46. Our Spring (Zhang Yi)

5K 758 33
                                        

"KAU gugup, Zhang?" tanya Taewoo.

"Siapa yang tidak gugup saat-saat seperti ini, hm? Jika aku jadi Zhang Yi sudah pasti aku akan gugup," tambah Zhiguang.

"Zhang, apa perlu kau sampai berjalan kesana dan kemari?"  Aku menoleh ke arah Yibo, pria itu tengah menatap datar diriku.

"Aku harus menghapal ini!" Aku menunjukkan teks ijab qobul ditanganku.

Ya hari ini adalah hari pernikahanku dengan Hayfa sebulan setelah acara kelulusannya. Kami akan menikah di Seoul Central Mosque dengan Bahasa Indonesia dan imam dari Indonesia. Dan sekarang aku dan teman-temanku ada diruangan khusus di Masjid ini, menunggu untuk dipanggil ketika acara akan dimulai.

"Teks sesingkat itu, kau tidak bisa menghapalnya?" tanya Zhiguang.

"Ya! Kalian tidak mengerti, aku akan menjabat tangan ayah Hayfa dan aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun!" ucapku sedikit frustasi.

"Aku baru pertama kali melihat seorang Zhang Yi sebegitu tertekan seperti ini," ucap Yibo dengan nada mengejek.

"Padahal waktu itu dia sangat senang dan bersemangat," tambah Taewoo dengan nada yang sama.

Aku hanya diam tak menjawab, aku ingin mengelak tapi memang benar waktu Hayfa menerima lamaranku dan ayah Hayfa menetapkan tanggalnya, sejak saat itu aku belajar sangat keras untuk hari ini.

"Ah ya, aku masih penasaran kisahmu saat menemui ayah Hayfa sehingga mendapat restunya," ucap Zhiguang.

Aku menghela nafas, saat pertama kali aku bertemu dengan beliau, beliau sangat ramah tapi saat aku menyatakan keinginanku mempersunting Hayfa, beliau berubah serius, aku bahkan hampir melakukan kesalahan saat itu.

Kenapa aku bisa mengetahui beliau? Karena aku berteman dengan Hamish sejak kejadian di apartemen Hayfa beberapa tahun yang lalu. Aku meminta nomor ponsel dan akun media sosialnya, awalnya dia tertawa dan merasa lucu tapi aku memang berniat berteman dengan kakak dari Hayfa karena waktu itu aku berpikir untuk mendapatkan restu dari Hamish, siapa yang menyangka akan berguna.

"Nanti akan kuceritakan. Aku sibuk," ucapku menunjukkan kertas ditanganku.

"Padahal aku penasaran," ucap Zhiguang.

Saat aku sibuk dengan teks ditanganku, sebuah ketukan pintu membuat otot jantungku memompa lebih cepat. Aku menatap jam ditanganku, tinggal satu jam lagi, kenapa ada yang memanggilku? Aku menatap pintu dengan khawatir lalu pintu kamarku terbuka lebar memperlihatkan ayah dan ibuku kandungku. Ayah dan ibu terlihat bersama memasuki kamarku.

"Bisa tinggalkan kami bertiga? Ada yang ingin kami bicarakan dengan Jaehan," ucap ibuku melihat kearah Taewoo, Yibo dan Zhiguang.

Tanpa banyak bicara teman-temanku menjauh dariku, Yibo menepuk bahuku seraya tersenyum dan aku membalasnya dengan senyuman.

Begitu pintu ditutup oleh Yibo, ayah dan ibuku menatapku, tidak ada sepatah katapun diantara kami. Dan aku bingung untuk memulai pembicaraan di situasi seperti ini, aku juga sudah menitipkan Yeonghoon ke Khalid agar tidak merepotkanku untuk hari ini, untung saja Yeonghoon sudah mengenal Khalid.

"Akhirnya hari ini tiba juga ya, Han-ah," ucap ibuku memulai pembicaraan. "Kau sudah berjuang dan menunggunya bertahun-tahun untuk hari ini."

Aku tersenyum, aku ingat saat pertama kali melihat Hayfa, gadis dengan kain hijab dikepalanya. Aku tidak menyangka akan tertarik dengannya dan aku tidak menyangka hampir dibuat frustasi karena sikapnya.

Niatku untuk membuatnya jatuh cinta lebih dulu padaku, malah aku yang terjatuh lebih dulu padanya. Sikap lembutnya, sikap ramahnya, semua yang ada pada dirinya benar-benar indah. Seperti bidadari, banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari kata-katanya. Saat aku bertanya tentang islam dia akan dengan senang dan mata yang berseri-seri menjelaskannya. Apa yang dilakukannya sesuai dengan ajaran agamanya bahkan dia selalu menghubungkan kehidupan dengan akhiratnya.

Islammu Maharku (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang