AKU menatap penampilanku didepan cermin besar dalam kamarku. Ah apa aku masih terlihat tampan? Apa Hayfa akan tertarik jika penampilanku seperti ini?
Aku memperagakan gerakan-gerakan bak model. Ngomong-ngomong, aku lupa aku sebenarnya adalah seorang model. Aku terkekeh mengingat kebodohanku, aku benar-benar gila gara-gara gadis berhijab itu. Sekarang aku malah terlihat seperti remaja yang baru mengenal cinta. Menggelikan sekaligus menyenangkan.
Kemarin gadis itu mengajakku lebih dulu, bukankah ini suatu kemajuan? Tapi sekarang bertepatan dengan jadwalku pemotretan. Ah tidak apa-apa, hitung-hitung agar dia bisa terbiasa kelak dengan profesiku jika nanti kami menjadi pasangan. Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku, berhentilah bermimpi, bodoh!
Ah iya sudah lama aku tidak juga aku tidak pemotretan, terakhir kali saat dibandara dan bertemu Hayfa. Dan juga jadwal pemotretanku adalah yang paling santai, tidak setiap hari karena aku tidak terlalu malas jika bekerja terus-menerus. Karena aku yang tertampan dan juga model dengan bayaran termahal di agensiku, jadi sebagai gantinya aku hanya meminta pemotretan jika ada produk terkenal dan ternama, itu saja. Oke berhenti omong kosong, ayo berangkat. Hayfa mungkin sudah menunggu lama.
***
"Sunbae, aku—"
"Sebentar lagi Hayfa-ya, kita akan sampai." Senyumku padanya.
Hayfa terlihat mengehela nafas, aku mengerutkan dahi bingung. Kenapa dengan gadis itu? Entahlah sejak tadi dia hanya diam, bahkan saat aku sedang menggodanya pun, gadis itu tetap saja diam. Belum lagi gadis itu sekarang menggunakan riasan sedikit tebal menurutku. Sebenarnya aku ingin marah padanya atau menyuruhnya menghapus make up tebalnya itu, aku benar-benar gatal. Hei, gadis itu tidak berniat menarik pria lain kan? Sebenarnya aku penasaran apa yang akan gadis itu katakan kepadaku, tapi sebentar lagi kami akan sampai ke gedung tempatku pemotretan.
"Sunbae, sebenarnya kita akan kemana?" tanya gadis itu menatapku dengan tatapan lelahnya.
Aku tidak tahu apa yang membuat gadis itu kelelahan, entah apa yang gadis itu kerjakan kemarin sampai raut lelahnya menghiasi wajah cantiknya. Aku mencoba meraih kepalanya untukku usap, siapa tahu akan sedikit membaik untuknya bukan? Aku tidak tega melihatnya seperti ini.
Sedikit lagi tanganku akan mendarat tapi gadis itu sudah berdiri. Ya kami menggunakan jasa bus lagi karena seperti alasan Hayfa waktu itu, ramai dan lagi lebih hemat. Hayfa dan aku duduk dikursi belakang dengan jarak satu kursi dan untungnya bus hari tidak terlalu ramai sehingga aku tidak terlalu terganggu.
"Bus sudah berhenti." ucapnya berjalan mendahuluiku. Tanganku yang masih melayang langsung mengepal, memasukkannya dalam saku jeansku lalu tersenyum kaku. Padahal sedikit lagi, keluhku.
***
Aku melirik geli kearah Hayfa melalui kaca rias, gadis itu tidak berhenti merengut dan menatap kesal ke arahku. Ya sejak tahu bahwa gadis itu aku ajak untuk ke pemotretan, gadis itu tidak henti-hentinya mengomeliku. Aku terkekeh saat Hayfa mendengus lalu menatap kearah lain saat tidak sengaja menatap diriku sedang tersenyum geli kearahnya.
Begitu hair stylist selesai menata rambutku, aku langsung berjalan kearah Hayfa duduk menunggu, arah pandang gadis itu kearah para kru yang sibuk menata ruangan ini. Hayfa masih belum sadar jika aku sudah berdiri didepannya.
Aku berdehem cukup keras membuat gadis itu terlonjak kaget lalu menatap kearahku. Aku tersenyum, mulut gadis itu seperti akan mengatakan sesuatu tapi langsung tertutup diam dan menunduk dan menggumamkan sesuatu.
Aku lagi-lagi terkekeh melihat tingkahnya. "Apa aku sangat tampan sampai membuatmu tidak bisa bersuara dan hanya menunduk?"
Hayfa diam menunduk, tatapanku mengarah ke tangan gadis itu memerah karena sejak tadi ia memainkannya. Aku tidak bodoh, walaupun dia menunduk, aku tahu gadis itu pasti tengah menahan gugup dan malu. Ah aku jadi semakin ingin menjahilinya, mungkin saja dia akan meledakkan diri saking malunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Islammu Maharku (Sudah Terbit)
SpiritualVersi Revisi ada dibuku **** "Aku mencintaimu, tapi kenapa kau menolakku? Aku tampan, pintar, populer dan aku bisa melakukan apa pun dengan mudah. Apa yang kurang dariku?" -Zhang Yi "Kau sangat tampan. Wanita mana pun jika dijadikan kekasih olehmu m...
