan ini? Ah sudahlah jangan dipikirkan.
Aku melihat bahu wanita itu bergetar hebat dan suara lembutnya terdengar purau, kurasa dia menangis. Hei tunggu, suara lembut? Aku mengenal suara lembut ini, ya dia Hayfa Luthfiana. Tidak ada wanita yang memiliki suara selembut dia. Setelah itu dia menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri, lalu mengangkat kedua tangannya.
Aku menatapnya lama, aku mendengar suaranya terus meminta ampun tanpa henti, dia juga mengatakan terlalu banyak dosa-dosanya sehingga tangisnya semakin pecah, suaranya bahkan terdengar tersengal-sengal. Ah kenapa melihat dia menangis hanya karena itu didepan Tuhannya membuat perasaanku semakin aneh dan lagi dia terlihat ketakutan.
Aku menggelengkan kepalaku, kurasa aku harus pergi. Aku bisa gila kalau aku terus berada ditempat ini. Aku berjalan meninggalkan Hayfa yang tengah menangis takut ditempat bernama musholla ini. Aku merasa jantungku seperti diremas-remas. Aku butuh tidur, aku tidak mau pikiran dan rasa ini terus ada, aku tidak mau jadi gila.
***
Malam ini bisa dibilang puncaknya MT, ya apa lagi kalau bukan pesta untuk menyambut para hobae? Sudah seharian ini mereka mengikuti seminar dan bimbingan dari para sunbae maupun dosen. Dan acara ini identik dengan minum yang banyak dan merayakan keberhasilan mereka, setiap junior wajib ikut acara ini untuk menghargai para senior.
Aku sendiri masih berada bersama mahasiswa psikologi. Aku juga malas berada di jurusanku karena yang menarik untukku ada disini. Sekarang tidak ada yang bisa menghentikanku karena sekali lagi, tidak akan ada yang berani melawan Zhang Yi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Islammu Maharku (Sudah Terbit)
SpiritueelVersi Revisi ada dibuku **** "Aku mencintaimu, tapi kenapa kau menolakku? Aku tampan, pintar, populer dan aku bisa melakukan apa pun dengan mudah. Apa yang kurang dariku?" -Zhang Yi "Kau sangat tampan. Wanita mana pun jika dijadikan kekasih olehmu m...
