34. Selangkah Lebih Dekat (Zhang Yi)

4.8K 865 5
                                        

"ILAAHII lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi."

"Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil 'azhiimi."

Aku memejamkan mataku. Sejak berangkat tadi gadis didepanku terus saja menyanyi dengan suara lirih tapi aku masih bisa mendengarnya, entah apa artinya tapi aku merasa tenang mendengarkannya.

"Suaramu bagus," pujiku.

Hayfa menoleh ke belakang sekilas lalu kembali menghadap ke depan. Gadis didepanku sedang duduk sendiri dan begitupun aku, jadi aku aman menggodanya tanpa melihat respon orang lain. Hari ini kami sedang pulang bersama sehabis menghabiskan waktu belajar di kampus.

Sejak kejadian bulan lalu dimana aku memaksanya untuk memanggilku Oppa dan memaksanya untuk pulang atau bahkan berangkat bersama, gadis itu sudah mulai diam. Ya awalnya memang tidak mudah, aku harus mendapatkan penolakan sampai beberapa kali. Tapi sekarang? Aku tidak tahu ini semua karena Hayfa menyerah atau aku sudah mendapatkan tempat di hatinya, yang pasti ini adalah kesempatan untukku. Tapi syarat dari ini semua aku harus menjaga jarak saat berdekatan dengan Hayfa. Gadis itu benar-benar tidak mau disentuh, aku bahkan setiap hari harus duduk di belakang gadis itu saat naik bus, jika tidak Hayfa akan marah. Jika dipikir-pikir kenapa sekarang aku merasa sedikit berbeda? Dulu aku tidak peduli dengan masalah orang lain atau apapun itu yang tidak ada kepentingan denganku.

Sejak bersama Hayfa aku selalu meniru apa yang gadis itu lakukan. Ketika bus ramai ada orang yang membutuhkan tempat duduk, aku mulai gesit menawarkannya bahkan sebelum Hayfa berdiri menawarkan. Dulu aku juga penuh emosi dan tentu saja juga gengsiku tinggi. Tapi semenjak dengan Hayfa sedikit demi sedikit aku bisa mengendalikan emosiku dan karena dia juga aku sampai tidak memperdulikan popularitas dan namaku lagi. Entahlah, hidupku banyak berubah sampai membuat Taewoo, Yibo dan Zhiguang memandangku seperti orang aneh. Sialan memang mereka!

"Jangan memujiku!" seru gadis itu. Aku mengangkat ujung bibirku dan terkekeh melihat tingkah gadis itu. Benar kata Taewoo semakin hari aku semakin gila karena gadis cantik didepanku ini.

"Memang kenapa? Gadis cantik sepertimu memang pantas menerimanya," ucapku.

Tidak ada jawaban tapi samar-samar aku mendengar suara gadis itu, untungnya bus sore ini sepi. "Berhenti membuatku bingung."

Aku tersenyum. Kenapa harus bingung? Kenapa bingung dengan perasaanmu sendiri? Tapi mendengar responnya kali ini, sepertinya gadis itu sudah menerima aku dihatinya. Walaupun terdengar tidak menyukainya dan juga dia tampak menyembunyikannya, aku tetap saja merasa senang.

Gila. Satu kata itu, rasanya aku ingin berteriak pada dunia. Sebentar lagi aku boleh memilikimu kan? Aku menatap lembut wanita didepanku, gadis itu sepertinya tengah menunduk.

"Hayfa apa aku ingin bertanya." Hayfa menoleh ke belakang.

"Bertanya apa?"

"Apa kau pernah berharap? Maksudku ... berharap untuk memiliki seseorang?"

Hayfa terdiam lalu menghadap kedepan. "Ya tentu saja aku pernah. Tapi berharap terlalu besar pun akan membuat hati dan perasaan terluka," ucapnya.
Aku menatap lekat. Hayfa yang saat ini menikmati pemandangan sore hari.

"Karena Ali pernah berkata 'Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia' dan kata-kata itu benar, sebesar apapun kita berharap dan sebesar apapun harapan yang diberikan, semua itu pasti akan hancur," ucapnya.

"Apa maksudmu? Jadi berharap itu salah? Bukankah berawal dari harapan semua akan terwujud?" tuntutku.

"Ya itu memang benar tapi berharap dengan harapan itu berbeda segi. Dalam agamaku berharap terlalu besar kepada manusia akan menyakitkan."
Aku mengernyitkan dahiku. "Kenapa seperti itu?"

Islammu Maharku (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang